Sabtu, 27 Agustus 2022

KEHIDUPAN TEOKRATIS DALAM KITAB ULANGAN (1)

 

Latar Belakang

Jauh sebelumnya, Allah telah memberikan janji berkat kepada Abraham, berupa tanah Kanaan. Janji ini bersifat abadi (dilihat dari sudut pandang Allah) (Kej 12:7; 13:15, 18-21). Tetapi rencana Allah untuk menggenapi janji-Nya kepada Abraham melibatkan keturnan Abraham, yaitu Israel (lht. Ul 5:2-3). Oleh sebab itu, dalam Kitab Ulangan, Allah mengkat perjanjian ini dengan keturunan Abraham, bahwa merekalah yang akan mewarisi janji itu. Karena itu, di sini suatu kehidupan yang bersifat Teokratif diatur.

PIDATO PERTAMA (UL 1:6-4:43).

Dalam Kitab Ulangan, Allah memimpin umat-Nya (Teokrasi) menuju tanah tanah perjanjian melalui seorang Hamba, yaitu Musa. Allah berfirman kepada hamba-Nya dan hamba Tuhan itu berbicara kepada umat Allah yang dipimpin sebagaimana Allah berbicara kepadanya. “Pada tanggal  satu bulan sebelas tahun ke empat puluh bicaralah Musa kepada orang Israel sesuai segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya demi mereka.” (Ul 1:3).

Perintah yang diberikan Tuhan melalui hamba-Nya kepada umat Allah adalah: “Majulah, berperanglah, pergilah, ketahuilah Aku telah menyerahkan negri itu kepadamu; masukilah; dudukilah negri yang dijanjilan Tuhan kepada nenek moyangmu.” (Ul 1:6-8).

Allah telah berjanji kepada umat-Nya, yang dikukuhkan dengan sumpah untuk memberikan suatu negri, yaitu tanah Kanaan itu kepada mereka, serta berkat yang berlimpah-limpah, namun umat Allah tidak boleh ragu atas apa yang Allah janjikan; takut kepada musuh, atau bermalas-malasan, melainkan harus berjuang untuk memperolehnya secara nyata.  Israel harus dengan berani maju untuk menaklukan Kanaan (Bil 13:17-21), yaitu Palestina dan akhirnya menaklukan segala orang di tanah Amori (Yos 24:15-18), untuk dapat memiliki apa yang telah dijanjikan Allah bagi mereka.

Para musuh Israel tidak akan dapat melawannya (Ul 7:2), sebab Allah menyertai dan menopang umat-Nya untuk menduduki semua yang telah Ia janjikan bagi mereka dalam kasih karunia-Nya. Jadi Allah menetapkan suatu cara bagi umat-Nya, yaitu Israel akan menuntut haknya atas Kanaan dengan menghalau keluar atau menggantikan penduduk-penduduknya yang mendahului mereka, baik dalam penaklukan maupun dalam pewarisan.  

Strategi Untuk Menduduki Tanah Kanaan

1.      Keteratuan Dari Dalam

Strategi pertama yang digunakan pemimpin umat Allah agar dapat memimpin umat Allah menuju perjanjian Allah adalah, membuat keteraturan dari dalam kelompok umat Allah itu sendiri. Pada waktu hamba Tuhan itu tidak mampu memikul tanggungjawab untuk memimpin umat Allah secara sendirian, maka ia membuat pendelegasian dengan mempercayakan sebagian tanggungjawab itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yakni orang yang  bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, untuk mengepalai umat Allah. (Ul 1:12-13). Pendelegasian ini dianjurkan oleh Yitro, mertua Musa (Kel 18:19).

Orang-orang yang dipercayai untuk mengepalai uma Allah, harus bertindak sebagai pemimpin atau pengadil yang adil. Mereka harus menyelenggarakan keadilan, menghukum pelanggaran, mempertahankan kebenaran, menuntut kejujuran yang sungguh-sungguh dan keadilan tanpa memandang bulu dan tanpa rasa takut terhadap siapapun, “sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah”. (Ul 1:17).

2.      Mengintai Tanah Perjanjian

Pemimpin umat Allah mengutus para pengintai untuk mengintai negri yang akan mereka masuki. Berdasarkan pengamatan mereka, maka sebagian di antara mereka memberikan informasi yang benar bahwa negri itu baik (Ul 1:25), sedangkan sebagian lagi mengatakan kabar busuk bahwa tidak mungkin umat Allah dapat masuk ke sana, sebab situasi di kota itu sukar untuk bisa  dihadapi (Ul 1:28). Hal ini menjadikan umat Allah tawar hati dan akibatnya, umat Allah menentang titah Tuhan Allah dengan jalan tidak mau berjalan atau maju menuju tanah perjanjian itu. Mereka menggerutu di dalam kemah-kemahnya dan menganggap Allah bermaksud membinasakan mereka dengan jalan memimpin mereka keluar dari Mesir untuk menyerahkan mereka kepada tangan para musuh mereka. (Ul 1: 26-27).

