Sabtu, 27 Agustus 2022

KEHIDUPAN TEOKRATIS DALAM KITAB ULANGAN (3)

 

PIDATO KEDUA (Ul 4:44-26:19)  


PERINTAH-PERINTAH DASAR 

“Inilah Hukum Taurat yang dipaparkan Musa kepada orang Israel. Inilah perigatan, ketetapan dan peraturan, yang dikatakan Musa kepada orang Israel.” (Ul 4:44-45).

Kesepuluh Hukum itu mewujudkan inti Hukum Taurat dan dasar perjanjian Allah dengan Israel.  Kesepuluh hukum itu merangkum kewajiban-kewajiban keagamaan,  dan sosial orang Israel, dan mewujudkan dasar yang dinyatakan bagi ketentuan-ketentuan baru yang akan diumumkan. Sepuluh hukum itu mengikat tingkah laku orang beriman.  Yesus menjadikan perintah-perintah itu sebagai suatu peraturan hidup, sebab Ia memerintahkan pemuda yang kaya untuk menuruti segala perintah Allah, jika Ia ingin masuk ke dalam hidup (Mat 19:17); dan Yesus mengakui  Dasa Firman itu sebagai perintah Allah yang dipertentangkan dengan adat istiadat manusia (Mat 15:3) dan sifatnya mengikat.  Hanya kasih karunia Allah dapat mencakapkan manusia untuk menurutinya; justru untuk tujuan inilah kasih karunia Allah diberikan. Demikianlah hukum dan kasih karunia dipersatukan.

1.      Mengasihi Tuhan

“Kasihilah Tuhan Allahmu...” (Ul 6:4). Umat Allah diperintahkan untuk mengasihi Allah. Caranya adalah: “Dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan.” (Ul 6:5). Alasan utama harus mengasihi Allah adalah:

-          Karena Tuhan itu Allah kita (Ul 6:4a)

-           Karena Tuhan itu Esa (Ul 6:4b).

-          Karena Tuhan itu cemburu (Ul 6:15)

Implikasi dari mengasihi Allah adalah:

a.       Tidak melupakan Dia (Ul 6:12)

b.      Takut akan Dia (Ul 6:13; 2; 24)

c.       Beribadah hanya kepada Dia (Ul 6:13b), tanpa mengikuti ilah lain (Ul 6:14).

d.      Tidak mencobai Dia (Ul 6:16)

e.       Bepegang pada perintah, peringatan, dan ketetapan-Nya (Ul 6:17)

f.        Melakukan yang benar dan baik di mata-Nya (Ul 6:18).

Sikap yang harus dikenakan dalam mengasihi Allah adalah:  Setia (Ul 6:3) dan berhati-hati (Ul 6:12).

Perintah untuk mengasihi Allah haruslah diperhatikan (Ul 6:6); diajarkan berulang-ulang (Ul 6:7); dibicarakan di mana-mana (Ul 6:7); dijadikan sebagai tanda (Ul 6:8); dan dituliskan (Ul 6:9).

Tujuan dari mengasihi Allah adalah:

-          Supaya baik keadaan kita dan supaya kita hidup serta berkembang (Ul 6:2, 3, 24).

-          Supaya jangan bangkit murka Allah terhadap kita (Ul 6:15b).

“Dan kita akan menjadi benar apabila kita melakukan segala perintah itu dengan setia di hadapan Tuhan, Allah kita seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.” Ul 6:25).

 

Panggilan Untuk Menyempurnakan Pemisahan

 

1.  Umat Allah harus menghalau bangsa-bangsa di Kanaan, yakni orang Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi, dan orang Yebus, dan memusnahkan mereka sama sekali sebagai  tindakan penyempurnaan atas pemisahan yang telah dilakukan Allah bagi mereka (Ul 7:1-3).  Alasannya adalah, karena apabil bangsa-bangsa itu dibiarkan, maka bangsa itu akan menjadi godaan bagi umat Allah untuk menyimpang dari pada Allah dan beribadah kepada ilahi lain. “Sebab mereka akan  membuat anakmu laki-laki mnyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada Allah lain, maka murka Tuhan akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.” (Ul 7:4).

2.  Umat Allah harus merobohkan mezbah-mezbah berhala; meremukan tugu-tugu berhala; menghancurkan tiang-tiang berhala, dan membakar habis patung-patung berhala. Semua benda-benda penyembahan berhala yang bersifat kedagingan di kanaan, harus dimusnahkan (Ul 7:5; 12:2-4).

Alasannya adalah, karena umat Israel adalah umat kesayangan Allah. Karenanya umat Allah tidak boleh dinodai oleh bentuk-bentuk pemujaan yang najis.

“Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan Allahmu, dari segala bangsa di muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” (Ul 7:6).

