Jumat, 10 Juni 2016

"TIGA HAL YANG MENJADIKAN DOA ANDA BERKUASA"


Berdoa adalah sarana yang Allah sediakan bagi kita untuk berbicara dengan Dia. Melalui doa kita menyampaikan permohonan kita kepada Allah dan mengharapkan Dia dan belas kasihan-Nya untuk memberikan apa yang kita minta dari Dia.

Jika saya bertanya pada Anda: "Apakah semua doa kita tidak dijawab oleh Tuhan?" Tentu jawabannya adalah: Tidak! Sebab banyak orang telah menerima jawaban doa dari Tuhan

"Kalau begitu, apakah semua doa kita dijawab oleh Tuhan?" Jawabannya juga adalah: Tidak! Sebab ada juga banyak doa yang tidak dikabulkan Tuhan (lht Yak 4:3).

Kebenaran tentang doa adalah bahwa tidak semua doa kita dijawab oleh Tuhan. Hanya doa yang berkuasa, itulah yang dijawab oleh Tuhan. Oleh sebab itu, adalah perlu untuk kita memahami bagaimana kita berdoa dan doa kita memiliki kuasa, dalam arti dapat dikabulkan oleh Tuhan.


Kitab Suci memberitahu kita bahwa: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16).

Dari penggalan kebenaran ini, kita menemukan Tiga (3) hal yang menjadikan doa kita berkuasa atau dijawab Tuhan.


Pertama; Berdoa dan Bukan Melapor.

Yakobus menyebut hal yang bila dengan yakin didoakan, maka akan sangat besar kuasanya adalah: Doa, dan bukan laporan. Ada beda nyata antara berdoa kepada Allah dan melapor kepada Allah.  Melapor adalah memberitahu Allah tentang segala sesuatu yang terjadi dengan kita dan yang kita perlukan,  dari apa yang dapat kita ingat. 

Pendoa bertipe pelapor, hanya berbicara kepada Allah tanpa melibatkan kehendaknya. Ia memberitahu Allah tentang sesuatu supaya Allah mau, Allah ingin  dan Allah rindu untuk memberikannya, tetapi ia sendiri tidak “merindukan” apa yang ia minta. Pendoa seperti ini, hanya menginformasikan saja kepada Allah, tanpa betul-betul menghendaki, menginginkan dan merindukan apa yang ia minta melalui mulutnya kepada Allah. 

Misalnya ia berdoa meminta kesembuhan bagi tetantangga yang sedang sakit. Hatinya tidak benar-benar merindukan agar tetangganya sembuh dan sehat. Ia hanya melapor saja kepada Allah bahwa orang itu sakit dan meminta tolong agar Allah mau menyembuhkan, tetapi ia sendiri tidak betul-betul merindukan agar orang itu sembuh. Bahkan kadang-kadang, pikirannya pun tidak dilibatkan dalam berdoa. Mulutnya bicara lain, pikirannya memikirkan hal lain. Ia bisa saja berkata: “Berilah kesembuhan kepada ibuku.” Namun pikirannya berpikir tentang jemuran di tali, kambing di kandang, Ayam di dapur dan lainnya. Ini bukanlah doa!

Berdoa adalah berbicara kepada Allah dari diri Anda, yaitu tubuh, jiwa dan roh Anda.  Setiap kata yang Anda utarakan kepada Allah, harus berasal dari: 1). Roh atau batin Anda, dan 2). Disadari oleh jiwa, yaitu pikiran, perasaan serta kehendak Anda, serta 3). Didukung oleh sikap tubuh Anda. Paulus berkata: “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku.” (1 Kor 14:15). Demikian juga, Alkitab telah mengatur bahwa berdoa haruslah disertai dengan sikap tubuh tertentu.  Misalnya: 

1). Menadahkan tangan. Alkitab katakan: “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci , tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Tim 2:8).

2). Berlutut. Firman Tuhan berkata: Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut  dan berdoa, kata-Nya..” (Luk 22:41). “Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar,  lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah. " Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.” (Kis 9:40).

3). Merebahkan badan ke tanah atau Sujud. Alkitab berkata: “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya....” (Mat 26:39).

Memang, hal-hal ini bukanlah suatu hal yang statis, tetapi juga penting dalam doa. Anda tidak harus menggunakan ketiganya secara serentak dalam berdoa, tetapi Anda bisa memilih salah satu dan menggunakannya, ketimbang berdoa dengan tidak beraturan sama sekali. 

Misalnya Anda membuka tangan, atau berlutut sambil mengatupkan jari-jari Anda, atau sujud  ke bawah sambil mengulurkan kedua tangan.  Elia begitu. Alkitab katakan: “Elia naik ke puncak gunung karmel, lalu ia membukuk ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya.” (1 Raj 18:42). Kemudian Yakobus memuji Elia, katanya: ”Elia adalah manusia biasa sama seperti kita dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa supaya hujan jangan turun dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.” (Yak 5:17-18).  

