Sabtu, 22 April 2017

"4 ALASAN LOGIS MENGAPA HARUS PERCAYA PADA TUHAN"

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, 
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” 
Amsal 3:5


Ayat ini memberitahu bahwa, dalam menjalani kehidupan ini, kita dilarang untuk mengandalkan pengertian kita, yakni keahlian, pengetahuan dan perkiraan-perkiraan akal kita sendiri. Walaupun kita mempunyai pengetahuan yang banyak, baik, tinggi dan benar, namun kita diminta untuk tidak mempercayainya sedemikian rupa, seolah-olah dengan pengetahuan itu, kita mampu menyokong diri kita sendiri dan mampu menyelesaikan semua tugas, tanpa bantuan lain.  ”Jangan!” katanya. Melainkan kita harus menaruh kepercayaan kepada satu pribadi, yaitu Tuhan. Meskipun mata kita tak pernah melihat wajah dan rupa-Nya, namun kita diminta untuk  yakin dan berserah diri kepada Dia, dalam segala urusan-urusan hidup kita.

Kita tahu bahwa Tuhan ingin kita percaya kepada Dia dan jangan mendalkan pengertian kita sendiri, tetapi seringkali kita gagal, karena kita merasa tidak menemukan alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Seseorang akan berkata dalam hatinya: “Ah...tidak penting untuk percaya kepada Tuhan.” Lainnya lagi akan berkata: “Percaya sih percaya, tapi faktanya apa?” Dan beberapa lagi akan berkata: “Biasanya percaya pun tidak terjadi apa-apa kok.” Yang saya maksud adalah, sepertinya kita mempunyai alasan-alasan kuat, yang mengagalkan kita untuk percaya kepada Tuhan. Faktor mendasar dari hal ini adalah, karena kita tidak mengetahui alasan yang benar, mengapa kita seharusnya percaya kepada Tuhan dan tidak mengandalkan pengetahuan kita sendiri.

Saya sadar betul, bahwa apabila kita menemukan alasan yang benar untuk percaya kepada Tuhan, hal itu bisa menundukkan rasio atau akal kita dan mampu mendorong keyakinan kita timbul ke atas, sehingga kita bisa yakin dan berserah diri kepada Tuhan dan bukan lagi bersandar kepada pengetahuan, keahlian, dan pertimbangan kita sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah: Lalu apa alasan yang benar, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Alkitab menunjukkan 4 (Empat) Alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan dan jangan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita.

Pertama; Karena ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara irasional (Melampaui akal kita  atau tak pernah tersebit di dalam Indra-indra kita).

Alkitab katakan: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). 

Akal atau pengertian kita hanya mampu menghasilkan sesuatu sejauh informasi yang kita peroleh; itu pun jikalau memang digunakan dengan efektif. Sementara itu, Allah menyediakan hal-hal baik yang tidak pernah terlihat sebelumnya oleh mata kita, tak pernah terdengar oleh telinga kita, dan tak pernah timbul di dalam keinginan. 

Sahabat saya Ps. Jimmy Gideon, pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya, untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi hari ini, saya diwisuda sebagai Sarjana Teologi.” Ibu Rachminati Kusumaningrum, seorang rekan saya yang dulunya non Kristen, pernah mengatakan: “Di luar nalar saya, untuk menjadi seorang Kristen dan orang yang diselamatkan Tuhan Yesus, apa lagi menjadi seorang pelayan Tuhan.” Pdt. Ir. Niko pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menggembalakan jutaan umat Tuhan.” Beliau bahkan menciptakan puji-pujian kepada Tuhan, yang kita kenal dengan lirik: “Siapakah Aku Ini Tuhan”. Demikian juga, orang-orang Kristen lainnya mengalami hal yang sama. 