Namun pemimpin umat Allah, menguatkan hati mereka dengan mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya Tuhan-lah yang memimpin umat-Nya secara langsung: “Janganlah gemertar, janganlah takut kepada mereka.; Tuhan Allahmu yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu, sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di mesir, di hadapan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa  Tuhan Allahmu mendukung engkau, seperti seorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.” (Ul 1:29-31).

Meskipun demikian, kekerasan hati umat Allah, menjadikan mereka tetap tidak percaya kepada Tuhan yang berjalan di depan dan memimpin mereka sepanjang perjalanan (Ul 1:32-33). Kurangnya kepercayaan terhadap janji Allah, menyebabkan miskinnya kemampuan untuk menjawab tantangan di hadapan kita.

Allah Murka Terhadap Umat-Nya Yang Tidak Taat


A.     Tidak Mau Maju

Umat Allah yang tidak mempercayai Kepemimpinan Allah melalui hamba-Nya, sehingga menggerutu atau bersungut-sungut dan tidak mau maju untuk menduduki tanah perjanjian itu, dimurkai oleh Allah. “Ketika Tuhan Allah mendengar gerutumu itu, Ia menjadi murka” (Ul 1:34). Murka Ilahi adalah salah satu sifat Allah yang mempertahankan hak-hak-Nya (Kel 20:5 “Allah yang cemburu”).

 

Akibat Murka Allah:


1. Allah bersumpah bahwa satu orang saja pun di antara mereka yang tidak percaya, tidak      akan melihat negri yang baik, yang telah dijanjikan itu (Ul 1:35). Mereka akan dipunahkan        Allah di padang gurun, tanpa melihat, apalagi memasuki tanah perjanjian itu.


2. Bahwa hanya Kaleb bin Yefune, seorang yang dengan sepenuh hati mengikut Tuhan,            dialah berserta anak-anaknya, yang akan memasuki tanah perjanjian itu (Ul 1:36).


3. Pemimpin yang memimpin umat Allah, juga ikut dimurkai Allah dan tidak dijinkan untuk      masuk tanah perjanjian itu. “Juga kepadaku Tuhan murka oleh karena kamu, dan berfirman:       Juga engkau tidak akan masuk ke sana.” (Ul 1:37). Allah memurkai Musa, karena Musa              menunjukkan kemarahannya terhadap bangsa Israel yang keras hati. Pemimpin yang                marah karena kesalahan anggotanya, bukan berarti ia tidak bersalah di hadapan Allah.


4. Musa, hamba Allah yang dipilih untuk memimpin umat Allah atas nama Allah, digantikan      oleh pelayanannya, yaitu Yosua. Yosualah yang akan memimpin umat Allah untuk masuk          ke  tanah perjanjian itu (Ul 1:38). Allah tidak mengandalkan manusia untuk memimpin 

umat-Nya. Saat seseorang yang dipakai Allah menjadi tidak taat, Allah dapat 

mengantikannya dengan orang lain, sama seperti Raja Saul diganti oleh Daud dan 

Musa diganti oleh Yosua.


5. Umat Allah dimurkai dan tidak masuk tanah perjanjian Tuhan, namun keturunan mereka diperkenanankan oleh Allah untuk memasuki tanah perjanjian itu (Ul 1:39). Manusia bisa menggalkan dirinya dari rencana Allah, tetapi rencana Allah baginya tidak dapat gagal. Jika seorang ayah tidak taat kepada Allah dan menjadi gagal, maka anak-anaknya, serta cucu-cucunya yang taat kepada Allah, bisa menggenapi rencana Allah dalam hidup mereka.


6. Allah menuntun umat Allah melalui jalan yang lebih sulit lagi (Ul 1:40). Akibat murka Allah, maka Allah memerintahkan hamba-Nya untuk membawa  umat Allah ke padang gurun (tempat kekeringan) dan ke arah laut Taberau (jalan yang terhimpit di dalam kesulitan).

B.     Terlalu Berani Untuk Maju

Setelah umat Allah diperingatkan mengenai ketidak taatannya terhadap Allah dengan jalan mengeraskan hati dan tidak mau maju untuk berperang dan menduduki tanah perjanjian itu, maka umat Allah berbalik dan bertobat (Ul 1:41).