Jadi selain melibatkan roh dan jiwa, juga harus ada sikap tubuh dalam berdoa, karena Musa, Elia, Yesus, Para murid, bahkan Paulus, semuanya berdoa dengan suatu sikap tubuh dan Doa mereka disebut sebagai “Doa yang sungguh-sungguh”. 

Saat Anda berkata-kata kepada Allah dari dalam roh atau batin Anda, seraya disadari oleh pikiran, dihayati oleh perasaan dan dirindukan oleh kehendak Anda, serta didukung oleh sikap tubuh Anda, maka perkataan Anda adalah sebuah doa sungguh-sungguh yang mengandung kuasa, seperti doa-doa Elia dan para hamba Tuhan lainnya.


Kedua; Menjadi Orang Benar.

Hal kedua yang menjadikan doa Anda berkuasa adalah, menjadi orang benar. Yakobus berkata: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16).

Hidup saleh, yaitu berpikir yang kudus, melihat yang baik, mengucapkan yang benar, berhati tulus, adalah keunggulan yang membuat doa Anda didengar oleh Tuhan yang Kudus. Alkitab berkata: "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong." (Maz 34:16). Memang, kita semua dilihat dan didengar oleh Tuhan, tetapi orang yang memilih berbuat yang benar “diperhatikan” oleh Tuhan. Doanya akan dikabulkan dan masalahnya akan ditangani oleh Allah. 

Lihat saja, Yesus dalam hidupnya sebagai manusia, Ia sama seperti kita, kecuali satu hal, yaitu Ia tidak pernah berbuat dosa.  Dan oleh karena kesalehan-Nya, doa-doa-Nya yang dipanjatkan kepada Bapa di sorga, dikabulkan oleh Bapa di Sorga. Alkitab katakan: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya  Ia telah didengarkan.” (Ibr 5:7). Kesalehan hidup membuat doa Anda besar kuasanya.  

Persoalan seringkali kita tidak didengarkan oleh Allah adalah, karena mulut kita bicara kotor, dolak-dalik, berbohong dan suka melukai perasaan orang lain. Pikiran kita erotis, najis, jahat dan hati kita menyimpan kepahitan, sakit hati, dendam dan niat jahat terhadap orang lain. Yesaya menyebutnya “Dosa dan Kejahatan”, dan memberitahu kita bahwa "itulah" yang menghalangi doa kita kepada Tuhan. Nabi itu berkata:

“Sesungguhnya, tangan  TUHAN tidak kurang panjang  untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu  dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar,  ialah segala dosamu.” (Yes 59:1-2).
 
Hal-hal jahat yang diam-diam Anda buat di dalam kamar tertutup dan diam-diam Anda pikirkan tanpa ketahuan orang lain, mereka hidup seperti arwah dan menjadi perintang atas doa-doa Anda. 

Karena itu supaya doa Anda besar kuasanya, jadilah orang yang saleh dan hiduplah sebagai orang benar. Jangan bicara kotor dengan mulut Anda, tetapi ucapkalah kata-kata yang baik dan benar. Jangan berpikiran erotis dan negatif dalam pikiran Anda, tetapi sebaliknya pikirkanlah yang kudus, yang baik, yang suci, yang murni dan yang positif.  Jangan menyimpan kepahitan, amarah, sakit hati di dalam hati Anda, tetapi sebaliknya, koleksilah di dalam hati Anda janji-janji Allah, nasihat-nasihat yang membangun iman  dan biarkan itu bersesak-sesakkan di hati Anda.

Robek saja poster-poster telanjang yang tertempel di kamar dan buang ke sampah; hapus foto-foto erotis dari HP ataupun komputer Anda dan bersihkan semuanya dari pikiran Anda. Tahan kuat-kuat bibir mulut Anda supaya jangan berbohong atau mengucapkan kata-kata yang jorok. Kepahitan dan berbagai sakit hati yang Anda lem di hati Anda, buka semuanya dan ganti dengan maaf dan sukacita. 


Dengan membersihkan diri Anda dari kejahatan di dalam hati dan dari berbagai dosa dalam perbuatan, Anda menjadi orang yang saleh dan doa Anda akan sangat besar kuasanya. Dia akan mendengarkan Anda dan pasti segera menolong Anda. Kitab suci menjamin bahwa: “TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” (Ams 15:29).



Ketiga; Berdoa Dengan Yakin.

Pada saat Anda berdoa, janganlah hanya bersuara, tetapi setiap kata-kata yang Anda utarakan dalam doa, ucapkanlah semuanya itu dengan keyakinan yang kuat. Ini bukan ngotot dengan tenaga, tetapi mempercayai sungguhan bahwa apa yang Anda ucapkan dalam doa adalah benar dan layak serta pasti diterima oleh Allah. 

Mungkin Anda berkata: “Dari mana kita tahu apa yang kita ucapkan dalam doa adalah benar dan layak dan pasti diterima oleh Allah?" Tahunya dari Tiga alasan utama:

Pertama; Karena apa yang Anda minta, memang dijanjikan oleh Allah. Bacalah Alkitab dan lihat apa saja yang dijanjikan oleh Allah, kemudian mintalah hal-hal itu dalam doa Anda. Misalnya kecukupan makanan dan minuman setiap hari. Hal itu dijanjikan oleh Tuhan bagi kita, jadi mintalah! Saat Anda mengatakan: “Bapa di Sorga, berikanlah kecukupan makanan dan minuman bagi kami sekeluarga pada hari ini”, jangan ragu-ragu lagi, tetapi ucapkanlah itu dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti memberikannya bagi Anda.

Jangan meminta apa yang Tuhan tidak janjikan. Misalnya, meminta agar Suami orang lain dibuat Tuhan menjadi Suami Anda. Itu ngawur.  Allah tidak menjanjikan yang demikian.

Kedua; Karena apa yang Anda minta tidak bertentangan dengan sifat-sifat Allah.  Mintalah hal-hal yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Misalnya, Anda berdoa: “Ya Tuhan, kasihanilah ibuku yang sedang sakit perut dan berikalah kesembuhan baginya.” Nah, Kasih adalah sifat Allah, jadi mintalah demikian! 

Jangan meminta yang tidak sesuai dengan sifat Allah. Misalnya: “Tuhan kutukilah Arnol karena ia telah mengkhianatiku dengan berselingkuh di belakangku.” Itu tidak benar! Sebab Allah tidak mempunyai sifat jahat seperti itu.

Ketiga; Karena apa yang Anda minta memang masih berada dalam kasih karunia Allah. Artinya begini: Anda meminta hal-hal yang memang  sedang disediakan atau akan disediakan oleh Allah; dan bukan yang sudah disediakan atau sudah dilakukan oleh Allah. Misalnya, Anda meminta: “Tuhan buatlah Matahari terbit besok pagi.” Itu tidak perlu! Karena hal itu telah disediakan atau diadakan oleh Allah. Mintalah hal-hal yang sedang disediakan atau yang akan disediakan oleh Allah.

Wawasan Anda dalam memahami  layak-tidaknya kata-kata doa Anda, sepenuhnya terletak di dalam pengenalan Anda terhadap Firman Tuhan dan pengenalan Anda terhadap Allah. Semakin Anda rajin membaca Alkitab, semakin Anda berhikmat untuk membedakan manakah yang dikehendaki Allah untuk Anda doakan dan mana yang tak layak Anda sebutkan dalam doa. Ini menentukkan seberapa kuat keyakinan Anda. Jika Anda samar-samar mengenai apa yang Anda katakan dalam doa, antara apakah itu layak atau tidak, maka keyakinan Anda pun ikut melemah. Iman selalu timbul dari Firman Allah.

Tetapi apabila Anda cukup peka untuk tahu bahwa apa yang Anda doakan adalah layak dan benar, maka keyakinan Anda besar dan dengan demikian Anda telah berdoa dengan iman. Ini menjadikan doa Anda sangat berkhasiat. Yesus berkata: “Apa saja yang kamu minta   dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22); “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mark 11:24). Jadi berdoalah dengan iman atau keyakinan, maka doa Anda besar kuasanya.



Kesimpulan

Jadi doa yang berkuasa dapat dimiliki oleh setiap orang Kristen. Asalkan: 1).  Berdoa sungguh-sungguh, yaitu bukan hanya melapor, tetapi betul-betul berbicara kepada Allah dari dalam roh atau batin Anda, sambil didukung oleh sikap tubuh. 2). Hidup sebagai orang benar, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang najis dan berdosa. 3).  Berdoa dengan yakin, yaitu percaya sungguhan bahwa apa yang diucapkan dalam doa adalah benar dan layak serta pasti diterima oleh Allah. 

Dengan menerapkan ketiga hal ini, maka doa kita menjadi doa yang didengar dan dikabulkan oleh Allah. Amin...!


Kiranya bermanfaat untuk Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati.


Oleh:
Ps.  Ayub Melkior


Minggu, 24 April 2016

"30 JAMINAN BAGI ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN"

Alkitab memberitahu kita bahwa ada 30 jaminan dari Allah bagi orang-orang yang takut akan Dia.



1.        Menyenangkan Tuhan
“Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Maz 147:11)

2.      Beroleh kebahagiaan
“Walaupun orang yang berdosa dan berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya.” (Pkh 8:12)
“Haleluyah, berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Maz 112:1)

3.      Dilindungi dari malapetaka
“Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.” (Ams 19:23)

4.     Umur panjang
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian. Karena oleh Aku umurmu diperpanjang dan tahun-tahun hidupmu ditambah” (Ams 9:10-11)

5.      Berbuah
“Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka dan membiarkan bayi-bayi itu hidup (Kel 1:17). Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga” (Kel 1:21)

6.      Baik keadaanya dan anak-anaknya
“Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya” (Ul 5:29)

7.      Dicukupi kebutuhannya
“Takutlah akan Tuhan hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia.” (Maz 34:9)

8.      Mengalami ketentraman
“Dalam takut akan Tuhan ada ketentraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.” (Ams 14:26)

9.      Dijauhkan dari dosa
“Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: “Janganla takut sebab Allah telah datang dengan maksud mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, supaya kamu jangan berbuat dosa” (Kel 20:20)

10.    Beroleh keberuntungan
“Adalah baik, kalau engkau memegang yang satu dan juga tidak melepaskan yang lain, karena orang yang takut akan Allah luput dari kedua-duanya.” (Pkh 7:18)

11.      Diberi wewenang
“Pengawasan atas Yerusalem, kuserahkan kepada Hanani, saudaraku dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain.” (Nehemia 7:2)

12.    Diberitahukannya  jalan yang harus dipilih
“Siapakah orang yang takut akan Tuhan? Kepadanya Tuhan menunjukan jalan yang harus dipilihnya.” (Maz 25:12)

13.    Dijadikan sahabat Allah
“Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia” (Maz 25:14)

14.   Diberi pewahyuan
“Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Maz 25: 14)

15.    Beroleh kebaikan Tuhan yang melimpah
“Allangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau” (Maz 31:19)

16.    Diperhatikan oleh Tuhan
“Sesungguhnya mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Maz 33:18)

17.    Beroleh kasih setia Tuhan yang besar
“Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikianlah besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.” (Maz 103:11)

18.    Diberkati Tuhan
 “Memberkati orang-orang yang takut akan Tuhan baik yang kecil maupun yang besar.” (Maz 115:13)


19.    Diberi warisan
“Sebab Engkau telah mendengar janjiku ya Allah, dan memberi kepadaku milik pusaka orang yang takut akan nama-Mu.” (Maz 61:5)

20. Disayangi Tuhan
“Seperti Bapa sayang anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Maz 103:13)

21.    Doanya didengar dan dijawab Tuhan
“ Ia melakukan kehendak orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.” (Maz 145:19)

22. Disembuhkan dan disegarkan
“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan, itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” (Maz 37:7-8)

23. Diluputkan oleh malaikat Tuhan
“Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” (Maz 34:7)

24. Diberi kekayaan, kehormatan dan kehidupan
“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” (Ams 22:4)

25. Dipuji-puji orang
“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji.” (Ams 31:30)

26. Diberi kemampuan untuk menjauhi yang jahat
“Karena takut akan Tuhan, orang menjauhi kejahatan.” (Ams 6:16)

27. Diberi hikmat
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik.” (Maz 111:10)

28. Namanya tercatat dalam Kitab peringatan (selalu diingat, tidak dilupakan)
“Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan Tuhan: “Tuhan memperhatikan dan mendengarkannya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.” (Meleakhi 3:16)

29. Berkenan kepada Tuhan
“Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis 10:35)

30. Beroleh rahmat Tuhan turun temurun.
“Dan rahmat-Nya turun temurun atas orang yang takut akan Dia.” (Luk 1:50)



Kesimpulan
“Berbagailah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukan-Nya. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagilah engkau dan baiklah keadaanmu. Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu, anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekelilingmu. Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu. Damai sejahtera atas Israel” (Maz 128: 1-6).

 ***
Kiranya bermafaat untuk Anda dan juga Saya. Tuhan Yesus Memberkati.
Oleh: Ayub Melkior, S. Th

Sabtu, 23 April 2016

"DELAPAN (8) CELAH YANG MENJADI PINTU MASUK IBLIS"


Alkitab bersaksi: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13).


Cuplikan Ayat ini memberitahu kita bahwa Iblis mempunyai momentum tersendiri, yang khusus dan baik baginya, untuk mendatangi kita dan mencuri, membunuh, serta membinasakan kita. Ia tahu kapan dan bagaimana kesempatan yang tepat untuk bisa merusak kehidupan kita. Oleh sebab itu, merupakan suatu hal yang menguntungkan, bila kita mengenali saat-saat yang menjadi peluang, kesempatan, atau celah bagi Iblis untuk menyerang kita, sama seperti tuan rumah tahu saat mana perampok itu akan datang.


Alkitab mencatat 8 celah, yang merupakan pintu bagi Iblis untuk masuk ke dalam diri kita dan merusak kehidupan kita.



Pertama; Tidak berdoa

Alkitab berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan, sebab roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26:41).


Berkeliaran ke mana-mana, terlalu sibuk, atau menuruti keinginan daging untuk bersantai-santai, sehingga lalai bersekutu dengan Tuhan melalui saat teduh dan doa, menjadi suatu peluang tersendiri bagi kuasa kegelapan untuk menyerang Anda dengan berbagai-bagai macam pencobaan. Persis pada saat hubungan kita dengan Tuhan merenggang, kita melemah, sehingga Iblis beroleh peluang untuk segera meluncurkan panah apinya, tipu dayanya, rayuan mautnya dan berharap kita termakan umpannya dan jatuh ke dalam perangkapnya.