Sudah sering terjadi bahwa ada hal-hal baik yang disediakan Allah bagi kita, melampaui –pengertian-pengertian kita. Dia dapat memberi kepada Anda suatu hal baik yang belum pernah terlihat sebelumnya oleh mata Anda, tak pernah terbesit dalam pikiran Anda, tak pernah timbul di dalam keinginan Anda, bahkan tak pernah terdengar di telinga Anda. Oleh sebab itu, jangan andalkan pengertian kita, melainkan percaya pada Allah, sebab dari total umur hidup Anda, ada hal-hal ajaib yang disediakan Allah bagi Anda dan itu benar-benar melampaui pengertian Anda.


Kedua; Karena Dia-lah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan.
Kita bisa memperhitungkan sesuatu dengan akal kita, mendoakannya dan menghasilkan yang baik, tetapi Tuhan dapat melakukan kepada kita lebih besar dan lebih banyak dari itu. 
Alkitab berkata: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Ef 3:20).

Lihat saja, kisah Maria dan Marta. Mereka meminta kesembuhan bagi Lazarus, saudaranya, tetapi Yesus menjawab doa mereka dengan memberikan kebangkitan dari kemaatian. Mereka ingin Lazarus jangan lagi merasakan kesakitan di atas pembaringan, tetapi Yesus bahkan memberikan kehidupan dari dalam kuburan. (lht. Yoh 11:1-44).  

Demikian juga, hari ini ada sejumlah orang Kristen yang mengalami perbuatan Tuhan yang melebihi doa, cita-cita, bahkan upaya terbaik mereka. Seorang pemuda Kristen bercerita dalam kesaksiannya bahwa ia meminta dalam doa, agar Tuhan memberikan pasangan hidup yang mengasihi dia apa adanya, tetapi Tuhan bahkan memberikan kepadanya Istri pengasih yang juga cantik dan bijaksana. 

Tuhan bisa memberikan kepada Anda berkat yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat Anda hasilkan dengan analisa terbaik Anda; usaha sungguh-sungguh; bahkan Dia bisa menjawab doa Anda dengan perkara yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat kita sebutkan dengan lidah kita di dalam doa.

 Karena itu, percaya pada Tuhan dan jangan andalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan Anda yang tidak seberapa itu, sebab dalam hidup Anda, Allah menyediakan kasih karunia bagi Anda, yang sewaktu-waktu Ia dapat melakukan kepada Anda melampaui pikiran bahkan doa Anda. Ada satu hari, dimana Dia akan memberi Anda perkara yang lebih besar dari yang dapat Anda harapkan dan doakan.


Ketiga; Karena Tuhan yang paling tahu apa yang akan terjadi kelak, sedangkan kita tidak tahu.

Meskipun kita terus belajar dan bersekolah, namun keahlian, pengatahuan dan pengalaman-pengalaman kita, tidak sanggup memperjelas semua yang akan terjadi di hari mendatang. 
Yakobus 4:13-14 berkata: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata hari ini atau besok kami 
berangkat ke kota anu, di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

 
Konteks ayat ini adalah nasihat Yakobus, untuk mencela para pedagang di perantauan (lht. Yak 1:1), sebab orang-orang ini sangat yakin pada keahlian dan perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka berbuat seakan-akan mereka sudah tahu segala sesuatu, sehingga merasa tidak perlu melibatkan atau mengandalkan Tuhan Allah dalam tindakan-tindakan hidup mereka. Keyakinan mereka ini, dinyatakan dalam Lima (5) hal, yang disebutkan dalam ayat 13.

a. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka yakin sekali saat mengambil langkah awal di 
    dalam hidupnya untuk melakukan sesuatu  (‘hari ini atau besok’)
b. Mereka yakin sekali akan tujuannya (‘ke kota anu’)
c. Mereka yakin sekali akan lamanya tinggal di sana (‘1 tahun’)
d. Mereka yakin sekali akan apa yang akan dikerjakannya di sana (‘berdagang’)
e. Mereka yakin sekali akan kesuksesan atau keberhasilannya nanti (‘akan mendapat 
    untung’).

Tetapi Yakobus mencela dan menasihati mereka : Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang hanya sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “JikaTuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak 4:13-14).  