Dalam pertobatannya, mereka menjadi “kebablasan”. Mereka berlaku terlalu berani untuk maju dan berperang. Padahal, melalui hamba-Nya, Allah memerintahkan agar mereka jangan maju untuk berperang, sebab Allah tidak ada di tengah-tengah mereka (Ul 1:42).

Akibat terlalu berani :

1. Mereka menentang titah Tuhan (Ul 1:43)

2. Mereka diserbu dan dikejar-kejar oleh musuh (Ul 1:44)

3. Mereka kalah (Ul 1:44)

4. Mereka menangis di hadapan Tuhan (Ul 1:45)

5. Tuhan tidak memberi telinga untuk mendengarkan mereka (Ul 1:45b)

6. Mereka dibuat mengulang kembali dan berlama-lama tinggal di Kadesh (Ul 1:46). Kadesh adalah tempat perhentian pertama bagi perjalanan umat Allah dari Sinai. Dari situlah penyelidikan dikirim ke Kanaan dan ke situlah mereka kembali lagi (Bil 12:16;13:26).

Taat pada Tuhan, tidak melulu harus maju, tetapi juga harus menahan diri untuk tidak mendatangi tempat-tempat yang dilarang oleh Tuhan (Bdk Maz 1:1).

Kesimpulan

Gagasan tentang perjanjian, menuntut ketaatan yang sempurna, serta penyerahan dari pihak umat Allah kepada kehendak Allah sebagai pihak yang berjanji. Penghukuman Allah terhadap Israel atas ketidak-taatan terhadap perintah Allah melalui hamba-Nya, adalah petunjuk tentang jalan yang Allah kehendaki bagi umat perjanjian Baru, bahwa jalan menuju kerajaan sorga harus ditempuh dengan Iman kepada Allah; penyerahan diri kepada kehendak Allah dan ketaatan pada perintah-perintah Allah. 


Oleh: Ps. Ayub Melkior, S.Th


Tulisan ini memiliki Hak Cipta, dan tidak diperkenankan mengambil, mengutip atau mengcopi, tanpa mencantumkan nama penulis atau sumber penulisan.


Rabu, 21 Februari 2018

5 BUKTI YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN

Satu:
Dia tidak berasal dari benih laki-laki, melainkan langsung dari Allah.

Di mana-mana yang namanya Manusia, lahir dari Mama dan Papa. Tapi Yesus beda. Dia memang pernah ada di dalam rahim Maria. Tapi bukan dari benih manusia, melainkan dari atas, yaitu Allah.

Malaikat Gabriel mengatakan: “Dari Roh Kudus” (Mat 1:20). Dan Ia sendiri mengatakan: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” (Yoh 8:23).

Itulah sebabnya dari dulu sampai sekarang, tidak pernah ada satu manusia yang berani-beraninya mengacungkan tangan dan berkata: “Aku ayah-Nya Yesus”. Tidak ada! Kecuali suatu suara dari Sorga yang mengatakan bahwa: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (Mat 3:17).

Tetapi mungkin Anda berkata: “Kalau begitu berarti Adam juga Tuhan dong, karena Adam juga tidak berasal dari benih manusia.”

Baik-baiklah memperhatikan bahwa: Adam itu dibuat atau dicipta (Kej 1:27); sedangkan Yesus itu dikirim atau dikaruniakan (Yoh 3:16).
 
Jadi bukti pertama bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan ialah: Dia tidak berasal dari benih manusia, melainkan langsung dari Allah.


Dua: 
Dia Tidak Berdosa.

Semua kita pernah jatuh dalam pencobaan dan berbuat dosa, bahkan malaikat-malaikatpun pernah (lht 2 Petr 2:4). Tetapi Yesus, satu kali saja pun Ia tidak pernah berbuat dosa. 

Murid yang bergaul dengan-Nya siang-malam mengatakan: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya (1 Petr 2:22). Lainnya berkata: “Kristus adalah benar” (1 Yoh 3:7); “Dia tidak mengenal dosa” (2 Kor 5:21). 
Bahkan diteliti sedemikian rupa oleh Pilatus pun, hasilnya Pilatus menyimpulkan: “Aku tidak mendapati KESALAHAN APAPUN pada orang ini.” (Luk 23:4). dan tentara Romawi mengakui: “Sungguh, Orang ini adalah orang benar!” (Luk 23:47). 

Dia bahkan menantang para Ahli Taurat dan orang Farisi: “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yoh 8:46).


