Selasa, 22 Agustus 2017

TIGA (3) ALASAN MEMATUHI PEMERINTAH


Bacaan: Roma 13:1-7

Tiap-tiap orang, yaitu pria maupun wanita, remaja maupun orang dewasa, di desa maupun kota, petani maupun pengusaha, haruslah secara sendiri-sendiri, takluk kepada pemerintah, yaitu jejeran pemerintah negara, baik itu pemerintahan Eksekutive; Legeslatif; maupun Yudikative. Haruslah ia menghormati mereka, mendengarkan mereka, mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh mereka dan dengan senang hati memberi dirinya untuk mengikuti arahan-arahan itu.

Mengapa?

Pertama: Karena pemerintah ditetapkan oleh Allah

Tak ada pemerintah yang  menyusup atau jadi-jadian tanpa seijin Tuhan Allah. Semua pemerintah, baik pemerintah eksekutive, legeslative, maupun Yudikative,  ditetapkan oleh Allah. “Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Rom 13: 1). 

Tuhan Allah yang tidak kelihatan itu, Dialah yang memilih mereka; menempatkan mereka di atas kita dan menugaskan mereka supaya memerintah atas kita. Dia juga yang memberi mereka hikmat, pengertian dan kebijakan-kebijakan, untuk memutuskan dan mengeluarkan peraturan-peraturan, untuk mengatur-atur  kita.


Karena itu, sudah seharusnya kita menghormati, mematuhi dan menuruti peraturan-peraturan serta keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintah bagi kita.  Barangsiapa melawan pemerintah, yaitu menolak keputusannya, menentang aturan-aturannya, berbantah dengannya, atau pun diam-diam meremehkan mereka dan mengabaikan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah, maka sejatinya ia  sedang melawan ketetapan Tuhan Allah. “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah” (Rom 13:2a). Ia bukan saja menentang si A atau si B, tetapi melawan Tuhan Allah semesta alam! Dan seluruh jenis makhluk hidup tahu bahwa jika kita melawan ketetapan Allah, maka kita mendatangkan murka Allah atas diri kita sendiri. Orang-orang menyebutnya: “Cari hal”. Alkitab katakan: “Siapa yang melakukannya mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (Rom 13:2b). Kita menyusahkan diri sendiri bila membangkang melawan pemerintah, walaupun itu hanyalah ketua RT dan peraturan di Dusun.
 

Kedua: Karena pemerintah adalah hamba Allah
“Karena pemerintah adalah hamba Allah  untuk kebaikanmu.” (Rom 13:4a).

Bukan hanya Pendeta, Pastor, Ustad dan rohaniawan lainnya, yang merupakan hamba Allah. Presiden dan seluruh jejeran pemerintahan sampai ke tingkat kelurahan bahkan RT, juga adalah hamba-hamba Allah, sama seperti malaikat-malaikat yang melayani Allah. Mereka adalah alat-alat Tuhan, pertama-tama untuk kebaikan kita, dan  yang kedua untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. “Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” (Rom 13:4b). Sehingga, melalui mereka kita dilindungi, kita didisplin, kita diarahkan kepada apa yang baik, dan dengan demikian kita diuntungkan amat banyak.


Karena itu, kita perlu menundukkan diri dan mematuhi mereka, bukan saja karena mereka adalah hamba Allah yang dipakai Allah untuk membalaskan murka-Nya atas kita, tetapi terlebih-lebih demi kebaikan diri kita sendiri.


Ketiga: Karena kita punya hati nurani
“Sebab itu, perlu kita menaklukan diri, bukan saja oleh kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (Rom 13:5).


Kita bukan tumbuh-tumbuhan yang tak memiliki nati nurani. Kita adalah manusia yang berperi kemanusiaan. Kita punya hati nurani, etika, moral, dan tatanan hidup.  Karena itu, sebagai manusia yang berperi kemanusiaan, sudah seharusnya kita patuhi peraturan-peraturan pemerintah, sebagai bagian dari suara hati nurani kita.

***
Jadi, taatilah keputusan, kebijakan dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemeritah. Sebab mereka berasal dari Allah dan menjadi hamba Allah untuk kebaikan-kebaikan kita dan bahwa kita adalah manusia memiliki peri kemanusiaan.