Dalam PB, kedua hal ini ditekankan bagi umat tebusan Kristus. Alkitab katakan: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah  (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup  di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” (Kol 3:5-8).

Musa memberitahukan bahwa kedua hal ini harus disadari dengan sungguh-sungguh sebab Allah itu setia, dan karena itu Dia akan menggenapi janji-Nya terhadap orang yang mengasihi Dia tetapi akan melenyapkan orang-orang yang menyembah berhala atau membenci Dia.

“Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya,  sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan." (Ul 7:9-11).

Paulus mengingatkan hal yang sama bahwa:

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah ? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” ( 1Kor 6:9-10).

Untuk bisa melihat janji-janji Allah digenapi dalam hidup kita dan menikmati kerajaan Allah, maka perbuatan daging yang sama dengan penyembahan berhala, harus benar-benar ditumpas habis.

KEWAJIBAN UMAT ALLAH

Berpegang kepada perintah Tuhan adalah kewajiaban umat Allah terhadap Allah. “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.” (Ul 11:1).

Dalam Ulangan, kata “kewajiban” hanya muncul  di sini dan berarti apa yang harus dijaga dan dituruti dalam hubungannya dengan Allah. Dalam kitab-kitab lain di Pentateukh, kata ini sering dipakai untuk kewajiban terhadap Kemah Suci (Ump Im 8:35).  Berpegang kepada perintah Tuhan berarti: Menaruh perintah itu di dalam hati dan jiwa, serta menjadikannya sebagai pertanda dan lambang yang dapat dilihat orang. “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dagimu.” (Ul 11:18). “Jadi kamu harus berpegang kepada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negri, ke mana kamu pergi mendudukinya.” (Ul 11:8).

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat 7:24-25). “ Dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka, suatu negri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” (Ul 11:9).


Janji Tuhan

 

1.      Tanah Kanaan

“Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir,  dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah,  yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit;  suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” (Ul 11:10-12).

2.      Berkat apabila Taat

"Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau  dan membuat engkau banyak;  Ia akan memberkati buah kandunganmu  dan hasil bumimu, gandum dan anggur  serta minyakmu,  anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.  Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. TUHAN akan menjauhkan segala penyakit  dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di Mesir  itu akan ditimpakan-Nya  kepadamu, tetapi Ia akan mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau.” (Ul  7:12-15).

Meskipun kasih itu tak bersyarat namun berkat-berkat itu tergantung dari ketaatan.


PERATURAN IBADAH

Masuknya Israel ke tanah Kanaan atau tanah Perjanjian itu, segera diikuti oleh pola pemerintahan baru di dalam negri itu. “Inilah ketetapan dan peraturan-peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan Tuhan, Allah nenek moyangmu, kepadamu, untuk memilikinya selama kamu hidup di muka bumi.” (Ul 12:1, 26:1).

1.      Di tempat yang ditunjukan Tuhan

Jika umat Allah menetap di negeri itu, kegiatan ibadah dan korban harus dipersembahkan di tempat khusus yang ditentukan oleh Allah.

“Tetapi tempat yang akan dipilih oleh Tuhan Allahmu dari segala sukumu sebagai kediamannya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah kamu harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihan, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. Di sanalah kamu makan di hadapan Tuhan, Allahmu dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala urusanmu engkau diberkati oleh Tuhan Allahmu.” (Ul 12:5-7, 13-14; 26-27).

Dalam Ul 27:5, Allah memerintahkan untuk mendirikan sebuah mezbah di gunung Ebal. Sesudah itu dalam beberapa abad, Silo menjadi tempat pilihan Allah, tetapi selama zaman pendudukan pertama, Sikhem adalah tempat kudus yang diakui (lht. Yos 8:30; 24:1).

2.      Jangan membuat penyembahan menurut pandangan sendiri.

Gangguan hidup akibat peperangan di seberang Yordan telah mempersukar penyembahan yang tertatur. Karena itu, umat Allah dilarang untuk menggunakan mezbah-mezbah milik pribadi bagi korban.

“Jangan kamu melakukan apapun yang kita lakukan di sini sekarang, yakni masing-masing berbuat segala sesuatu yang dipandangnya benar. Sebab hingga sekarang kamu belum sampai ke tempat perhentian dan ke milik pusaka yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Tetapi apabila nanti sudah kamu seberangi sungai Yordan dan kamu diam di negeri yang diberikan  TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki, dan apabila Ia mengaruniakan kepadamu keamanan  dari segala musuhmu di sekelilingmu, dan kamu diam dengan tenteram, maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. Kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, sebab orang Lewi tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama kamu.” (Ul 12:8-12).