Jadi, fakta bahwa Yesus tidak pernah berdosa dalam hal apapun, merupakan bukti tak terbantahkan bahwa Dia adalah Tuhan. Bayangkan, “Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr 4:15). Dan Anda tahu, bahwa: Hanya Tuhan, yang tidak dapat dicobai oleh yang jahat. Kitab Suci berkata: “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat” (Yak 1:13).


Tiga: 
Dia bisa mengampuni dosa manusia (dalam arti menghapuskannya untuk selama-lamanya).
 
Di mana-mana manusia hanya bisa memaafkan kesalahan temannya, tetapi hanya Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa manusia. 

Nah, Kalau Yesus bukan Tuhan, apa wewenangnya sehingga Ia bisa menghapus dosa-dosa manusia? Dia berkata: “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini, Anak Manusia berkusa mengampuni Dosa” (Mat 9:6). Ini tak hanya diklaim oleh-Nya, tetapi Dia mempraktekkannya di hadapan umum. Kepada seorang perempuan yang berdosa: “Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni.” (Luk 7:48).

Nah, siapa gerangan yang berani-beraninya mengapus dosa manusia kalau bukan Tuhan? Dia Tuhan!


Empat:
Dia tidak pernah bilang “Aku bukan Tuhan” baik dengan sikap-Nya maupun dengan perkataan-Nya.
 
Dalam Alkitab, ada berkali-kali orang-orang memanggil Dia “Tuhan” dan sujud di kaki-Nya seraya menyembah Dia sama seperti orang sujud menyembah Tuhan. 

Nah, seharusnya, kalau Dia bukan Tuhan, Dia harusnya bersikap seperti manusia rendah hati lainnya dan berkata: “Hei, jangan menyebut aku Tuhan sebab Aku bukan Tuhan” atau “Jangan menyembah Aku seperti itu, sebab Aku bukan Tuhan.” 

 Tetapi, faktanya Dia tidak pernah menolak mereka. Malahan, Dia menerima sebutan dan sembah sujud mereka.


Sementara itu kalaupun Anda baca Kitab Perjanjian Baru dari Matius sampai Wahyu, Anda tidak akan pernah menemukan satu ayat saja pun yang Yesus katakan: “Aku bukan Tuhan”.
 
Jadi, fakta bahwa Dia menerima sebutan “Tuhan” maupun sembah sujud manusia kepada-Nya, merupakan bukti kuat bahwa memang Dia adalah Tuhan.


Lima:
Dia bilang Dia adalah Tuhan


Manusia biasa bisa ngaku-ngaku Dia polisi, tentara, kepala Desa dan sebagainya. Tetapi sangat ketakukan kalau mau mengaku: “Akulah Tuhan”. 

Tapi Yesus, Dia berkata: “Memang Akulah Tuhan” (Yoh 13:13). Mungkin ada orang berkata: "Ah...itu maksudnya Dia tuan di bumi." Tentu, saya juga paham istilah kata "Kurios" dari sejarahnya sampai penggunaannya. Tapi saat Yesus berkata "memang Akulah Tuhan" Dia betul-betul mengklaim diri-Nya bahwa Dia TUHAN atas kerajaan Allah.


Kita mau bilang apa lagi kalau Dia sendiri mengklaim diri-Nya: "MEMANG AKULAH TUHAN". Seharusnya, ini mengakhiri segala keragu-raguan, kecuali kita memang degil hati dan tidak mau percaya.
 
Dan kalau Anda sudah ada di dalam "iman Kristen" Anda akan mengetahui lebih banyak lagi bukti-bukti bahwa memang Yesus Kristus itu adalah Tuhan.


Kesimpulan 
 
Jadi, kalau sampai ada yang merasa ragu-ragu (mis: Non Kristen), untuk percaya apakah Yesus Kristus itu Tuhan atau bukan, sebenarnya masalahnya bukan di Yesus nya yang kurang jelas, tapi di cara berpikir Anda sendiri: Yang hanya ingin 'mengetahui separuh' tentang Yesus Kristus dan menolak yang separuhnya.



Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan juga saya.


Oleh:
Ps. Ayub Melkior




3 ALASAN TIDAK BOLEH BERCERAI DENGAN ALASAN APAPUN


Seri 1
Bacaan: MATIUS 19:3-6 

 
Dalam bacaan ini, kita menemukan pendapat Kristus tentang Perceraian. 
Pendapat Yesus yang muncul dalam perihal ini, merupakan pernyataan kehendak Allah atas hukum perkawinan di antara manusia. Kita melihat dalam teks ini bahwa ada beberapa masalah yang dipertanyakan oleh kaum Farisi berkaitan dengan perkawinan:


Pertama: 
Orang Farisi itu bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya? (Ay 3).