Maksud Yakobus : “Seharusnya kamu menaruh percaya kepada Tuhan dan bukan percaya pada keahlian dan perkiraan kamu sendiri. Sebab kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Lihat! Kamu berpikir kamu tahu apa yang akan terjadi selama 1 tahun di kota anu, tetapi bahkan hari besok saja, kamu tidak tahu. Kamu berpikir kamu tahu bahwa kamu akan hidup lama, selama 1 tahun dan berdagang untuk mendapat untung. Tetapi hidupmu ternyata hanya seperti uap, yang hanya sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Bisa jadi, hari ini juga kamu sudah dipanggil Tuhan.”

Kita adalah manusia yang terbatas. Baik dari pengalaman, maupun perhitungan logika, kita tidak tahu tentang apa yang akan terjadi dengan kita di kemudian hari. Keahlian dan perkiraan kita, tidak sanggup memperjelas bagaimana dan apa yang akan terjadi di masa depan kita kelak. Siapa sih, yang tahu persis di masa mendatang ia akan menjadi seperti A atau B? Dan siapa gerangan yang tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya besok pagi? Kecuali Tuhan, tak ada seorang pun yang tahu! 

Dia-lah yang paling tahu rancangan-rancangan apa dan bagaimana tentang kita untuk hari besok. Dia berfiman: “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera  dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Allah yang paling mengetahui bagaimana jadinya kita di hari depan. Oleh sebab itu, percayai Dia dan jangan andalkan pengertian kita yang terbatas itu, sebab dari total hal baik yang akan terjadi bagi Anda kelak, ada satu hal baik dan besar, yang Allah pikirkan untuk Anda, yang tak pernah bisa Anda hitung dengan akal. 

Keempat; Karena apa yang tidak mungkin bagi kita, mungkin bagi Allah
 
Hal-hal yang kita perkirakan tidak mungkin terjadi, hal itu bisa dibuat oleh Allah sehingga terjadi. Sebab bagi Allah, tak ada yang mustahil. Lihat saja yang dialami oleh Maria dan Elizabeth. Maria adalah seorang gadis yang masih perawan, dan bagi akal manusia, mustahil bila ia bisa mengandung seorang bayi tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki. Sebaliknya, Elizabeth adalah seorang yang sudah berkeluarga, tetapi faktanya ia mandul. Oleh karena itu, bagi akal manusia tidak mungkin ia bisa mengandung dan mempunyai anak.
Tetapi Allah mengutus Malaikat Gabriel kepada Maria dan berkata: Jangan takut Maria. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Demikian juga Elizabet, sanak mu yang mandul itu. Ia pun mengandung seorang anak dan inilah bulan keenam bagi kandungannya. 

Tetapi dengan perkiraannya, Maria menatap Malaikat itu dan berkata: bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Aku ini masih perawan. Lalu Malaikat Gabriel memberitahu alasan mengapa hal itu bisa terjadi, katanya: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Luk 1:37).
Kita harus percaya kepada Tuhan dan bukan bersandar pada perkiraan-perkiraan kita sendiri, karena apa yang kita pikir tidak mungkin, Tuhan dapat membuatnya terjadi. Di dalam kasih karunia Allah, ada satu hal besar di antara sejumlah hal baik yang Anda perkirakan itu tidak mungkin terjadi, akan dibuat oleh Allah untuk terjadi dalam hidup Anda. 


Kesimpulan
Jadi kita harus percaya kepada Allah dan bukan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita sendiri, sebab ada 4 alasan logis:
1.    Ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara I rasional, yaitu tak pernah terbesit di dalam indra-indra kita.
2.   Karena Tuhan sanggup melakukan dan memberikan kepada kita perkara yang lebih besar dari yang dapat kita cita-citakan dan sebutkan dalam doa.
3.    Karena Tuhanlah yang paling tahu apa yang terjadi bagi kita kelak, sedangkan pikiran kita tidak tahu.
4.    Karena apa yang kita perkirakan dengan akal kita bahwa itu tidak mungkin, Tuhan dapat membuat itu terjadi.

Kiranya bisa menjadi berkat bagi Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Oleh: Ayub Melkior, S. Th