***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior*








EMPAT (4) ALASAN INJIL HARUS DIBERITAKAN



Kata “Injil” dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan dari kata Yunani “Euanggelizo”.[1] Istilah “Euanggelizo” dalam konteks Yunani bersumber dari istilah kemiliteran. Dua arti yang semula dari kata “Euanggelizo” adalah: (1). Upah yang diberikan kepada pembawa berita kemenangan dari medan perang. (2). Berita kemenangan, yang juga disebut kabar baik. Berdasarkan gagasan ini, istilah “Euanggelizo” atau kabar baik, kemudian dipakai oleh orang Kristen untuk menjelaskan berita tentang Yesus Kristus, yang disebut “Injil” atau “kabar baik” tentang Yesus Kristus.[2] Dalam Kekristenan, istilah “Euanggelizo” digunakan untuk pengertian “berita” yang dikaitkan langsung dengan pengorbanan atau karya Yesus Kristus yang menyelamatkan.[3] Misalnya Rasul Paulus menulis tentang Injil:

“Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” (1 Kor 15:1-8).


Jadi “Injil” adalah: Kabar baik tentang karya Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Injil meliputi kelahiran Yesus untuk menebus manusia dari kutuk dosa; Kematian Yesus karena dosa-dosa manusia; Kebangkitan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia hidup dan Ia adalah pemegang segala kuasa; Kenaikan Yesus ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi manusia yang diselamatkan-Ny, serta kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat tebusan-Nya  supaya tinggal bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan.


Dalam Alkitab, Injil disebut sebagai: Ajaran yang sesuai dengan ibadah (1 Tim 6:3); Berita pendamaian ( 2 Kor 5:19);  Ajaran yang sehat (2 Tim 1:13);  Perkataan Kristus (Kol 3:16); Firman Allah ( 1 Tes 2:13); Firman iman (Rom 10:8); Firman kasih karunia (Kis 14:3; 20:32); Firman kebenaran (Ef 1:13; Yak 1:18);  juga Firman kehidupan (Fil 2:16). Injil bersifat Mulia (2 Kor 4:4); dan juga Kekal (1 Pet 1:25; Wahy 14:6). Injil merupakan kabar kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk 2:10; 11; 31; 32); Kabar Keselamatan (Kis 13:26); Pengetahuan tentang kemuliaan Allah (2 Kor 4:4; 6); dan Kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rom 1:16; 1 Kor 1:18; 1 Tes 1:5). Injil berfungsi untuk membawa sejahtera (Luk 2:10; 14; Ef 6:15); memberi pengharapan (Kol 1:23); Membuat orang percaya bersatu (Fil 1:5); dan menyelamatkan orang berdosa (Rom 1:16; 1 Kor 1:18).


Prinsip fundamental dalam Amanat Agung Yesus Kristus adalah: Injil harus diberitakan. Yesus berkata: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil....” (Mark 16:15). Istilah Yunani yang digunakan untuk kata “Beritakanlah Injil” dalam ayat tersebut, adalah “Kerusate”, dalam bentuk aorist imperative, yang berarti: Memberitakan Injil adalah pekerjaan yang terus menerus dilakukan dan tidak boleh berhenti.[4] 

Secara teknis, pengertian memberitakan Injil atau penginjilan, dapat dilihat dalam penggunaan kata-kata Yunani dalam Perjanjian Baru. Antara lain adalah:


Pertama; “Euanggelizo”.
Pada dasarnya kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru, untuk menjelaskan “berita Kristen” atau “Berita tentang Kristus”. Kemudian dari kata “Euanggelizi” muncul istilah-istilah dalam bahasa Inggris, seperti “Evanggel”; “Evanggeli”; “Evanggelist”; “Evanggelization”; “Evanggelical” dan “Evanggelistic”, yang mengandung arti kegiatan menyampaikan berita kesukaan.[5]

Jadi “Euanggelizo” tidak saja berarti “Injil” tetapi juga berarti mengabarkan Injil atau memberitakan kabar baik.

Fokus utama yang ditekankan dalam istilah “Euanggelizo” adalah, tugas atau pekerjaan mengabarkan Injil,[6]  dan sama sekali tanpa penekanan untuk percaya dalam bentuk apapun.[7] Artinya, “Euanggelizo” menunjuk kepada pemberitaan Injil atau kabar baik tentang Yesus Kristus, tanpa memaksakan kehendak terhadap orang untuk mempercayai berita tersebut.

Misalnya ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil, Ia berpesan: “Apabil seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengarkan perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu..”(Mat 10:14).

Jadi tidak ada unsur pemaksaan atau rayuan dan iming-iming dengan cara apa pun untuk seseorang menerima Injil yang diberitakan. Jika ia tidak mau mendengar dan menerima, ya sudah, tinggalkanlah!

Kedua; “Keruso”, yang berarti berkhotbah atau memproklamasikan.
Kata “Keruso”, adalah kata yang sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan pekerjaan atau kegiatan berkhotbah, yang dihubungkan dengan pelayanan Yohanes pembaptis, Tuhan Yesus dan penginjil-penginjil lainnya dalam gereja mula-mula. Arti dasar “Keruso” ialah, melakukan tugas seorang “kerux” yaitu, seorang utusan resmi dari raja, yang dipercayakan tugas secara formal dan berkunjung dari suatu desa ke desa lain, untuk menyampaikan dekrit dari sang raja.[8]

Jadi dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil atau penginjilan, maka tugas penginjilan adalah tugas formal yang dipercayakan Tuhan kepada umat-Nya yang telah ditebus, untuk menyampaikan berita sukacita kepada umat manusia lainnya. Dr. Yakub Tomatala menegaskan bahwa: “Istilah “Keruso”, menjelaskan tentang kegiatan atau pekerjaan mengkhotbahkan Injil, yang bersifat wajib dan penting, serta harus dilakukan”.[9] Artinya, orang Kriten yang telah ditebus, ditugaskan sepenuhnya untuk memberitakan Injil secara terus-menerus, tanpa alasan apa pun untuk menolak tanggungjawab tersebut.


Ketiga; “Didasko”, yang berarti mengajar.
Istilah Didasko, sering disebut dalam hubungan dengan pengertian memproklamirkan, menubuatkan, dan menasihati, yang berkaitan erat dengan menyampaikan berita.[10] Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan Yesus Kristus. Ia memproklamasikan, menasihati, atau menyampaikan berita dengan cara mengajarkan (Mat 10:7-15; Luk 10:4-12).  Dengan kata lain, memberitakan Injil juga mengandung unsur mengajar. Ini menuntut kejelasan dalam menguraikan atau menjabarkan Injil, ketepatan metode atau pendekatakan, yang digunakan untuk menyampaikan Injil secara benar dan tepat. Oleh sebab itu, seorang penginjil pertama-tama harus memahami ajaran Injil atau “tahu kebenaran”, sehingga ia dapat menjelaskannya kepada orang berdosa. Yesus menegaskan hal ini dengan cara membuka pikiran para murid, agar mereka mengerti kitab suci, sebelum mereka diutus untuk pergi dan memberitakan Injil. Lukas mencatat: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Luk 24:45). Jadi oleh karena penginjilan termasuk mengajarkan Injil, maka murid Kristus dituntut untuk harus tahu kebenaran Injil.


Keempat; “Martureo”, yang berarti bersaksi.
Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan gereja mula-mula yang berkaitan dengan pemberitaan Injil. Martureo berarti, menyampaikan kesaksian berdasarkan keyakinan atas dasar apa yang dilihat dan dialami. Dari kata tersebut, muncul istilah “Martyr”, yaitu orang yang menyampaikan kesaksian dengan resiko kematina.[11] Jadi martureo, menunjuk kepada tugas kesaksian yang dilakukan dengan resiko mati atau hidup (Yoh 15:26-27; Kis 1:8; 2:32; 10:39; 22:15; 26: 6, dan 1 Kor 11:26; 15:1-4). 


Di sini, memberitakan Injil, berarti berani berperan sebagai saksi atas apa yang dialami dan diketahui tentang Yesus Kristus, dalam segala keadaan atau situasi. Artinya murid Kristus harus mempunyai pendirian yang teguh dalam prinsip kebenaran di dalam Injil, sehingga dalam keadaan apa pun, bahkan keadaan terancam nyawa, ia tetap tidak berbelok dan mengkompromikan kebenaran Injil yang diyakininya. Stefanus, Petrus, Paulus, Yohanes, dan para pemberita Injil di abad ini, telah mencontohkan demikian. Mereka “rela mati” demi kebenaran Injil yang mereka yakini dan saksikan kepada orang-orang berdosa.


Jadi penginjilan menuntut keberanian untuk berpendirian teguh dalam kebenaran, bahkan dalam keadaan terancam nyawa.