Dalam kesempatan lain, ketika berkhotbah di Galilea, Yesus telah mengemukakan pandangan-Nya mengenai masalah tersebut, bahwa Ia sangat menentang kebiasaan umum orang untuk bercerai (Lihat Matius 5:31-32).


Namun orang Farisi mengajukan pertanyaan ini untuk menjebak/mencobai Yesus. Bila mana Yesus menjawab, maka mereka dapat menggunakan perkataan-Nya sendiri untuk menyerang Dia dan menghasut orang banyak untuk menentang Dia.


Dalam akal bulus mereka: Jika Yesus berkata Perceraian bertentangan dengan hukum Taurat, maka mereka akan menyebut Dia penentang Hukum Musa, sebab dalam hukum Musa, yang mereka ketahui hal itu diperbolehkan. Sebaliknya, jika Yesus berkata Perceraian diperbolehkan, maka mereka dapat menyerang ajaran Yesus, sebagai ajaran yang cacat, sebab ajaran yang demikian bukanlah yang berasal dari Mesias.


Kedua: 
“Dengan alasan apa saja”. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan Istrinya dengan alasan apa saja? (ay 3)


Di sini permasalahannya adalah: Apakah perceraian itu boleh dilakukan karena suatu alasan tertentu? Apakah perceraian boleh dilakukan dengan alasan apa saja seperti itu? Apakah seorang suami boleh menceraikan istrinya yang telah dinikahinya bertahun-bertahun asalkan ada suatu alasan?

 
Hal-hal seperti itulah yang dimaksudkan orang Farisi di dalam muatan pertanyaan mereka.

Mereka melakukan hal ini karena menganggap Yesus telah mengekang kebebasan mereka dalam hal-hal yang sudah menjadi kesukaan mereka. Harapan mereka di balik ini adalah, kiranya Yesus bisa bersikap melunak dengan hukum-hukum-Nya terhadap cita rasa, atau kesukaan orang Farisi, khususnya dalam hal perceraian.


Lalu Apa jawab Yesus?

Dengan mengetahui bahwa Ia sedang dijebak melalui pertanyaan itu, maka Yesus memberi jawaban yang tidak langsung, tetapi mengena.


Di sini Ia mengemukakan prinsip-prinsip fundamental, yang tidak dapat disangkal bahwa manusia yang sesuka hati melakukan perceraian, sehingga membuat ikatan perkawinan seolah-olah bukan ikatan yang sakral dan suci, sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam pandangan Allah.


Ada tiga alasan, yang dikemukakan Yesus sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan: Apakah perceraian boleh dilakukan dengan alasan apa saja?


Pertama: Penciptaan Manusia

Hal pertama yang Yesus kemukakan adalah:
“Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula, menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? (Mat 19:4)


Dengan ini Kristus mengajak mereka untuk berpikir berdasarkan Firman Tuhan,(sebab mereka tahu Firman Tuhan) mengenai penciptaan Manusia, yaitu:


- Oleh Siapa Manusia dicipta?

Yesus menegaskan: “Ia yang menciptakan Manusia sejak semula, menjadikan mereka laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27, 5:2).


Tegas dan jelas bahwa Tuhan Allah yang menjadikan Manusia. Bukan alam. Allah yang Mahakuasa atas segala yang ada dan yang tidak bisa dilawan oleh apapun, Dialah yang menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.


- Bagaimana Manusia dicipta?

Cara Dia menjadikan manusia: Adam diambil dari debu tanah, sesudah itu Hawa diambil dari tulang rusuk Adam. Dia menjadikan wanita dari sumber yang sama, yaitu pria, namun dibentuk berbeda dengan pria sehingga menjadi “sepasang” yang pas atau sepadan.


Dengan demikian, pria adalah pasangan yang tepat untuk wanita, dan wanita adalah pasangan tepat bagi pria. Lain dari itu, tidak ada satu pun di antara ciptaan Allah yang bisa menjadi pasangan yang tepat dengan pria maupun wanita.


Sampai di sini, orang Farisi sudah bisa menyimpulkan bahwa: “Kalau memang ini adalah yang pas, lalu mengapa harus dibuang”

Nah, berdasarkan kesepadanan atau kecocokan ini, Yesus melanjutkan mengenai alasan perkawinan: “Sebab itu”.....
 
Ungkapan “Sebab itu” mengacu kepada “Kesepadanan” atau kecocokan yang telah diterangkan oleh Yesus sebagai alasan bagi tindakan selanjutnya, yaitu: “laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (ay 5).


Jadi oleh karena pria adalah “pasangan” yang tepat bagi wanita, maka pria akan pergi kepada pasangannya yaitu perempuan. Dan perempuan itu akan menjadi “pasangan” yang sepadan terhadap laki-laki.Tidak bisa yang lain.


Di taman Eden, tindakan ini disebut: “dibawa kepada”. Kitab Kejadian 2:22 mencatat: “Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan lalu dibawa-Nyalah kepada manusia itu.”


Sedangkan di abad ini, kita menyebut tindakan itu “Pernikahan Kudus”. Dimana Laki-laki dan perempuan, kedua mempelai dipersatukan dengan sebuah perjanjian Kudus, yang diikrarkan oleh mereka di hadapan Allah, sesudah itu mereka diberkati oleh Pendeta dan selanjutnya kedua belah pihak disebut: “Sudah menikah”; “Sudah berkeluarga” atau “Suami-istri”.


Melalui perjanjian nikah itu, maka mereka yang adalah pria dan wanita, yang berasal dari sumber yang sama, namun dibentuk secara berbeda, “dipersatukan”. Yesus katakan kepada orang Farisi itu: “sehingga keduanya menjadi satu daging.” (ay 5).


Kata “Sehingga” menunjuk kepada hasil yang ditimbulkan dari perjanjian nikah atau yang dalam taman Eden disebut: “dibawa kepada”, bahwa dengan adanya perjanjian itu (perjanjian pernikahan) pria dan wanita (yang menikah) adalah satu daging di hadapan Allah.


Istri Anda yang dengannya Anda berjanji dan diberkati dalam pernikahan kudus adalah belahan jiwa Anda. Suami Anda yang dengannya Anda berjanji dalam pernikahan kudus adalah belahan hati Anda. Kalian dua adalah “Satu daging” (Ef 5:31).


Adam tahu itu, sehingga ia berkata: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” (Kej 2:23). Paulus tahu itu, sehingga ia memerintahkan suami-suami untuk mengasihi Istri tidak kurang dari dirinya sendiri, sebab memang dia adalah “dirimu sendiri”; dan “tubuhmu sendiri”. Katanya: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” (Ef 5:28).


Nah, sampai di sini orang Farisi paham bahwa kalau suami-istri adalah “satu daging”, bolehkah yang satu menceraikan yang lain? Bolehkah Hati berkata kepada tangan: “Karena kamu tidak merah seperti Aku, kita bercerai”? Bolehkah kaki berkata kepada kepala “Karena kamu tidak menyentuh tanah seperti aku, jadi kamu bukan bagian dariku”? Bolehkah mata berkata kepada telinga: “Karena kamu tidak melihat seperti aku, maka kita tak perlu bersama lagi?”


Tidak pernah orang berkata kepada Telunjuknya: “Karena kamu terluka, jadi kamu bukan telunjukku!”. Atau berkata kepada kepalanya: “Karena kamu memutih, maka kamu bukan kepalaku lagi!”


Sebaliknya, tetap menerimanya dan mengasihinya sebagai bagian dari satu-kesatuan tubuh. “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya.” (Ef 5:28-29).


Kenyataan di hadapan Allah bahwa suami-istri adalah “Satu daging”, menjadi alasan pertama dalam rumah tangga untuk tidak ada kata: “Kita bercerai, karena kamu A, B, C, D, dst...” Andaikan seorang laki-laki menceriakan istrinya, maka itu berarti ia membuang "bagian" dari tubuhnya sendiri yang telah diberikan kepadanya oleh Allah.


Kedua: Prinsip Persatuan

Setelah alasan pertama itu dijelaskan, Yesus menyimpulkan: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat 19: 6).


Di sini Yesus menyatakan kepada orang Farisi prinsip mendasar dari sifat hubungan perkawinan, bahwa perkawinan bersifat “persatuan” dan bukan “kemiripan”.

Orang Farisi tahu bahwa, sifat dari hubungan anggota keluarga adalah “kemiripan”: Wajahnya mirip dengan orang tua, golongan darahnya mirip dengan orang tua, pembawaannya mirip dengan orang tua, kelakukannya mirip dengan orang tua, dst.... Karena itu ia disebut “Anggota keluarga”.


Tetapi, hubungan perkawinan tidak bersifat kemiripan, melainkan persatuan. Laki-laki yang dibentuk oleh Allah berbeda dengan perempuan, pergi kepada perempuan yang juga berbeda dengan laki-laki, dan menikah, bukan supaya mirip, melainkan supaya dipersatukan.