3.      Jangan makan darah

“Tetapi engkau boleh menyembelih dan memakan daging sesuka hatimu, sesuai dengan berkat TUHAN, Allahmu, yang diberikan-Nya kepadamu di segala tempatmu. Orang najis ataupun orang tahir boleh memakannya, seperti juga daging kijang atau daging rusa; hanya darahnya janganlah kaumakan, tetapi harus kaucurahkan  ke bumi seperti air.” (Ul 12:15-16; Im 17:11).

Darah sebagai unsur vital dan lambang hidup (Ul 12:24). Karena itu diperintahkan untuk diperlakukan dengan hormat (lht. Kej 9:4-6; Ul 12:25), terlebih-lebih dalam hubungannya dengan perjanjian dan korban, suatu hal yang patut diperhatikan sebagai lambang pendamaian Kristus (Lht. Im 16:; Ibr 9:12-14; 1 Petr 1:18-19; 1 Yoh 1:7).

4.      Jangan memakan atau menggunakan sendiri persembahan persepuluhan.

“Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, karena segala usahamu.” (Ul 12:17-18).

Ketika Musa mengucapkan perkataan ini, asas persembahan persepuluhan telah diterima baik di Israel. Persembahan persepuluhan itu pertama-tama diberikan sebagai tanda terimakasih (Kej 14:20); tanda pengkhususan (Kej 28:22). Kemakmuran manusia adalah pemberian Ilahi dan dirawat atas nama Allah (Ul 8:18; Mat 25:14), karena itu, persembahan persepuluhan dan persembahan anak-anak sulung sapi dan kambing domba, diwajibkan (Ul 14:22 – harus benar-benar mempersembahkan persepuluhan- ), lainnya bersifat sukarela.

Persembahan persepuluhan merupakan milik dan hak Tuhan, karenanya harus digunakan atau dimakan di tempat yang Allah kehendaki dan bukan diberdayakan untuk kepentingan pribadi.

Kewajiban untuk mempersembahkan persepuluhan dimaksudkan sebagai perbuatan belajar untuk takut akan Tuhan.

“Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan persepuluhan dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan Tuhan Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu, dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar takut akan Tuhan, Allahmu.” (Ul 14:22-23).

5.      Jangan melalaikan pelayan Tuhan.

“Hati-hatilah supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu.” (Ul 12:19)

Orang Lewi adalah suku yang dipilih dan dipanggil secara khusus hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah (mandat Spiritual) (Ul 10:8-9; 18:5). Orang Lewi tidak mendapat bagian semacam warisan tanah (Ul 10:9; 18:1-2), tetapi orang Lewi menyebar di antara para suku di daerah sekitarnya (Ul 16:14). Karena itu, merupakan suatu kewajiban umat Allah untuk merawat orang-orang Lewi secara jasmaniah dan merupakan hak orang lewi terhadap kaum awam. “Inilah hak imam terhadap kaum awam” (Ul 18:3).

“Hasil pertama dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, dan bulu guntingan pertama dari dombamu haruslah kau berikan kepadanya. Sebab Dialah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala sukumu, supaya ia senantiasa melayani Tuhan dan menyelenggarakan kebaktian demi nama-Nya, ia dan anak-anaknya.” (Ul 18:4-5).

 Kewajiban umat Allah terhadap orang Lewi, ditekankan sekali lagi dalam Ul pasal 14: “Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu, janganlah kau abaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.” (Ul 14:27).

Dalam PB, hal yang sama ditekankan bahwa: “Dan baiklah dia yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.” (Gal 6:6).

Mengapa? Karena itu adalah haknya yang harus ia dapatkan. “ Paulus katakan:

“Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik! " Lembukah yang Allah perhatikan? Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? (1 Kor 9:8-12).

“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (1 Kor 9:13-14).

Kesimpulan

“Dengarkanlah baik-baik segala yang kuperintahkan kepadamu, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian untuk selama-lamanya, apabila engkau melakukan apa yang baik dan benar di mata TUHAN, Allahmu." (Ul 12:28).

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ul 12:32). Asas-asas yang diucapkan, menunjukkan bahwa kekudusan dalam hidup beragama, tidak dihasilkan dengan cara mengikut pola pikir yang dianggap benar, melainkan menyesuaikan perilaku dengan ucapan yang keluar dari mulut Allah.

Dalam PB, Yesus menekankan hal yang sama bahwa: “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 15:4), dan Ia bersyafaat kepada Bapa bagi umat tebusan-Nya: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, Firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh 17:17).


Oleh: Ps. Ayub Melkior, S. Th


Tulisan ini memiliki Hak Cipta, dan tidak diperkenankan untuk mengambil, mengutip, dan mengcopi, tanpa menuliskan nama penulis atau sumber penulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih