Selasa, 22 Agustus 2017

TIGA (3) ALASAN MEMATUHI PEMERINTAH


Bacaan: Roma 13:1-7

Tiap-tiap orang, yaitu pria maupun wanita, remaja maupun orang dewasa, di desa maupun kota, petani maupun pengusaha, haruslah secara sendiri-sendiri, takluk kepada pemerintah, yaitu jejeran pemerintah negara, baik itu pemerintahan Eksekutive; Legeslatif; maupun Yudikative. Haruslah ia menghormati mereka, mendengarkan mereka, mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh mereka dan dengan senang hati memberi dirinya untuk mengikuti arahan-arahan itu.

Mengapa?

Pertama: Karena pemerintah ditetapkan oleh Allah

Tak ada pemerintah yang  menyusup atau jadi-jadian tanpa seijin Tuhan Allah. Semua pemerintah, baik pemerintah eksekutive, legeslative, maupun Yudikative,  ditetapkan oleh Allah. “Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Rom 13: 1). 

Tuhan Allah yang tidak kelihatan itu, Dialah yang memilih mereka; menempatkan mereka di atas kita dan menugaskan mereka supaya memerintah atas kita. Dia juga yang memberi mereka hikmat, pengertian dan kebijakan-kebijakan, untuk memutuskan dan mengeluarkan peraturan-peraturan, untuk mengatur-atur  kita.


Karena itu, sudah seharusnya kita menghormati, mematuhi dan menuruti peraturan-peraturan serta keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintah bagi kita.  Barangsiapa melawan pemerintah, yaitu menolak keputusannya, menentang aturan-aturannya, berbantah dengannya, atau pun diam-diam meremehkan mereka dan mengabaikan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah, maka sejatinya ia  sedang melawan ketetapan Tuhan Allah. “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah” (Rom 13:2a). Ia bukan saja menentang si A atau si B, tetapi melawan Tuhan Allah semesta alam! Dan seluruh jenis makhluk hidup tahu bahwa jika kita melawan ketetapan Allah, maka kita mendatangkan murka Allah atas diri kita sendiri. Orang-orang menyebutnya: “Cari hal”. Alkitab katakan: “Siapa yang melakukannya mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (Rom 13:2b). Kita menyusahkan diri sendiri bila membangkang melawan pemerintah, walaupun itu hanyalah ketua RT dan peraturan di Dusun.
 

Kedua: Karena pemerintah adalah hamba Allah
“Karena pemerintah adalah hamba Allah  untuk kebaikanmu.” (Rom 13:4a).

Bukan hanya Pendeta, Pastor, Ustad dan rohaniawan lainnya, yang merupakan hamba Allah. Presiden dan seluruh jejeran pemerintahan sampai ke tingkat kelurahan bahkan RT, juga adalah hamba-hamba Allah, sama seperti malaikat-malaikat yang melayani Allah. Mereka adalah alat-alat Tuhan, pertama-tama untuk kebaikan kita, dan  yang kedua untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. “Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” (Rom 13:4b). Sehingga, melalui mereka kita dilindungi, kita didisplin, kita diarahkan kepada apa yang baik, dan dengan demikian kita diuntungkan amat banyak.


Karena itu, kita perlu menundukkan diri dan mematuhi mereka, bukan saja karena mereka adalah hamba Allah yang dipakai Allah untuk membalaskan murka-Nya atas kita, tetapi terlebih-lebih demi kebaikan diri kita sendiri.


Ketiga: Karena kita punya hati nurani
“Sebab itu, perlu kita menaklukan diri, bukan saja oleh kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (Rom 13:5).


Kita bukan tumbuh-tumbuhan yang tak memiliki nati nurani. Kita adalah manusia yang berperi kemanusiaan. Kita punya hati nurani, etika, moral, dan tatanan hidup.  Karena itu, sebagai manusia yang berperi kemanusiaan, sudah seharusnya kita patuhi peraturan-peraturan pemerintah, sebagai bagian dari suara hati nurani kita.

***
Jadi, taatilah keputusan, kebijakan dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemeritah. Sebab mereka berasal dari Allah dan menjadi hamba Allah untuk kebaikan-kebaikan kita dan bahwa kita adalah manusia memiliki peri kemanusiaan.


***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior*








EMPAT (4) ALASAN INJIL HARUS DIBERITAKAN



Kata “Injil” dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan dari kata Yunani “Euanggelizo”.[1] Istilah “Euanggelizo” dalam konteks Yunani bersumber dari istilah kemiliteran. Dua arti yang semula dari kata “Euanggelizo” adalah: (1). Upah yang diberikan kepada pembawa berita kemenangan dari medan perang. (2). Berita kemenangan, yang juga disebut kabar baik. Berdasarkan gagasan ini, istilah “Euanggelizo” atau kabar baik, kemudian dipakai oleh orang Kristen untuk menjelaskan berita tentang Yesus Kristus, yang disebut “Injil” atau “kabar baik” tentang Yesus Kristus.[2] Dalam Kekristenan, istilah “Euanggelizo” digunakan untuk pengertian “berita” yang dikaitkan langsung dengan pengorbanan atau karya Yesus Kristus yang menyelamatkan.[3] Misalnya Rasul Paulus menulis tentang Injil:

“Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” (1 Kor 15:1-8).


Jadi “Injil” adalah: Kabar baik tentang karya Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Injil meliputi kelahiran Yesus untuk menebus manusia dari kutuk dosa; Kematian Yesus karena dosa-dosa manusia; Kebangkitan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia hidup dan Ia adalah pemegang segala kuasa; Kenaikan Yesus ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi manusia yang diselamatkan-Ny, serta kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat tebusan-Nya  supaya tinggal bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan.


Dalam Alkitab, Injil disebut sebagai: Ajaran yang sesuai dengan ibadah (1 Tim 6:3); Berita pendamaian ( 2 Kor 5:19);  Ajaran yang sehat (2 Tim 1:13);  Perkataan Kristus (Kol 3:16); Firman Allah ( 1 Tes 2:13); Firman iman (Rom 10:8); Firman kasih karunia (Kis 14:3; 20:32); Firman kebenaran (Ef 1:13; Yak 1:18);  juga Firman kehidupan (Fil 2:16). Injil bersifat Mulia (2 Kor 4:4); dan juga Kekal (1 Pet 1:25; Wahy 14:6). Injil merupakan kabar kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk 2:10; 11; 31; 32); Kabar Keselamatan (Kis 13:26); Pengetahuan tentang kemuliaan Allah (2 Kor 4:4; 6); dan Kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rom 1:16; 1 Kor 1:18; 1 Tes 1:5). Injil berfungsi untuk membawa sejahtera (Luk 2:10; 14; Ef 6:15); memberi pengharapan (Kol 1:23); Membuat orang percaya bersatu (Fil 1:5); dan menyelamatkan orang berdosa (Rom 1:16; 1 Kor 1:18).


Prinsip fundamental dalam Amanat Agung Yesus Kristus adalah: Injil harus diberitakan. Yesus berkata: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil....” (Mark 16:15). Istilah Yunani yang digunakan untuk kata “Beritakanlah Injil” dalam ayat tersebut, adalah “Kerusate”, dalam bentuk aorist imperative, yang berarti: Memberitakan Injil adalah pekerjaan yang terus menerus dilakukan dan tidak boleh berhenti.[4] 

Secara teknis, pengertian memberitakan Injil atau penginjilan, dapat dilihat dalam penggunaan kata-kata Yunani dalam Perjanjian Baru. Antara lain adalah:


Pertama; “Euanggelizo”.
Pada dasarnya kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru, untuk menjelaskan “berita Kristen” atau “Berita tentang Kristus”. Kemudian dari kata “Euanggelizi” muncul istilah-istilah dalam bahasa Inggris, seperti “Evanggel”; “Evanggeli”; “Evanggelist”; “Evanggelization”; “Evanggelical” dan “Evanggelistic”, yang mengandung arti kegiatan menyampaikan berita kesukaan.[5]

Jadi “Euanggelizo” tidak saja berarti “Injil” tetapi juga berarti mengabarkan Injil atau memberitakan kabar baik.

Fokus utama yang ditekankan dalam istilah “Euanggelizo” adalah, tugas atau pekerjaan mengabarkan Injil,[6]  dan sama sekali tanpa penekanan untuk percaya dalam bentuk apapun.[7] Artinya, “Euanggelizo” menunjuk kepada pemberitaan Injil atau kabar baik tentang Yesus Kristus, tanpa memaksakan kehendak terhadap orang untuk mempercayai berita tersebut.

Misalnya ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil, Ia berpesan: “Apabil seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengarkan perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu..”(Mat 10:14).

Jadi tidak ada unsur pemaksaan atau rayuan dan iming-iming dengan cara apa pun untuk seseorang menerima Injil yang diberitakan. Jika ia tidak mau mendengar dan menerima, ya sudah, tinggalkanlah!

Kedua; “Keruso”, yang berarti berkhotbah atau memproklamasikan.
Kata “Keruso”, adalah kata yang sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan pekerjaan atau kegiatan berkhotbah, yang dihubungkan dengan pelayanan Yohanes pembaptis, Tuhan Yesus dan penginjil-penginjil lainnya dalam gereja mula-mula. Arti dasar “Keruso” ialah, melakukan tugas seorang “kerux” yaitu, seorang utusan resmi dari raja, yang dipercayakan tugas secara formal dan berkunjung dari suatu desa ke desa lain, untuk menyampaikan dekrit dari sang raja.[8]

Jadi dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil atau penginjilan, maka tugas penginjilan adalah tugas formal yang dipercayakan Tuhan kepada umat-Nya yang telah ditebus, untuk menyampaikan berita sukacita kepada umat manusia lainnya. Dr. Yakub Tomatala menegaskan bahwa: “Istilah “Keruso”, menjelaskan tentang kegiatan atau pekerjaan mengkhotbahkan Injil, yang bersifat wajib dan penting, serta harus dilakukan”.[9] Artinya, orang Kriten yang telah ditebus, ditugaskan sepenuhnya untuk memberitakan Injil secara terus-menerus, tanpa alasan apa pun untuk menolak tanggungjawab tersebut.


Ketiga; “Didasko”, yang berarti mengajar.
Istilah Didasko, sering disebut dalam hubungan dengan pengertian memproklamirkan, menubuatkan, dan menasihati, yang berkaitan erat dengan menyampaikan berita.[10] Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan Yesus Kristus. Ia memproklamasikan, menasihati, atau menyampaikan berita dengan cara mengajarkan (Mat 10:7-15; Luk 10:4-12).  Dengan kata lain, memberitakan Injil juga mengandung unsur mengajar. Ini menuntut kejelasan dalam menguraikan atau menjabarkan Injil, ketepatan metode atau pendekatakan, yang digunakan untuk menyampaikan Injil secara benar dan tepat. Oleh sebab itu, seorang penginjil pertama-tama harus memahami ajaran Injil atau “tahu kebenaran”, sehingga ia dapat menjelaskannya kepada orang berdosa. Yesus menegaskan hal ini dengan cara membuka pikiran para murid, agar mereka mengerti kitab suci, sebelum mereka diutus untuk pergi dan memberitakan Injil. Lukas mencatat: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Luk 24:45). Jadi oleh karena penginjilan termasuk mengajarkan Injil, maka murid Kristus dituntut untuk harus tahu kebenaran Injil.


Keempat; “Martureo”, yang berarti bersaksi.
Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan gereja mula-mula yang berkaitan dengan pemberitaan Injil. Martureo berarti, menyampaikan kesaksian berdasarkan keyakinan atas dasar apa yang dilihat dan dialami. Dari kata tersebut, muncul istilah “Martyr”, yaitu orang yang menyampaikan kesaksian dengan resiko kematina.[11] Jadi martureo, menunjuk kepada tugas kesaksian yang dilakukan dengan resiko mati atau hidup (Yoh 15:26-27; Kis 1:8; 2:32; 10:39; 22:15; 26: 6, dan 1 Kor 11:26; 15:1-4). 


Di sini, memberitakan Injil, berarti berani berperan sebagai saksi atas apa yang dialami dan diketahui tentang Yesus Kristus, dalam segala keadaan atau situasi. Artinya murid Kristus harus mempunyai pendirian yang teguh dalam prinsip kebenaran di dalam Injil, sehingga dalam keadaan apa pun, bahkan keadaan terancam nyawa, ia tetap tidak berbelok dan mengkompromikan kebenaran Injil yang diyakininya. Stefanus, Petrus, Paulus, Yohanes, dan para pemberita Injil di abad ini, telah mencontohkan demikian. Mereka “rela mati” demi kebenaran Injil yang mereka yakini dan saksikan kepada orang-orang berdosa.


Jadi penginjilan menuntut keberanian untuk berpendirian teguh dalam kebenaran, bahkan dalam keadaan terancam nyawa.

Nah, dari istilah-istilah itu, tersimpul bahwa memberitakan Injil atau penginjilan adalah menyaksikan kabar baik tentang karya Yesus Kristus yang menyelamatkan, berdasarkan apa yang dilihat dan dialami, dengan cara mengkhotbahkan atau mengajarkan kepada orang berdosa tanpa takut pada ancaman apapun.

Ada pandangan tertentu yang berkata: “Supaya orang berdosa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak perlu berbicara mengenai Injil, yang perlu adalah menyatakan kasih kepada mereka dengan berbuat baik dan menunjukkan kehidupan yang saleh.” Anggapan ini cukup familiar dalam kekristenan. Tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa: Memang mengasihi dan menunjukkan hidup yang saleh adalah hal penting, namun hal itu tak bisa menggantikan pemberitaan Injil secara lisan atau verbal. Yang menjadi nomor satu adalah Injil harus diberitakan dengan kata-kata, diuraikan, dijelaskan dan ajarkan kepada orang berdosa.


Mengapa Harus Memberitakan Injil?


Alasan utama Injil harus diberitakan dengan kata-kata, adalah:


Pertama: Supaya karya Kristus untuk menyelamatkan manusia melalui kasih karunia Allah, didengar oleh setiap orang berdosa, sehingga tidak ada seorangpun yang akhirnya binasa karena tidak mendengar, selain dari pada mereka yang memang degil hati dan menolak keselamatan di dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis:
"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:13-15).


Artinya, keselamatan di dalam dan melalui Yesus Kristus, telah menjadi keselamatan yang terbuka bagi semua orang. Tetapi berita Injil tersebut, harus diceritakan, diuraikan, dijelaskan dan diajarkan kepada orang berdosa, sehingga telinga mereka dapat mendengarnya.

Oleh sebab itu, setiap orang yang telah ditebus oleh Kristus, harus memberitakan Injil keselamatan serta pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus, agar setiap telinga dapat mendengar dan siapa saja yang mau, biarlah ia datang kepada Kristus dan beroleh pengampunan serta keselamatan.


Kedua: Karena Injil merupakan suatu rahasia yang perlu dibukakan, dibeberkan atau dinyatakan kepada umat manusia yang berdosa, sehingga mereka dapat mengetahui dan memahaminya.

Alkitab dipenuhi dengan pernyataan bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, yang dipercayakan kepada orang-orang yang telah ditebus, untuk dibuka atau dinyatakan kepada dunia yang berdosa.

Misalnya Paulus menulis:
“Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25-28).
                                       
“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu  aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah , yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Ef  3:2-7).

“Bagi Dia, yang berkuasa  menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia,  yang didiamkan berabad-abad lamanya.” (Rom 6:25).

“Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu  untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.” (Kol  4:3).

“Juga untuk aku,  supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” (Ef 6:19).

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia  Allah.” (1 Kor  4:1.

Dari ayat-ayat tersebut, terlihat jelas bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, dalam arti, tidak semua umat manusia mengetahuinya dan tidak semua orang dapat memahaminya. Namun “Rahasia” itu dipercayakan oleh Allah kepada umat tebusan Allah, yaitu orang yang sudah percaya dan diselamatkan.

Oleh karena itu, setiap orang yang telah ditebus, bertugas untuk pergi dan memberitakan “rahasia” tersebut kepada orang berdosa, agar merekapun mengetahuinya, bahwa ada keselamatan di dalam satu nama, yaitu Yesus Kristus dan oleh-Nya manusia yang berdosa dapat beroleh pengampunan atas dosa-dosanya dan menerima hidup yang kekal.

Ketiga: Karena dalam hikmat dunia, manusia tidak mengenal Allah. Oleh sebab itu, Injil yang merupakan hikmat Allah, harus diberitakan dalam arti diuraikan dan disampaikan kepada manusia, sehingga dengan mendengarkan Injil, pikirannya dapat dibukakan dan ia mengenal Allah.

Paulus menulis bahwa: “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. (1 Kor 1:21).

Jadi melalui pemberitaan Injil - yang diuraikan dan dijelaskan dengan kata-kata-, maka orang berdosa yang pikirannya dibutakan oleh ilah zaman sehingga tidak mengenal Allah, dapat mengenal Allah dan diselamatkan.


Keempat: Karena iman yang menyelamatkan orang berdosa, timbul dari pendengaran akan Injil, dan bukan timbul dari perbuatan kasih dan contoh hidup yang saleh.

Paulus berkata: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.” (Rom 10:17). Artinya, dengan mendengar Injil, yaitu Firman yang keluar dari mulut Kristus sendiri, yang dijelaskan melalui kata-kata oleh penginjil, maka orang berdosa dapat beroleh iman sejati dan dengan demikian ia dapat diselamatkan.


 ***
Jadi, selain berbuat baik kepada orang berdosa dan menunjukkan hidup yang saleh, Injil tetap harus disampaikan secara verbal. Alasannya adalah: Sebab orang berdosa perlu mendengar Injil, sehingga timbul Iman; perlu mengetahui Injil yang merupakan rahasia; dan perlu mendengarkan Injil sehingga pikirannya yang dibutakkan oleh ilah zaman, dibukakan melalui Injil yang adalah hikmat Allah.

 ***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior




[1] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20

[2] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20-21

[3] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[4] Dr. Marulak Pasaribu, Eksposisi Injil Sinoptik, Malang: Gandum Mas, 2005, hal. 338

[5] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[6] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[7] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[8] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24-25

[9] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[10] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 22

[11] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 25