Nah, dari istilah-istilah itu, tersimpul bahwa memberitakan Injil atau penginjilan adalah menyaksikan kabar baik tentang karya Yesus Kristus yang menyelamatkan, berdasarkan apa yang dilihat dan dialami, dengan cara mengkhotbahkan atau mengajarkan kepada orang berdosa tanpa takut pada ancaman apapun.

Ada pandangan tertentu yang berkata: “Supaya orang berdosa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak perlu berbicara mengenai Injil, yang perlu adalah menyatakan kasih kepada mereka dengan berbuat baik dan menunjukkan kehidupan yang saleh.” Anggapan ini cukup familiar dalam kekristenan. Tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa: Memang mengasihi dan menunjukkan hidup yang saleh adalah hal penting, namun hal itu tak bisa menggantikan pemberitaan Injil secara lisan atau verbal. Yang menjadi nomor satu adalah Injil harus diberitakan dengan kata-kata, diuraikan, dijelaskan dan ajarkan kepada orang berdosa.


Mengapa Harus Memberitakan Injil?


Alasan utama Injil harus diberitakan dengan kata-kata, adalah:


Pertama: Supaya karya Kristus untuk menyelamatkan manusia melalui kasih karunia Allah, didengar oleh setiap orang berdosa, sehingga tidak ada seorangpun yang akhirnya binasa karena tidak mendengar, selain dari pada mereka yang memang degil hati dan menolak keselamatan di dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis:
"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:13-15).


Artinya, keselamatan di dalam dan melalui Yesus Kristus, telah menjadi keselamatan yang terbuka bagi semua orang. Tetapi berita Injil tersebut, harus diceritakan, diuraikan, dijelaskan dan diajarkan kepada orang berdosa, sehingga telinga mereka dapat mendengarnya.

Oleh sebab itu, setiap orang yang telah ditebus oleh Kristus, harus memberitakan Injil keselamatan serta pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus, agar setiap telinga dapat mendengar dan siapa saja yang mau, biarlah ia datang kepada Kristus dan beroleh pengampunan serta keselamatan.


Kedua: Karena Injil merupakan suatu rahasia yang perlu dibukakan, dibeberkan atau dinyatakan kepada umat manusia yang berdosa, sehingga mereka dapat mengetahui dan memahaminya.

Alkitab dipenuhi dengan pernyataan bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, yang dipercayakan kepada orang-orang yang telah ditebus, untuk dibuka atau dinyatakan kepada dunia yang berdosa.

Misalnya Paulus menulis:
“Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25-28).
                                       
“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu  aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah , yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Ef  3:2-7).

“Bagi Dia, yang berkuasa  menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia,  yang didiamkan berabad-abad lamanya.” (Rom 6:25).

“Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu  untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.” (Kol  4:3).

“Juga untuk aku,  supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” (Ef 6:19).

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia  Allah.” (1 Kor  4:1.

Dari ayat-ayat tersebut, terlihat jelas bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, dalam arti, tidak semua umat manusia mengetahuinya dan tidak semua orang dapat memahaminya. Namun “Rahasia” itu dipercayakan oleh Allah kepada umat tebusan Allah, yaitu orang yang sudah percaya dan diselamatkan.

Oleh karena itu, setiap orang yang telah ditebus, bertugas untuk pergi dan memberitakan “rahasia” tersebut kepada orang berdosa, agar merekapun mengetahuinya, bahwa ada keselamatan di dalam satu nama, yaitu Yesus Kristus dan oleh-Nya manusia yang berdosa dapat beroleh pengampunan atas dosa-dosanya dan menerima hidup yang kekal.

Ketiga: Karena dalam hikmat dunia, manusia tidak mengenal Allah. Oleh sebab itu, Injil yang merupakan hikmat Allah, harus diberitakan dalam arti diuraikan dan disampaikan kepada manusia, sehingga dengan mendengarkan Injil, pikirannya dapat dibukakan dan ia mengenal Allah.

Paulus menulis bahwa: “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. (1 Kor 1:21).

Jadi melalui pemberitaan Injil - yang diuraikan dan dijelaskan dengan kata-kata-, maka orang berdosa yang pikirannya dibutakan oleh ilah zaman sehingga tidak mengenal Allah, dapat mengenal Allah dan diselamatkan.


Keempat: Karena iman yang menyelamatkan orang berdosa, timbul dari pendengaran akan Injil, dan bukan timbul dari perbuatan kasih dan contoh hidup yang saleh.

Paulus berkata: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.” (Rom 10:17). Artinya, dengan mendengar Injil, yaitu Firman yang keluar dari mulut Kristus sendiri, yang dijelaskan melalui kata-kata oleh penginjil, maka orang berdosa dapat beroleh iman sejati dan dengan demikian ia dapat diselamatkan.


 ***
Jadi, selain berbuat baik kepada orang berdosa dan menunjukkan hidup yang saleh, Injil tetap harus disampaikan secara verbal. Alasannya adalah: Sebab orang berdosa perlu mendengar Injil, sehingga timbul Iman; perlu mengetahui Injil yang merupakan rahasia; dan perlu mendengarkan Injil sehingga pikirannya yang dibutakkan oleh ilah zaman, dibukakan melalui Injil yang adalah hikmat Allah.

 ***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior




[1] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20

[2] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20-21

[3] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[4] Dr. Marulak Pasaribu, Eksposisi Injil Sinoptik, Malang: Gandum Mas, 2005, hal. 338

[5] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[6] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[7] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[8] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24-25

[9] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[10] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 22

[11] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 25

Sabtu, 22 April 2017

"4 ALASAN LOGIS MENGAPA HARUS PERCAYA PADA TUHAN"

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, 
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” 
Amsal 3:5


Ayat ini memberitahu bahwa, dalam menjalani kehidupan ini, kita dilarang untuk mengandalkan pengertian kita, yakni keahlian, pengetahuan dan perkiraan-perkiraan akal kita sendiri. Walaupun kita mempunyai pengetahuan yang banyak, baik, tinggi dan benar, namun kita diminta untuk tidak mempercayainya sedemikian rupa, seolah-olah dengan pengetahuan itu, kita mampu menyokong diri kita sendiri dan mampu menyelesaikan semua tugas, tanpa bantuan lain.  ”Jangan!” katanya. Melainkan kita harus menaruh kepercayaan kepada satu pribadi, yaitu Tuhan. Meskipun mata kita tak pernah melihat wajah dan rupa-Nya, namun kita diminta untuk  yakin dan berserah diri kepada Dia, dalam segala urusan-urusan hidup kita.

Kita tahu bahwa Tuhan ingin kita percaya kepada Dia dan jangan mendalkan pengertian kita sendiri, tetapi seringkali kita gagal, karena kita merasa tidak menemukan alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Seseorang akan berkata dalam hatinya: “Ah...tidak penting untuk percaya kepada Tuhan.” Lainnya lagi akan berkata: “Percaya sih percaya, tapi faktanya apa?” Dan beberapa lagi akan berkata: “Biasanya percaya pun tidak terjadi apa-apa kok.” Yang saya maksud adalah, sepertinya kita mempunyai alasan-alasan kuat, yang mengagalkan kita untuk percaya kepada Tuhan. Faktor mendasar dari hal ini adalah, karena kita tidak mengetahui alasan yang benar, mengapa kita seharusnya percaya kepada Tuhan dan tidak mengandalkan pengetahuan kita sendiri.

Saya sadar betul, bahwa apabila kita menemukan alasan yang benar untuk percaya kepada Tuhan, hal itu bisa menundukkan rasio atau akal kita dan mampu mendorong keyakinan kita timbul ke atas, sehingga kita bisa yakin dan berserah diri kepada Tuhan dan bukan lagi bersandar kepada pengetahuan, keahlian, dan pertimbangan kita sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah: Lalu apa alasan yang benar, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Alkitab menunjukkan 4 (Empat) Alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan dan jangan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita.

Pertama; Karena ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara irasional (Melampaui akal kita  atau tak pernah tersebit di dalam Indra-indra kita).

Alkitab katakan: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). 

Akal atau pengertian kita hanya mampu menghasilkan sesuatu sejauh informasi yang kita peroleh; itu pun jikalau memang digunakan dengan efektif. Sementara itu, Allah menyediakan hal-hal baik yang tidak pernah terlihat sebelumnya oleh mata kita, tak pernah terdengar oleh telinga kita, dan tak pernah timbul di dalam keinginan. 

Sahabat saya Ps. Jimmy Gideon, pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya, untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi hari ini, saya diwisuda sebagai Sarjana Teologi.” Ibu Rachminati Kusumaningrum, seorang rekan saya yang dulunya non Kristen, pernah mengatakan: “Di luar nalar saya, untuk menjadi seorang Kristen dan orang yang diselamatkan Tuhan Yesus, apa lagi menjadi seorang pelayan Tuhan.” Pdt. Ir. Niko pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menggembalakan jutaan umat Tuhan.” Beliau bahkan menciptakan puji-pujian kepada Tuhan, yang kita kenal dengan lirik: “Siapakah Aku Ini Tuhan”. Demikian juga, orang-orang Kristen lainnya mengalami hal yang sama. 

Sudah sering terjadi bahwa ada hal-hal baik yang disediakan Allah bagi kita, melampaui –pengertian-pengertian kita. Dia dapat memberi kepada Anda suatu hal baik yang belum pernah terlihat sebelumnya oleh mata Anda, tak pernah terbesit dalam pikiran Anda, tak pernah timbul di dalam keinginan Anda, bahkan tak pernah terdengar di telinga Anda. Oleh sebab itu, jangan andalkan pengertian kita, melainkan percaya pada Allah, sebab dari total umur hidup Anda, ada hal-hal ajaib yang disediakan Allah bagi Anda dan itu benar-benar melampaui pengertian Anda.


Kedua; Karena Dia-lah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan.
Kita bisa memperhitungkan sesuatu dengan akal kita, mendoakannya dan menghasilkan yang baik, tetapi Tuhan dapat melakukan kepada kita lebih besar dan lebih banyak dari itu. 
Alkitab berkata: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Ef 3:20).

Lihat saja, kisah Maria dan Marta. Mereka meminta kesembuhan bagi Lazarus, saudaranya, tetapi Yesus menjawab doa mereka dengan memberikan kebangkitan dari kemaatian. Mereka ingin Lazarus jangan lagi merasakan kesakitan di atas pembaringan, tetapi Yesus bahkan memberikan kehidupan dari dalam kuburan. (lht. Yoh 11:1-44).  

Demikian juga, hari ini ada sejumlah orang Kristen yang mengalami perbuatan Tuhan yang melebihi doa, cita-cita, bahkan upaya terbaik mereka. Seorang pemuda Kristen bercerita dalam kesaksiannya bahwa ia meminta dalam doa, agar Tuhan memberikan pasangan hidup yang mengasihi dia apa adanya, tetapi Tuhan bahkan memberikan kepadanya Istri pengasih yang juga cantik dan bijaksana. 

Tuhan bisa memberikan kepada Anda berkat yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat Anda hasilkan dengan analisa terbaik Anda; usaha sungguh-sungguh; bahkan Dia bisa menjawab doa Anda dengan perkara yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat kita sebutkan dengan lidah kita di dalam doa.

 Karena itu, percaya pada Tuhan dan jangan andalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan Anda yang tidak seberapa itu, sebab dalam hidup Anda, Allah menyediakan kasih karunia bagi Anda, yang sewaktu-waktu Ia dapat melakukan kepada Anda melampaui pikiran bahkan doa Anda. Ada satu hari, dimana Dia akan memberi Anda perkara yang lebih besar dari yang dapat Anda harapkan dan doakan.


Ketiga; Karena Tuhan yang paling tahu apa yang akan terjadi kelak, sedangkan kita tidak tahu.

Meskipun kita terus belajar dan bersekolah, namun keahlian, pengatahuan dan pengalaman-pengalaman kita, tidak sanggup memperjelas semua yang akan terjadi di hari mendatang. 
Yakobus 4:13-14 berkata: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata hari ini atau besok kami 
berangkat ke kota anu, di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

 
Konteks ayat ini adalah nasihat Yakobus, untuk mencela para pedagang di perantauan (lht. Yak 1:1), sebab orang-orang ini sangat yakin pada keahlian dan perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka berbuat seakan-akan mereka sudah tahu segala sesuatu, sehingga merasa tidak perlu melibatkan atau mengandalkan Tuhan Allah dalam tindakan-tindakan hidup mereka. Keyakinan mereka ini, dinyatakan dalam Lima (5) hal, yang disebutkan dalam ayat 13.

a. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka yakin sekali saat mengambil langkah awal di 
    dalam hidupnya untuk melakukan sesuatu  (‘hari ini atau besok’)
b. Mereka yakin sekali akan tujuannya (‘ke kota anu’)
c. Mereka yakin sekali akan lamanya tinggal di sana (‘1 tahun’)
d. Mereka yakin sekali akan apa yang akan dikerjakannya di sana (‘berdagang’)
e. Mereka yakin sekali akan kesuksesan atau keberhasilannya nanti (‘akan mendapat 
    untung’).

Tetapi Yakobus mencela dan menasihati mereka : Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang hanya sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “JikaTuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak 4:13-14).  

Maksud Yakobus : “Seharusnya kamu menaruh percaya kepada Tuhan dan bukan percaya pada keahlian dan perkiraan kamu sendiri. Sebab kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Lihat! Kamu berpikir kamu tahu apa yang akan terjadi selama 1 tahun di kota anu, tetapi bahkan hari besok saja, kamu tidak tahu. Kamu berpikir kamu tahu bahwa kamu akan hidup lama, selama 1 tahun dan berdagang untuk mendapat untung. Tetapi hidupmu ternyata hanya seperti uap, yang hanya sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Bisa jadi, hari ini juga kamu sudah dipanggil Tuhan.”

Kita adalah manusia yang terbatas. Baik dari pengalaman, maupun perhitungan logika, kita tidak tahu tentang apa yang akan terjadi dengan kita di kemudian hari. Keahlian dan perkiraan kita, tidak sanggup memperjelas bagaimana dan apa yang akan terjadi di masa depan kita kelak. Siapa sih, yang tahu persis di masa mendatang ia akan menjadi seperti A atau B? Dan siapa gerangan yang tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya besok pagi? Kecuali Tuhan, tak ada seorang pun yang tahu! 

Dia-lah yang paling tahu rancangan-rancangan apa dan bagaimana tentang kita untuk hari besok. Dia berfiman: “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera  dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Allah yang paling mengetahui bagaimana jadinya kita di hari depan. Oleh sebab itu, percayai Dia dan jangan andalkan pengertian kita yang terbatas itu, sebab dari total hal baik yang akan terjadi bagi Anda kelak, ada satu hal baik dan besar, yang Allah pikirkan untuk Anda, yang tak pernah bisa Anda hitung dengan akal. 

Keempat; Karena apa yang tidak mungkin bagi kita, mungkin bagi Allah
 
Hal-hal yang kita perkirakan tidak mungkin terjadi, hal itu bisa dibuat oleh Allah sehingga terjadi. Sebab bagi Allah, tak ada yang mustahil. Lihat saja yang dialami oleh Maria dan Elizabeth. Maria adalah seorang gadis yang masih perawan, dan bagi akal manusia, mustahil bila ia bisa mengandung seorang bayi tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki. Sebaliknya, Elizabeth adalah seorang yang sudah berkeluarga, tetapi faktanya ia mandul. Oleh karena itu, bagi akal manusia tidak mungkin ia bisa mengandung dan mempunyai anak.
Tetapi Allah mengutus Malaikat Gabriel kepada Maria dan berkata: Jangan takut Maria. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Demikian juga Elizabet, sanak mu yang mandul itu. Ia pun mengandung seorang anak dan inilah bulan keenam bagi kandungannya. 

Tetapi dengan perkiraannya, Maria menatap Malaikat itu dan berkata: bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Aku ini masih perawan. Lalu Malaikat Gabriel memberitahu alasan mengapa hal itu bisa terjadi, katanya: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Luk 1:37).
Kita harus percaya kepada Tuhan dan bukan bersandar pada perkiraan-perkiraan kita sendiri, karena apa yang kita pikir tidak mungkin, Tuhan dapat membuatnya terjadi. Di dalam kasih karunia Allah, ada satu hal besar di antara sejumlah hal baik yang Anda perkirakan itu tidak mungkin terjadi, akan dibuat oleh Allah untuk terjadi dalam hidup Anda. 


Kesimpulan
Jadi kita harus percaya kepada Allah dan bukan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita sendiri, sebab ada 4 alasan logis:
1.    Ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara I rasional, yaitu tak pernah terbesit di dalam indra-indra kita.
2.   Karena Tuhan sanggup melakukan dan memberikan kepada kita perkara yang lebih besar dari yang dapat kita cita-citakan dan sebutkan dalam doa.
3.    Karena Tuhanlah yang paling tahu apa yang terjadi bagi kita kelak, sedangkan pikiran kita tidak tahu.
4.    Karena apa yang kita perkirakan dengan akal kita bahwa itu tidak mungkin, Tuhan dapat membuat itu terjadi.

Kiranya bisa menjadi berkat bagi Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Oleh: Ayub Melkior, S. Th