Kedua mempelai menikah bukan untuk disama-ratakan, melainkan untuk disatukan. Suami dan istri hidup bersama-sama bukan untuk dimiripkan, melainkan untuk diharmonisasikan. Pria dan wanita diikat menjadi satu melalui pernikahan bukan untuk disama-ratakan, melaikan untuk diseimbangkan.


Nah, orang Farisi semakin diterangi bahwa kalau yang Allah kehendaki dalam hubungan suami-istri adalah “Persatuan” dan bukannya “Kemiripan”, bolehkah yang satu menceraikan yang lain karena alasan perbedaan? Bolehkah Suami berkata kepada Istri: “Karena kamu tidak sama seperti aku, maka kita bercerai?” Bolehkah Istri berkata kepada suami “Karena kamu berbeda dengan aku, maka kita berpisah saja”? Bolehkah kedua pasangan berkata: “Akhiri saja hubungan ini karena kita tak pernah sama rata?”


Tuhan tahu bahwa Kalian dua berbeda, karena Dia yang membuat Anda laki-laki dan Dia juga yang membuat Istri Anda perempuan. Dia tahu bahwa Suami Anda dari debu tanah dan Anda dari tulang rusuk. Dia tahu bahwa sistem-sitem tubuh kalian berbeda. Dia tahu bahwa tempramen kalian berbeda. Dia tahu bahwa cara kalian merespon suatu hal tidaklah sama.


Namun Dia mempersatukan kalian berdua melalui pernikahan Kudus supaya kalian diseimbangkan. Dia ingin kalian diharmonisasikan bukan disamakan.


Jadi kenyataan bahwa Allah mempersatukan Anda dan istri bukan untuk disama-ratakan melainkan untuk diharmonisasikan, adalah alasan kedua seorang manusia tidak dapat berkata kepada pasangannya: “Pergilah sudah karena kita berbeda!", melainkan sebaliknya: “Aku sangat butuh kamu karena kita berbeda.”


Ketiga: Hukum Persatuan


Sesudah Yesus memaparkan kedua prinsip di atas, Ia melanjutkan: “Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Ay 6b).


Di sini, Yesus mengajak orang Farisi untuk berpikir mengenai dasar hukum di dalam hubungan suami Istri, bahwa hubungan keanggotaan keluarga dijadikan secara alamiah, tetapi hubungan suami-Istri dijadikan secara Ilahi. Yang “memiripkan” ayah dan anak adalah genetik, tetapi yang menyatukan suami dan istri adalah Allah. Yesus berkata: “dipersatukan oleh Allah”; Salomo berkata: "Dikaruniakan oleh Tuhan" (Ams 19:14); dan "diperkenan oleh Tuhan" (Ams 18:22).


Jadi perkawinan adalah sebuah ikatan perjanjian yang melibatkan kedua mempelai dan Allah. Apa yang Kalian ucapkan pada hari pernikahan Kudus, itu terjadi di hadapan Allah, dan karena itu berlaku sebagai ikrar yang terikat di antara Anda dan pasangan Anda sampai ajal menjemput. Isi perjanjian itu bukanlah bahwa dalam segala keadaan Anda akan selalu membahagiakan, melainkan entahkah dalam suka maupun duka kalian akan tetap bersama-sama.


Selama jantung Kalian masih berdetak, Anda terus terikat dalam hukum Allah sebagai suami yang sah dari istri Anda, dan selama istri Anda masih bernapas, dia terus terikat di dalam hukum Allah sebagai istri sah dari Anda. Paulus menerangkan ini dengan sangat bagus: “Seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu” (Rom 7:2).


Jadi Istri Anda yang dengannya Anda berjanji dalam pernikahan kudus, adalah “teman sekutumu dan istri seperjanjianmu” (Maleakhi 2:14); "seumur hidup" (1 Kor 7:39).

Sesudah Yesus memaparkan ketiga alasan ini, maka Dia tiba pada jawabannya: “Tidak boleh diceraikan”.


Jawaban Kristus di sini, berlaku atas dua unsur utama yang dipertanyakan oleh orang Farisi, yaitu:

1. Bolehkah seorang menceraikan istrinya- yang telah dinikahinya bertahun-tahun? Jawab Yesus: “Tidak boleh diceraikan”.

2. Bolehkah orang menceraikan istrinya asalkan ada suatu alasan apa saja? Jawab Yesus: “Tidak boleh diceraikan”.


Jadi tidak ada cela yang bisa dimanfaatkan seseorang untuk menceraikan suami atau istrinya selagi masih hidup.