Para murid mengalaminya ketika Yesus memerintahkan mereka untuk berdoa, minimal satu jam. Namun di tengah-tengah taman Getsemani itu, masing-masing mereka malah mencari tempat dan tidur. Sehingga ketika tiba waktunya sekelompok orang mendekati Yesus untuk menangkap-Nya, murid-murid tidak tahan lagi. Mereka tidak bisa bersikap layaknya seorang murid Kristus. Mereka sangat emosi, menumpahkan darah orang, mengandalkan pedang, dan ingin melawan seperti orang duniawi.


Di sini Anda dapat melihat bahwa, keteledoran dalam hubungan dengan Allah, membuka peluang lebar-lebar bagi Iblis untuk masuk dan mendesak-desak kedagingan kita yang lemah ini, untuk berbuat macam-macam dosa, sampai ke tingkatan yang parah. Setan adalah profesor perusak. Sekali ia mendapat peluang untuk bisa masuk ke dalam diri Anda, ia akan menghantam seluruh lini kehidupan Anda dan berjuang dengan penuh keringat untuk menciptakan kekacauan sebisa yang ia dapat.


Itulah sebabnya, Guru Besar kita yang sudah berpengalaman itu, mengingatkan setiap kita sebagai pengikut-Nya: “Berjaga-jaga dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Hanya apabila kita senatiasa merawat dan memelihara hubungan kita dengan Tuhan, celah bagi Iblis itu tertutup dan “si kunyu” tidak mendapat peluang untuk masuk dan membuat huru-hara dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, se-sibuk apa pun Anda, jangan lupa untuk berdoa dan merenungkan Firman Tuhan.



Kedua; Suami-Istri Yang Saling Menjauhi

Alkitab berkata tentang Suami-Istri: “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” (1 Kor 7:4-5).


“Janganlah saling menjauhi”, sudah pasti tidak hanya saling berjauhan secara fisik, tetapi juga secara emosional. Suami-Istri harus “hidup bersama” dalam arti, saling berdekatan secara fisik dan juga hidup bersama-sama secara emosional. Mereka harus akur, seia-sekata, dan harmonis.


Apabila mereka saling “menjauhi” maka Iblis beroleh peluang untuk menyerang dengan berbagai godaan, melalui hawa nafsu yang tak tertahankan. Mungkin Anda berkata: “Aku tidak selingkuh kok, kalau berjauhan dengan pasanganku” Saya katakan: “Puji Tuhan!” tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa, jika Iblis diberi peluang dan masuk ke dalam diri Anda, dia pasti akan mengerjakan sesuatu bagi rencananya sendiri.


Mungkin ia tidak membuat Anda berselingkuh, tetapi ia bisa membuat hati Anda lama-kelamaan menjadi dingin terhadap pasangan Anda. Atau sebaliknya, ia menjadikan Anda merasa selalu saja merindukan pasangan Anda, sehingga Anda tidak berkonsentrasi atau segenap hati, dalam mengerjakan hal-hal. Ia bisa menyuntikan prasangka yang bukan-bukan, sehingga Suami atau istri berprasangka buruk terhadap pasangannya, bahwa mungkin pasanganku tidak peduli lagi, mungkin ia sedang mempunyai PIL/WIL, ditambah lagi berbagai prasangka buruk lainnya, yang sebenarnya sama sekali tidak terjadi demikian. Ada sejuta hal lainnya yang bisa Iblis kerjakan melalui peluang yang diberikan kepadanya, untuk merusak kehidupan Anda dan juga pasangan Anda. 


Sasarannya adalah menjadikan suami-Istri, masing-masing menodai diri mereka sendiri dengan prasangka mereka sendiri dan hawa nafsu mereka sendiri, yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk maksud yang baik, namun menjadikan mereka keluarga yang cemar, najis, dan tidak berkenan kepada Allah. 


Oleh sebab itu, walaupun Anda adalah orang yang diberi kasih karunia Tuhan untuk 100% mampu mengendalikan hawa nafsu Anda, tetap saja Tuhan tidak mengijinkan Anda memberi kesempatan kepada Iblis untuk menggocoh Anda. Tugas Anda tetap berlaku, yaitu berusahalah untuk tidak memberi peluang atau celah kepada Iblis untuk merusak kehidupan Anda dan pasangan Anda.



Ketiga;  Iri hati

Senang melihat orang lain lebih rendah dari Anda dan susah melihat orang lain sedikit lebih baik dari Anda, berarti Anda adalah orang yang iri hati dan itu merupakan pintu masuk bagi Iblis untuk menggocoh Anda.


Alkitab menceritakan bahwa pada waktu Saul dan Daud kembali dari perang melawan orang Filistin, sejumlah wanita menyambut mereka dengan nyanyian dan tari-tarian. Mereka bernyanyi berbalas-balasan bahwa: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”. Mendengar itu, bangkitlah amarah Saul dengan sangat dan mulai hari itu, ia iri dan dengki terhadap Daud. (Lht. 1 Sam 18:6-9). Kemudian, 1 Samuel pasal 18:10, melaporkan bahwa “Keeseokan harinya, berkuasalah roh jahat atas Saul dan Saul selalu berusaha untuk membunuh Daud.”


Persis pada saat hati Anda panas karena orang lain lebih berhasil dari Anda, Anda sedang membuka celah bagi masuknya roh jahat untuk merusak kehidupan Anda lebih jauh lagi. Sama seperti pengalaman Kain terhadap adiknya Habel, iri hati akan mengundang Iblis masuk dan menjadikan Anda sakit hati yang berkepanjangan dengan orang, membenci, sinis, tidak ramah, mencari kaki orang lain untuk menjatuhkan, dan siasat jahat lainnya bahkan sampai kepada pembunuhan.


Sudah sering terbukti bahwa di mana-mana iri hati tidak pernah mendatangkan kebaikan apa pun bagi Anda, itu hanya mengundang setan-setan untuk masuk dan tinggal di dalam hati Anda dan merusak Anda maupun orang lain. Oleh sebab itu, tidak perlu iri terhadap orang lain. Dengan demikian Anda tidak membuka celah bagi kuasa kegelapan untuk mengacaukan hidup Anda.



Keempat; Menyombongkan diri

Celah lain yang menjadi kesempatan bagi Iblis untuk merusak kehidupan kita ialah kesombongan. Paulus mendefinisikan bahwa sombong adalah memandang atau menilai diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Ia katakan: “Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis ", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri , seolah-olah engkau tidak menerimanya? (1 Kor 4:6-7).


Kesombongan bukan penilaian orang lain terhadap Anda, tetapi pandangan Anda sendiri tentang diri Anda. Tidak perlu orang lain memberitahu Anda bahwa Anda sombong, tetapi sudah seharunya Anda ketahui sendiri bahwa saat Anda memandang diri Anda melebihi yang sebenarnya, Anda sedang menyombongkan diri.


Kesombongan adalah celah untuk masuknya Iblis dan menggulingkan Anda. Lihat saja, Malam sebelum Yesus diserahkan, Juruselamat itu telah melihat di dalam Roh, bahwa Iblis sedang menunggu waktu yang tepat untuk masuk dan menghancurkan Simon Petrus. Yesus berkata kepada Simon: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut engkau seperti gandum. Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur.” (Luk 22:31-32). Tetapi Petrus menjawab: “Aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Luk 22:33).


Pernyataan Simon, mewakili keangkuhan terselubung di dalam hatinya, sama seperti yang dicatat oleh Markus, bahwa Petrus berkata: “Biarpun semua tergoncang imannya aku tidak.” (Mark 14:29). Simon sedang lupa diri bahwa ia hanyalah manusia biasa yang terbuat dari debu tanah, dan berpikir, ia lebih kuat dari rekan-rekannya yang lain. Di sini ia telah memandang dirinya melampaui apa yang ada, sehingga walaupun Kristus telah berdoa kepada Allah Bapa, agar Simon tetap kuat di dalam imannya, namun oleh keangkuhannya Simon membuka celah lebar-lebar, supaya Iblis masuk dan menggulingkan dirinya. Cerita berlanjut dengan Petrus melanggar omongannya sendiri, menyangkal Gurunya 3 kali berturut-turut, dan mengutuk dirinya sendiri.


Iblis senang dengan kesombongan kita. Persis pada saat Anda memandang diri Anda melampaui yang ada, Iblis segera hadir untuk melemahkan iman Anda, merusak hubungan Anda dengan orang lain dan mendatangkan masalah bagi Anda. Itulah sebabnya Alkitab mengatur siapa orang yang boleh melayani Tuhan: “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.” (1 Tim 3:6).


Jika Anda tidak ingin membuka celah bagi Iblis, jangan pandang diri Anda lebih dari apa yang ada. Apabila Anda kaya karena Tuhan memberkati Anda, jangan berlagak seolah-olah Anda memperolehnya dengan ketangkasan Anda sendiri. Bila Anda pandai karena Tuhan memberi Anda karunia hikmat, jangan menilai diri Anda lebih pintar dari orang lain, seolah-olah Anda adalah Bulan dan orang lain hanyalah kunang-kunang. Nilailah diri Anda pas dengan apa yang ada. Dengan demikian, Anda tidak membuka celah bagi Iblis untuk masuk dan merugikan Anda.



Kelima; Dendam atau marah yang berlarut-larut

Marah yang berlarut-larut atau yang biasa orang sebut mendendam, merupakan celah bagi Iblis untuk merusak kehidupan Anda, sehingga Paulus mengingatkan: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Ef 4:26-27).


Mati-matian mempertahankan sakit hati, sehingga terus meniup-niup amarah seperti nyala api yang terus berkobar, menjadi peluang Iblis untuk hadir di dalam diri Anda dan menggocoh Anda dengan berbagai masalah. Sadar akan hal ini, Paulus dengan tegas mengingatkan jemaat yang sedang cecok di Korintus: “Ampunilah...supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” (2 Kor 2:10-11).


Mungkin Anda berkata: “Aku tahu itu, tapi aku punya alasan yang kuat untuk tetap marah padanya.” Biarkan saya memberitahu Anda bahwa amarah yang berlarut-larut, dipicu oleh harga diri yang palsu dalam diri Anda. Prof. David Lieberman, dalam karyanya: “Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda” menjelaskan bahwa: “ Kita seringkali marah, sakit hati, kecewa, kepahitan, karena kita salah menilai ego atau harga diri kita. Kita mengharapkan penghargaan terhadap diri kita, diberikan oleh orang lain dan bukan dihasilkan oleh diri kita sendiri, seolah-olah harga diri itu adalah sesuatu yang dapat kita pesan dari supermarket. Padahal harga diri itu dibangun oleh diri kita sendiri, yaitu dengan memilih yang benar dan menindak yang benar”


Nah, di sini letak kita tidak rela untuk memaafkan kesalahan, melepaskan amarah dan membuang dendam, karena kita mengarahkan semua tindakan sakit hati yang dilakukan oleh seseorang kepada kita, bukan saja pada apa yang memang dilakukannya, tetapi kita menghubungkannya dengan harga diri atau ego kita.


Misalnya ada orang yang menyalib Anda di perjalanan, sementara Anda mengendarai, Anda menghubungkan peristiwa itu dengan penghinaan kepada diri Anda, seolah-olah orang itu telah mengurangi harga diri Anda, padahal ia hanya menyalib Anda di jalan. Prof David Lieberman, menyebut ini “Penghargaan diri yang palsu”. Jadi oleh karena kita membungkus harga diri kita dengan kepalsuan, maka seringkali kita merasa sangat terluka dan sulit untuk memaafkan atau membuang amarah.


Sehingga, untuk menutup celah agar Iblis tidak beroleh peluang dan merugikan Anda, maka urutannya adalah, ubah terlebih dahulu pandangan Anda mengenai harga diri Anda. Jangan meletakkan nilai diri Anda ditentukan oleh orang lain, tetapi oleh Anda sendiri. Dengan demikian, Anda tidak berlarut-larut dalam kemarahan, apabila rekan Anda membuat suatu kesalahan kecil terhadap Anda. Ketika Anda tidak berlarut-larut dalam kemarahan, Anda telah menutup celah sehingga Iblis tidak beroleh kesempatan untuk menggocoh Anda.


Keenam; Merencanakan yang jahat di dalam hati

Memikir-mikirkan sesuatu yang jahat dalam pikiran Anda, akan merambat ke dalam hati Anda dan menjadi suatu rencana jahat yang diam-diam bercokol di dalam hati Anda. Ini menjadi kesempatan besar bagi Iblis untuk masuk dan merusak kehidupan Anda.


Lihat saja Ananias dan Safira, suami Istri yang mulanya sangat baik, namun suatu hari mereka menjual sebidang tanah, lalu merencanakan yang jahat dalam hati mereka untuk menyembunyikan sebagian hasil penjualan itu dan hanya menyerahkan sebagian saja kepada para Rasul. Mereka berdua telah sepakat untuk mengatakan yang sama dan persis, bahwa “inilah hasil tanahnya” tetapi Petrus, Rasul Tuhan itu mengetahui rencana jahat mereka dan mengatakan: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan jahat itu dalam hatimu?” (Kis 5:3-4). Cerita berlanjut dengan suami-Istri itu putus napas ditempat dan meninggal dunia.


Rencana jahat yang Anda sembunyikan dalam hati, memang tidak selalu akan diketahui oleh orang lain, tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa itu tidak pernah luput dari pengamatan Setan. Persis pada saat Anda menimbang-nimbang sesuatu yang jahat dengan pikiran Anda, lalu mulai merencanakannya, Iblis melihatnya dan ia segera mendapat peluang untuk melangkah masuk ke dalam hati Anda dan mendorong Anda dengan dusta-dusta lainnya, menggelapkan mata rohani Anda, mendorong-dorong Anda, bukan supaya Anda baik, tetapi demi mencelakai Anda.


Setan menyukai rencana jahat, sehingga dalam hal apa pun dan oleh siapa pun, Iblis akan datang. Ia akan hadir di sana sebagai Motivator, Sponsor dan tuhan atas rencana tersebut. Ia akan mendesak-desak Anda untuk segera menggelar rencana tersebut, meluluskannya dan membuat itu menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, Jangan membuat atau pun menyisakan rencana jahat di dalam hati Anda, dengan demikian, Iblis tidak mendapat celah untuk masuk dan merugikan Anda.



Ketujuh; Ambisi yang tidak sesuai kehendak Allah

Keinginan, cita-cita atau ambisi yang tidak sejalan dengan rencana dan kehendak Allah, 
merupakan celah bagi Iblis untuk bisa masuk dan merusak Anda. Sama seperti yang dialami oleh Petrus. Alkitab memberitahu kita bahwa Petrus menginginkan kenyamanan diri, sementara Yesus sedang memikirkan penderitaan yang akan segera tiba bagi-Nya di Yerusalem. Juruselamat itu berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mark 8:31-33).


Sudah pasti, oknum yang mendorong Petrus untuk berani-beraninya menarik Gurunya yang terhormat ini ke samping dan menegor Dia, seoalah-olah Guru Agung ini, bisa salah membuat keputusan, sehingga perlu diperingatkan, adalah Iblis. Sehingga sangat tepat, apabila Yesus berkata kepada Petrus: “Enyalah Iblis” seakan-akan Petrus adalah Iblis. Petrus memikirkan apa yang dipikirkan manusia, yaitu kenyamanan bagi dirinya sendiri, dan bukan apa yang direncanakan dan dikehendaki Allah dan Setan segera bekerja melaluinya untuk menarik Yesus dan menegor Dia.


Jelas sekali bahwa ambisi yang tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Allah, menjadi peluang untuk Iblis mengerjakan rencana-rencananya melalui kita dan menghancurkan orang lain, bahkan merusak diri kita sendiri. Lihat saja jika orang memiliki Ambisi, ia dapat menghalalkan segala cara, buta terhadap keadilan, tidak punya belas-kasihan, menindas orang lemah, mengorbankan orang lain dan kejahatan lainnya. Itu semua adalah buah dari karya Iblis dalam diri kita, yang masuk melalui peluang ambisi yang tidak seturut dengan rencana dan kehendak Allah.


Oleh sebab itu, untuk menutup celah agar Iblis tidak beroleh peluang dan merusak kehidupan kita satu-sama lain, buang ambisi yang hanya mementingkan kenyamanan diri sendiri dan mulailah belajar dengan cita-cita, harapan, keinginan yang berguna bagi orang lain dan sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, Anda tidak memberi peluang kepada iblis untuk merusak kehidupan Anda maupun orang lain.



Kedelapan; Hati Yang Kosong atau Tidak Terisi

Matius 12:43-45, menceritakan bahwa: “Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."


Ayat ini memberitahu kita bahwa, siapa saja, bahkan orang sudah percaya sekalipun, jika ia membiarkan hatinya kosong dan tidak terisi, maka Iblis akan menjadikannya sebagai tempat tinggal, bukan saja bagi satu roh jahat, tetapi sekumpulan roh jahat. Iblis akan menjadikan hati yang kosong dan tidak terisi sebagai kampung mereka, rumah mereka dan tempat mereka berada baik siang maupun malam.


Nah, yang menjadi pertanyaan adalah: Apa sebetulnya yang harus disimpan atau diisi dalam hati kita, sehingga hati kita tidak kosong? Alkitab memerintahkan kita untuk mengisi hati kita dengan Lima hal penting:


a. Hati harus diisi dengan kewaspadaan

Ams 4:23 berkata: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Hati kita harus senatiasa dijaga dengan sikap berhati-hati, karena dari hati kita inilah terpancar kehidupan. Tidak pernah ada satu detik saja pun, Allah memperbolehkan kita untuk tidak berhati-hati.


b. Hati harus diisi dengan sukacita

Amsal berkata: “Hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah, mengeringkan tulang” (Ams 17:22). Isilah hati Anda dengan sukacita, dan bukan sungut-sungut.


c. Hati harus diisi dengan Janji-janji Allah

Daud berkata: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-janji-Mu, supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau” (Maz 119:11).
Menyimpan janji-janji Tuhan yang tertulis maupun tidak tertulis, di dalam hati dan bukan hanya di pikiran, mencegah kita dari dusta Iblis yang menyebabkan kita berdosa.


d. Hati harus diisi dengan perkataan Nasihat orang tua atau pemimpin Rohani.

Amsal berkata: “Hai anakku perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku, janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu, karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka” (Ams 4:20-22).

 Nasihat-nasihat yang baik, tidak saja mendatangkan kebaikan bagi Anda, tetapi juga menahan Anda untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai hal buruk lainnya.


e. Hati harus diisi dengan Kristus

Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia, ia berbuah banyak” (Yohanes 15:5). Apabila Kristus di dalam hati Anda, Anda dapat menanggung segala perkara dan tidak salah menggunakan diri Anda bukan saja dalam hal-hal yang buruk, tetapi juga dalam hal yang sia-sia.


Jadi isilah hati Anda dengan kelima hal ini, supaya Iblis tidak beroleh peluang untuk masuk ke dalam diri Anda dan memperburuk Anda.



Kesimpulan

Iblis dan roh jahatnya, tidak dapat masuk ke dalam Anda untuk menghancurkan Anda, kecuali Anda membuka celah. Ada 8 celah bagi Iblis, yaitu: (1). Tidak berdoa; (2). Anda dan pasangan Anda saling berjauhan; (3). Iri hati (4). Sombong; (5). Dendam atau marah yang berlarut-larut; (6). Merencanakan yang jahat (7). Berambisi yang tidak sesuai kehendak Allah; (8). Hati Anda kosong atau tidak tersisi. Jika Anda berusaha menutup celah itu satu persatu, saya percaya, Iblis hanya akan menunggu-nunggu waktu yang tepat, tetapi ia tidak bisa masuk ke dalam Anda untuk mencuri, membunuh dan membinasakan Anda. *



Kiranya bermanfaat untuk Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati.


Oleh: 
Ps. Ayub Melkior