(Ayat 7-9 akan menyusul sebagai Seri 2 : "BERCERAI "KECUALI KARENA ZINAH"? APA MAKSUDNYA?")


Terimakasih kiranya menjadi berkat bagi kita semua.


Oleh:
Ps. Ayub Melkior

Selasa, 22 Agustus 2017

TIGA (3) ALASAN MEMATUHI PEMERINTAH


Bacaan: Roma 13:1-7

Tiap-tiap orang, yaitu pria maupun wanita, remaja maupun orang dewasa, di desa maupun kota, petani maupun pengusaha, haruslah secara sendiri-sendiri, takluk kepada pemerintah, yaitu jejeran pemerintah negara, baik itu pemerintahan Eksekutive; Legeslatif; maupun Yudikative. Haruslah ia menghormati mereka, mendengarkan mereka, mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh mereka dan dengan senang hati memberi dirinya untuk mengikuti arahan-arahan itu.

Mengapa?

Pertama: Karena pemerintah ditetapkan oleh Allah

Tak ada pemerintah yang  menyusup atau jadi-jadian tanpa seijin Tuhan Allah. Semua pemerintah, baik pemerintah eksekutive, legeslative, maupun Yudikative,  ditetapkan oleh Allah. “Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Rom 13: 1). 

Tuhan Allah yang tidak kelihatan itu, Dialah yang memilih mereka; menempatkan mereka di atas kita dan menugaskan mereka supaya memerintah atas kita. Dia juga yang memberi mereka hikmat, pengertian dan kebijakan-kebijakan, untuk memutuskan dan mengeluarkan peraturan-peraturan, untuk mengatur-atur  kita.


Karena itu, sudah seharusnya kita menghormati, mematuhi dan menuruti peraturan-peraturan serta keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintah bagi kita.  Barangsiapa melawan pemerintah, yaitu menolak keputusannya, menentang aturan-aturannya, berbantah dengannya, atau pun diam-diam meremehkan mereka dan mengabaikan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah, maka sejatinya ia  sedang melawan ketetapan Tuhan Allah. “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah” (Rom 13:2a). Ia bukan saja menentang si A atau si B, tetapi melawan Tuhan Allah semesta alam! Dan seluruh jenis makhluk hidup tahu bahwa jika kita melawan ketetapan Allah, maka kita mendatangkan murka Allah atas diri kita sendiri. Orang-orang menyebutnya: “Cari hal”. Alkitab katakan: “Siapa yang melakukannya mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (Rom 13:2b). Kita menyusahkan diri sendiri bila membangkang melawan pemerintah, walaupun itu hanyalah ketua RT dan peraturan di Dusun.
 

Kedua: Karena pemerintah adalah hamba Allah
“Karena pemerintah adalah hamba Allah  untuk kebaikanmu.” (Rom 13:4a).

Bukan hanya Pendeta, Pastor, Ustad dan rohaniawan lainnya, yang merupakan hamba Allah. Presiden dan seluruh jejeran pemerintahan sampai ke tingkat kelurahan bahkan RT, juga adalah hamba-hamba Allah, sama seperti malaikat-malaikat yang melayani Allah. Mereka adalah alat-alat Tuhan, pertama-tama untuk kebaikan kita, dan  yang kedua untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. “Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” (Rom 13:4b). Sehingga, melalui mereka kita dilindungi, kita didisplin, kita diarahkan kepada apa yang baik, dan dengan demikian kita diuntungkan amat banyak.


Karena itu, kita perlu menundukkan diri dan mematuhi mereka, bukan saja karena mereka adalah hamba Allah yang dipakai Allah untuk membalaskan murka-Nya atas kita, tetapi terlebih-lebih demi kebaikan diri kita sendiri.


Ketiga: Karena kita punya hati nurani
“Sebab itu, perlu kita menaklukan diri, bukan saja oleh kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (Rom 13:5).


Kita bukan tumbuh-tumbuhan yang tak memiliki nati nurani. Kita adalah manusia yang berperi kemanusiaan. Kita punya hati nurani, etika, moral, dan tatanan hidup.  Karena itu, sebagai manusia yang berperi kemanusiaan, sudah seharusnya kita patuhi peraturan-peraturan pemerintah, sebagai bagian dari suara hati nurani kita.

***
Jadi, taatilah keputusan, kebijakan dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemeritah. Sebab mereka berasal dari Allah dan menjadi hamba Allah untuk kebaikan-kebaikan kita dan bahwa kita adalah manusia memiliki peri kemanusiaan.


***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior*