Rabu, 20 April 2016

"4 BUKTI YESUS MENGASIHI ANDA."



Bacaan: Yohanes 15 : 9 - 17


Jika saya bertanya: “Apakah Anda sadar bahwa Yesus mengasihi Anda?” Hampir semua orang Kristen akan menjawab “Ya Yesus mengasihi saya”. Tetapi apabila saya maju selangkah lagi untuk bertanya: “Apa buktinya Yesus mengasihi Anda?” 

Untuk jawaban atas pertanyaan ini, hampir sebagian besar kita berpikir hanya seputar hal-hal jasmani. Kita mengatakan bahwa Yesus mengasihi kita dengan barang-barang yang kita peroleh, keberuntungan-keberuntungan yang kita alami dalam urusan-urusan kita di dunia dan hal lainnya yang berkisar pada kepentingan-kepentingan jasmani kita.  

Memang hal-hal demikian termasuk dalam berkat Allah bagi kita, tetapi cobalah dewasa untuk berpikir bahwa Allah sama sekali tidak bermaksud kita menilai kebaikan-Nya hanya dalam hal-hal materi. Bukti Kristus mengasihi kita jauh lebih besar dari berkat-berkat jasmani yang kapan saja dapat Ia berikan kepada kita. Adalah “kurang sadar” Jika Anda berpikir bahwa Yesus mengasihi Anda hanya dengan barang-barang yang orang kaya bisa beli 100 kali kalau ia mau.

Perhatikan apa yang Ia katakan:“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihi kamu; Tinggallah di dalam kasih Ku itu.” (Yoh 15:9). Dari cuplikan ayat ini, Kristus memberitahu kita bahwa, kasih-Nya kepada kita sama persis seperti kasih Bapa kepada diri-Nya. “Seperti Bapa mengasihi Aku demikianlah Aku telah mengasihi kamu” Bapa di Sorga benar-benar mengasihi Dia. Itu dibuktikan melalui Bapa di Sorga menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Dengan pola kasih yang amat mendalam itu, demikianlah juga Kristus mengasihi kita. Ini jauh lebih besar dari yang dapat kita sadari dengan kelima indra kita. Anda benar-benar dikasihi Yesus melebihi yang dapat Anda rasakan.

 

Dalam Yohanes 15 : 9-17, ada 4 hal yang merupakan bukti kasih Yesus bagi kita. 


1.   Ia rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita
Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13).

Meskipun Dia tahu betapa besarnya pengorbanan itu dan bahwa kita tak akan pernah bisa membalasnya. Namun dengan kasih seperti inilah, Kristus telah mengasihi kita. Di dalam dosa yang membelenggu kita dan tak berdaya, Dia menyerahkanTubuh-Nya ganti tubuh kita dan nyawa-Nya ganti nyawa kita. Dengan sukarela Ia menebus kita dengan Darah-Nya yang ditumpahkan bagi kita. Segala kesalahan kita ditimpakan kepada-Nya, sehingga Ia menjadi seperti orang terkutuk, demi kita.

Inilah kasih yang paling besar, yang paling tinggi derajatnya dan paling kuat seperti maut, yang dibuktikan Kristus kepada kita, dimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, ketika kita masih seteru (Rom 5:10). Dia mati bagi Anda! Itu adalah ungkapan yang mungkin Anda tak dapat rasakan dengan Indra Anda, tetapi digoreskan di langit dan bumi bahwa Anda dikasihi Kristus dengan cara Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi Anda.


2.   Ia membawa kita ke dalam kovenan (perjanjian) persahabatan.
“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba,....Aku menyebut kamu sahabat” (Yoh 15:15).

Inilah bukti kasih Yesus kepada kita. Bahwa sekalipun kita memanggil-Nya dengan sebutan Guru dan Tuhan, Pemimpin, Penebus, Hakim, Juruselamat  dan banyak lagi lainnya. Tetapi kebenaran yang paling mengejutkan adalah kita tidak dianggap-Nya hamba yang tidak terpandang, melainkan Ia mengikat janji dengan kita bahwa kita diperhitungkan-Nya sebagai sahabat.

Dengan mengangkat kita sebagai Sahabat-Nya, Dia bersama-sama dengan kita di manapun kita berada, berbincang-bincang dengan kita secara terus terang, menanggung beban kita, membela kita dalam perkara-perkara yang tak mampu kita hadapi, ikut merasakan penderitaan kita, turut bekerja dan membuat berhasil apa yang kita kerjakan, serta tidak pernah membuang kita, meskipun dunia memandang kita dengan seperempat mata. Itulah makna yang terkandung dalam kata sahabat.

Dia mengikat perjanjian dengan Anda untuk bersama-sama dengan Anda selamanya. Sementara Anda di bumi Ia menyertai Anda sampai pada kesudahan Zaman, dan sesudah dunia ini berakhir, Anda akan bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan. Sejak hari Anda menjadi pengikut-Nya, tidak ada lagi perpisahan antara Yesus dengan Anda. Kita akan bersama dengan-Nya selama-lamanya.

 
3.   Dia memilih kita menjadi alat bagi kemuliaan dan kehormatan-Nya
Ia memberitahu kita: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”(Yoh 15:16).

Sekalipun Ia tahu bahwa di dalam diri kita ada sifat dosa yang membuat kita tidak layak bagi tugas-tugas kudus Allah, namun oleh karena Dia mengasihi kita, Dia memilih kita menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Apakah Anda sadar bahwa walaupun Anda berbicara dengan api tentang “kesempurnaan” tetap saja Anda punya kelemahan?  Kita tidak sempurna, namun Dia-lah yang memahkotai kita dengan kehormatan dan memenuhi tangan kita dengan kepercayaan. 

Jika hari ini kita bisa terlibat dalam suatu pekerjaan Allah, itu karena Dia yang memilih dan mempercayai kita untuk mengurusi kepentingan kerajaan-Nya di bumi ini, memberitakan perkataan-perkataan-Nya yang suci dan hidup, dan membawa bangsa-bangsa ke dalam kepatuhan terhadap Kristus (Rom 1:13). Ini adalah kasih Kristus yang begitu besar bagi Anda.


4.   Ia memberikan Nama-Nya sebagai jaminan bagi kita untuk mendapatkan kasih karunia dari Bapa di Sorga. 
“Supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh 15:16).

Keuntungan yang kita peroleh dari tahta Allah Bapa, melalui Nama-Nya yang diberikan sebagai jaminan bagi kita, merupakan kasih Kristus yang nyata bagi kita. Anda boleh berdoa dalam nama Yesus, itu karena Yesus mengasihi Anda. Prof. Matew Henry mengatakan: “Sangat mungkin jaminan dari nama Yesus menunjuk kepada mujizat-mujizat serta bantuan-bantuan dari Sorga, yang kita perlukan kapan pun dan di mana pun, yang kita peroleh melalui seruan doa di dalam Nama Yesus”. 

Siapa lagi jikalau bukan orang yang begitu mengasihi Anda yang berani memberi ATM nya kepada Anda, sehingga Anda dapat menggesek berapa pun yang Anda butuhkan. Kristus memberikan Nama-Nya bagi Anda untuk mengklaim segala yang baik dari Allah dan mendapatkannya tanpa membayar. Melalui nama-Nya, kita memiliki seorang Allah sebagai Bapa yang kepada-Nya kita dapat datang dan meminta. Dan Ia menjamin bahwa melalui nama-Nya itu, Bapa di  Sorga tidak akan memperlakukan kita dengan kikir, melainkan diberikannya kepada kita. Ini kasih!

Jadi saudara-saudara yang dikasihi Kristus, Yesus mengasihi kita lebih dari sekedar diberkati secara jasmani. Bukti kasih Yesus kepada kita lebih besar dari yang dapat kita sadari dengan kelima indra kita. Dia korbankan nyawa-Nya bagi kita, mengikat perjanjian dengan kita untuk menjadikan kita sahabat selama-lamanya; memilih dan mempercayakan hal-hal mulia kepada kita walau sebenarnya kita tak layak, dan memberikan nama-Nya yang kudus kepada kita dan menjamin bahwa di dalam nama-Nya, Bapa di Sorga tidak akan memperlakukan kita dengan pelit atau kikir, melainkan memberikan apa yang kita minta pada-Nya dalam nama Yesus. Amin.
 
Kiranya bermanfaat untuk Anda dan juga Saya. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Ayub Melkior, S. Th

"14 NASIHAT DALAM KITAB AMSAL, UNTUK PEMIMPIN"


Ini adalah nasihat-nasihat Kitab Amsal, khusus bagi pemimpin. Ada 14 nasihat:


1.  “Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi, demikianlah hati raja-raja tidak terduga. Sisihkan orang fasik dari hadapan raja, maka kokohlah tahtannya oleh kebenaran.” (Ams 25:2-4)

Artinya:
Allah telah memutuskan untuk tidak mengungkapkan segala sesuatu dengan jelas. Bandingkan dengan 1 Korintus 2: 6-7 “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.”

Ia telah merahasiakan banyak hal namun dapat menyingkapkannya kepada orang yang mau bergaul karib dengan-Nya melalui doa dan Firman. Bandingkan Yeremia 33:3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Para pemimpin seharusnya dengan tekun menggali kedalaman penyataan Allah di dalam Firman-Nya, karena itulah hikmat yang mengokohkan tahta atau kepemimpinannya.

Perhatikan pengulangan kata-kata kunci dalam ayat 2 dan 3 yang diterjemahkan “menyelidiki” (search out) dan “tak terduga” (unsearchable). Juga dalam ayat 4 dan 5, mengenai pemurnian perak  “sisihkanlah” dikaitkan dengan tindakan tegas untuk penyingkiran orang-orang jahat dalam lingkungan kepemimpinan. Membiarkan orang jahat menjadi bagian dalam kepemimpinan adalah tindakan yang fasik.

 Bandingkan dengan Amsal 26:10 “Siapa mempekerjakan orang bebal dan orang-orang yang lewat, adalah seperti pemanah yang melukai tiap-tiap orang.” (Ams 26:10); Dan Amsal 16:12 “Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena tahta menjadi kokoh oleh kebanaran”. Raja atau Pemimpin yang ideal dikokohkan oleh kebenaran.


2.  “Keputusan dari Allah ada di bibir raja, kalau ia mengadili mulutnya tidak berbuat salah.” (Ams 16:10)

Raja atau pemimpin sebagai hakim atau penentu yang memang menjatuhkan hukum atau keputusan atas nama Allah, (lht. 2Sa 14:18-20; 1Ra 3:4-28). Karena itu tiga hal yang sangat perlu diperhatikan adalah: (1). Hikmat Allah dalam membuat keputusan; (2). Kebenaran dalam mengambil keputusan, dan (3). Keadilan dalam memberi keputusan.


3.  “Bibir yang benar dikenan raja dan orang yang bicara jujur dikasihinya.” (Ams 16:13).

Tempat terbaik bagi sang pemimpin untuk meletakkan hati, kepercayaan atau perkenanannya, haruslah ditemukan dalam orang yang  jujur. Tidak bijak bila mempercayai penjilat.


4.  “Wajah Raja yang bercahaya memberi hidup dan kebaikannya seperti awan hujan musim semi.” (Ams 16:15)

Artinya:
“Wajah bercahaya” menandai tindakan baik yang diberikan. Bandingkan Mazmur 4:7 “Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami,  ya TUHAN!”

“Kebaikannya” menandai kualitas pribadi yang dimiliki. Bandingkan dengan Amsal 19:12 “Kemarahan raja adalah seperti raung singa muda, tetapi kebaikkannya seperti embun yang turun ke atas rumput”

“Awan hujan musim Semi” menandai pengharapan akan datangnya kebaikan-kebaikan seperti mendung mendatangkan hujan. Kebaikan yang ditunjukkan seorang pemimpin dan kualitas kebaikan pribadi yang dimilikinya adalah hal bermanfaat yang memberi kehidupan kepada orang banyak dan harapan bagi banyak orang.


5.  “Raja yang bersemayam di atas kursi pengadilan, dapat mengetahui segala yang jahat dengan matanya.” (Ams 20:8)

Artinya:
Pemimpin yang memimpin dengan bijaksana, yakni bermurni hati, adil dan jujur, dapat mengenali siasat jahat dari orang-orang tertentu. Bandingkan dengan Amsal 20:26 “Raja yang bijak dapat mengenal orang fasik dan menggilas mereka berulang-ulang.”


6.  “Kasih dan setia melindungi raja, dan dengan kasih ia menopang tahtanya.” (Ams 20:28)

Pemimpin yang memimpin dengan kasih, berdaya tahan lebih lama. Bandingkan Saul dan Daud.


7.  “Hati raja seperti batang air di tangan Tuhan, dialirkan-Nya kemana Ia ingini.” (Ams 21:1)

Ayat ini tidak berarti bahwa segala sesuatu yang dirindukan atau dilakukan seorang pemimpin nasional datang langsung dari Tuhan; pasti Allah bukan penyebab aneka kejahatan yang dilakukan para pemimpin (Yak 1:13-15). Sebaliknya, ayat ini berarti, Allah mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua pemimpin di dunia ini dan kapan pun Ia mau, Ia dapat mempengaruhi keputusan mereka sehingga menunjang maksud penebusan-Nya dalam sejarah (bd. Kel 10:1-2; Ezr 7:21; Yes 10:5-7; 45:1-6). PB mengajarkan bahwa doa umat Allah mempengaruhi Tuhan untuk mengarahkan keputusan para pemimpin sehingga lebih sesuai dengan kehendak-Nya (1Tim 2:1-3).


8.  “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluh kesahlah rakyat.” (Ams 29:2)

Artinya:
Pemimpin yang  berperilaku jahat, menjadikan rakyat atau anggotanya korban. Bandingkan dengan Yosua 7:1; 12. Akibat Akhan Bin Karmi mencuri, (1). 36 orang dari umat Israel tewas di medan perang; (2). Bangsa Israel mengalami kekalahan dan (3). Istri serta semua anak-anaknya dibakar hidup-hidup (ay 24).

Bandingkan dengan: Amsal 28:15 “Seperti singa yang meraung atau beruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerintah rakyatnya”  dan bandingkan dengan Amsal 28:28 “Jika orang fasik mendapat kekuasaan, orang menyembunyikan diri, tetapi jika mereka binasa bertambahlah jumlah orang benar.” Demikian dinasihatkan Ayub 34: 30 “supaya jangan menjadi raja  orang fasik yang adalah jerat bagi orang banyak.”


9.  “Seorang pemimpin yang tidak mempunyai pengertian, keras penindasannya, tetapi orang yang membenci laba yang tidak halal, memperpanjang umurnya.” (Ams 28:16)

Artinya:
Pemimpin wajib memiliki hikmat agar tidak mengandalkan otot dan akal bulus yang jahat. Bandingkan dengan Pengkhotbah 10:10 “Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.”

Bandingkan dengan Amsal 8:15-16 “Karena aku  (hikmat) para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi.”



10.     “Dengan keadilan seorang raja menegakkan negrinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak, meruntuhkannya.” (Ams 29:4).


Bukan banyaknya peraturan yang mengokohkan tahta atau sebuah kepemimpinan, melainkan keadilan dan kebijaksanaan. Bandingkan dengan Amsal 29:14 “Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, tahtannya tetap kokoh untuk selama-lamanya.”



11.     “Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik.” (Ams 29:12)

Artinya:
Jika pemimpin itu sendiri berbohong, semua pegawai akan menjadi jahat. Bandingkan dengan Raja Manasye: “Manasye menyesatkan mereka , sehingga mereka melakukan yang jahat  lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari hadapan orang Israel.” (2 Raja-raja 21:9).



12.     “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum .”(Ams 29:18)

Kata “Wahyu” dalam terjemahan Ibrani adalah “Torah” atau Hukum yang dinyatakan kepada para Nabi. Jadi ketika tidak ada penyataan jelas dan pernyataan tegas tentang kehendak dan standar Allah dalam sebuah kepemimpinan, maka rakyat atau anggota akan kehilangan keyakinan  mereka, membuang pengekangan moral mereka dan akhirnya musnah.

Bandingkan dengan Keluaran 32:25 “Ketika Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang....sebab Harun telah melepaskannya, sampai menjadi buah cemooh bagi lawan mereka“

Kehendak Allah yang dinyatakan dan perintah-Nya yang benar sebagaimana diungkapkan dalam Alkitab, harus senantiasa dipegang teguh, jika tidak, kita akan mulai menjadi serupa dengan dunia (bd. Rom 12:1-2) dan melanggar hukum Allah.


13.     “Tidak pantas bagi raja, hai Lamuel. Tidak pantas bagi raja minum anggur, atau pun bagi pembesar mengingini minuman keras.  Jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang ditetapkan dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.” (Ams 31: 4-5)

Artinya:
Allah memiliki standar yang tinggi sekali bagi para raja atau pemimpin, khususnya mengenai minum anggur yang difermentasi dan minuman memabukkan.  Bangdingkan dengan Yeremia 5:22 “Celakalah mereka yang menjadi jago minum  dan juara dalam mencampur minuman keras.”

Bandingkan dengan Amsal 20:1 “Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut , tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.” Bandingkan dengan Pengkhotbah 10:17 “Berbahagialah engkau tanah, kalau rajamu seorang yang berasal dari kaum pemuka, dan pemimpin-pemimpinmu makan pada waktunya dalam keperkasaan dan bukan dalam kemabukan!”

Alasan raja dan pemimpin tidak boleh negonsumsi minuman memabukkan adalah, bahwa mereka mungkin akan melupakan apa yang ditetapkan hukum. Minuman semacam itu akan melemahkan moral mereka dan menyebabkan mereka tidak menaati hukum Allah dan memutarbalikkan keadilan.


14.     “Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja.” (Ams 31:3)

Artinya:
Pemimpin harus berusaha sebisa-bisanya untuk tidak berzinah, sebab perzinahan menghancurkan kualitas kepemimpinan dan juga mengakibatkan banyak kerugian-kerugian. Bandingkan dengan Amsal 5:1-11

“Hai anakku,  perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan. Karena bibir perempuan jalang   menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati. Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya. Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku. Jauhkanlah jalanmu dari pada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya, supaya engkau jangan menyerahkan keremajaanmu kepada orang lain, dan tahun-tahun umurmu kepada orang kejam; supaya orang lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu, dan hasil susah payahmu jangan masuk ke rumah  orang yang tidak dikenal dan pada akhirnya engkau akan mengeluh, kalau daging dan tubuhmu habis binasa.”


Oleh: Ayub Melkior, S. Th

5 HAL YANG MENUNJUKKAN: AMARAH ANDA DOSA ATAU BUKAN DOSA?


Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”.

Kedua ayat ini dengan jelas memberitahu kita bahwa, antara marah dan dosa adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Marah bisa menyebakan seseorang menjadi berdosa, tetapi amarah itu sendiri bukanlah dosa. 

Seseorang yang marah bisa juga tidak berdosa. Sehingga kita tidak boleh mengatakan bahwa: “Wah...Yesus pernah marah, jadi itu berarti Ia berdosa” atau “Ternyata Allah juga berbuat dosa karena Ia pun marah bahkan sangat marah.” Tidak! Amarah Tuhan adalah amarah yang kudus dan tak berdosa. Sebab jelas bahwa amarah dan dosa adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. 


Nah, yang menjadi pertanyaan adalah: “Dari mana kita tahu bahwa amarah kita dosa atau bukan dosa?”  


Baik-baiklah memperhatikan bahwa berdosa atau tidaknya suatu amarah, sepenuhnya terletak pada 5 (Lima) hal, yang dikaitkan dengan amarah tersebut,  yaitu:


1.   Sifat kemarahan dalam diri seseorang

Yang dimaksud sifat kemarahan dalam diri seseorang adalah: Apakah kemarahan itu bersifat situasional atau kondisional (bergantung pada keadaan atau situasi); ataukah bersifat substansial (menetap di dalam diri orang tersebut)? Amarah yang bersifat situasional atau kondisional akan menjadikan orang yang marah disebut: “marah”. Tetapi jika  bersifat substansial  maka orang tersebut adalah “pemarah”.

Memang, secara literal, “orang yang marah”  tak berbeda dengan “pemarah”. Sama seperti orang yang mengirim surat disebut pengirim dan orang yang membaca surat disebut pembaca. Tetapi jika dicermati, keduanya berbeda. Demikian juga “orang yang marah”. Orang yang marah, dalam arti karena situasi dan keadaan tertentu, adalah wajar. Sebab, ia bukan orang mati, tetapi manusia hidup yang memiliki emosi yang hidup dan bereaksi. 


Sedangkan “pemarah”  adalah orang yang memang mempunyai kebiasaan marah-marah. Ia mempunyai api amarah yang telah melekat di dalam dadanya, sehingga ia dapat saja cepat marah, walau sebenarnya tidak seharusnya marah. Misalnya, Amsal berkata : Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar. (Ams 21:9; 25:24). Atau “Lebih baik tinggal di padang gurun daripada tinggal dengan seorang perempuan yang suka bertengkar dan pemarah” (Ams  21:19). Jadi “pemarah” adalah orang yang memang suka marah-marah. 


Nah, kemarahan yang bersifat menetap di dalam dada dan menjadikan hati panas siang-malam inilah, yang menjadi dosa. Sehingga 1 Tim 3:3, menasihati: “Seorang pemimpin, hendaklah bukan seorang pemarah, melainkan peramah.” Dan Amsal mengingatkan: “jangan bergaul dengan seorang pemarah.” (Ams 22:24).


Tetapi mungkin Anda berkata: “Tapi pak, ada banyak ayat Alkitab yang jelas-jelas menasihati kita bahwa: “Jangan marah”. Jawabannya adalah “Ya”. Tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa, alasan utama kita dinasihati untuk “Jangan marah” bukan karena “marah” itu adalah dosa, melainkan supaya jangan amarah itu melekat di dalam dada. Sebab, sering-sering marah, pada akhirnya terbentuk menjadi permanen atau melekat di dalam dada. Lihat saja nasihat Pengkhotbah: “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada (sifat substansial) orang bodoh” (Pkh 9:9).  


Jadi jelas bahwa nasihat untuk jangan sering-sering marah, walaupun itu bersifat kondisional, bukan karena marah itu langsung menjadi dosa, tetapi karena sering-sering marah, pada akhirnya akan melekat di dalam dada, sehingga menjadikan kita seorang “pemarah” dan dengan demikian, membawa kita kepada kejahatan dan akhirnya kita berdosa.  


Itulah sebabnya Mazmur 37:8 mengingatkan:“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”  Jadi sering marah-marah akan menjadi semacam jembatan yang menjembatani Anda kepada kejahatan. Oleh sebab itu, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk  berkata-kata, dan juga lambat untuk marah“. (Yak 1:19).

Jadi dapat disimpulkan bahwa, marah itu bisa dosa, bisa juga tidak. Suatu kemarahan bisa menjadi dosa, apabila kemarahan itu bersifat substansial atau melekat dalam diri seseorang. Tetapi marah yang bersifat kondisional atau situasional, bukanlah dosa, melainkan reaksi lumrah dari perasaan kita. Meskipun demikian, seseorang haruslah tetap menguasai diri untuk tidak sering-sering marah, karena hal itu akan menyebabkan amarah tersebut melekat di dada atau menjadi permanen dan menjadikan ia seorang pemarah. Oleh sebab itu, jika Anda ingin tahu: “Kemarahan Anda dosa atau tidak?” Jawabannya adalah, tanyakan pada diri Anda sendiri: “Apakah saya adalah seorang yang dapat marah saja ataukah seorang pemarah?”



2.   Sasaran atau obyek kemarahan
 
Hal kedua yang menentukan berdosa tidaknya suatu amarah adalah sasaran atau obyek kemarahan tersebut. Lebih jelasnya adalah “kepada siapakah amarah itu ditujukan?” Suatu kemarahan akan menjadi dosa apabila diarahkan pada sasaran atau obyek yang keliru. Demikian juga sebaliknya, bukanlah dosa apabila amarah itu diarahkan pada sasaran atau obyek yang tepat.


Kita jelas menolak bahwa kemarahan Tuhan adalah sebuah dosa, bukan saja karena Tuhan itu suci, tetapi juga karena kemarahan-Nya ditujukan pada obyek yang tepat. Contohnya kemarahan Yesus dalam Markus 3:5. Di sana jelas dikatakan bahwa Ia marah kepada orang Farisi, oleh karena kedegilan hati orang Farisi yang berusaha mencari-cari kesalahan-Nya (Markus 2:23-28; 3:2). Demikian juga perihal Yesus menyucikan Bait Allah. Silahkan katakanYesus mengasihi semua orang, tetapi jangan bilang Yesus tidak memarahi orang-orang yang berjual-beli di dalam Bait Allah. Dia sangat marah!, karena menurut-Nya Bait Allah telah dijadikan sarang penyamun (Matius 21:13). Jadi kita dapat berkesimpulan bahwa kemarahan Tuhan, adalah kemarahan yang bersasaran tepat, dimana kemarahan tersebut tertuju kepada dosa, yakni orang yang berbuat dosa. 


Kemarahan yang demikian, adalah kemarahan yang kudus dan yang dikehendaki Allah. Jika keadaan yang demikian Anda tidak marah, maka Allah akan memarahi Anda. Selain Yehezkiel 3:16-2, lihat saja kisah Imam Eli dalam 1 Samuel 2:11-26. Imam Eli adalah seorang  “Pendeta” yang baik di Bait Allah. Tetapi ketika anak-anaknya Hofni dan Pinehas “keterlaluan” terhadap korban sembelihan yang dipersembahkan umat Allah dan “kurang ajar” terhadap wanita-wanita yang melayani di Kemah Pertemuan, Imam Eli tidak memarahi mereka. Ia hanya berkata: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari bangsa ini tentang perbuatan-perbuatan jahatmu itu? Janganlah begitu anak-anakku.” (1 Sam 2:23-24).  Hal ini ternyata menyebabkan Allah murka terhadap Imam Eli. Sehingga Allah menyuruh seorang Abdi Allah datang kepada Imam Eli dan berkata: “Mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku?” (1 Sam 2:29), dan cerita berlanjut dengan Allah membatalkan Perjanjian-Nya bersama Imam Eli, dan batang leher imam Eli dipatahkan.  


Sewaktu mengkhotbahkan prinsip kebenaran ini, Pendeta besar Morris Cerullo mengatakan: “Jika Allah tidak murka terhadap Anda karena Anda tidak memarahi anak-anak Anda yang berbuat dosa, maka Ia harus minta maaf kepada Imam Eli karena telah mematahkan batang lehernya.” Maksud Pdt. Morris adalah Tuhan pasti murka terhadap kita, jika kita tidak menegor dengan tegas family kita yang jelas-jelas berbuat dosa. Sehingga Perjanjian Baru menasihati: “Apabila saudaramu berbuat dosa , tegorlah  dia.” (Mat 18:15). Jadi bukan hanya menyindir-nyindir melalui lelucon atau plesetan. Tetapi tegor! Katakan kepadanya secara tegas dan terus terang: “Jangan berbuat begitu. Itu salah!” Tetapi lihat kalimat selanjutnya dari ayat tersebut: “di bawah empat mata.” (Mat 18:15). Artinya Tegoran yang Anda berikan kepadanya, pertama-tama harus dalam intensitas nasihat biasa. Sehingga kalimat selanjutnya dalam ayat tersebut mengatakan: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” (Mat 18:15).  


Tetapi....................
“Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” (Mat 18:16). Anda dapat melihat bahwa intensitas tegoran itu mulai meningkat. Jika Anda sudah menegor dalam taraf nasihat biasa, namun orang itu mengeras dalam kebebalannya, maka tegoran itu semakin diperkuat. Dalam tegoran pertama, hal itu dilakukan secara rahasia, di bawah empat mata. Artinya hanya Anda dan dia sajalah yang tahu. Tetapi karena ia tidak berubah juga, sekarang dihadapkan juga kepada orang lain. Artinya kejahatan orang tersebut, semakin disaksikan oleh orang lain. Tujuannya supaya ia tidak boleh menyangsikan atau meremehkan lagi tegoran yang Anda berikan kepadanya.  


Tetapi..........................
“Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” (Mat 18:17). Nah, intensitas tegoran itu semakin memuncak. Di tahap kedua, tegoran itu melibatkan satu atau dua orang lain saja, tetapi jika ia terus berkeras hati dan tak mau bertobat juga, maka dinaikkan lagi kepada level yang lebih tinggi, yaitu di hadapan jemaat. Anda dapat membayangkan, seandainya di Gereja Anda beribadah, ada 2000 jemaat, maka dosa atau pelanggaran orang itu mulai diperlihatkan kepada orang sebanyak itu. Ini goresan yang menyakitkan, sebab manusia memiliki ego, dan ego manusia melindungi dirinya dari hal-hal yang merendahkan atau mempermalukan dirinya. Tetapi lihatlah di sini, Tuhan menyuruh orang berdosa yang mengeras dalam kebebalan hatinya, untuk diperhadapkan kepada jemaat, berapapun jumlahnya.


Kemudian,.........................
“Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah.” (Mat 18:17). Ini fatal! Persis seperti barang gadai yang jatuh tempo. Jika orang berdosa itu diingatkan untuk bertobat, mulai dari empat mata, delapan mata, hingga ratusan mata namun ia tetap bebal dan tak bisa sadar juga, ia distempel sebagai orang yang tidak mengenal Allah. Menaruh label atau merk pada seseorang, lebih keras dari memandang wajahnya dengan muka marah dan mata melotot. “Pandanglah ia sebagai orang yang tidak mengenal Allah” berarti, ia dianggap sebagai orang fasik, bukan saja di depan mata kita, tetapi juga di dalam pemikiran dan pendapat kita juga. Lihat saja: Paulus memberi label atau merk kepada para pengajar Palsu “Anjing-anjing” (Fil 3:2); Petrus menyebut mereka: “Anjing dan Babi” (2 Petr 2:22). Yohanes Pembaptis menyebut orang Farisi dan orang Saduki: “Ular beludak” (Mat 3:7). Yesus menyebut orang  Yahudi yang degil dalam dosa mereka: “Bapamu Iblis” (Yoh 8:44); dan juga menyebut Herodes “serigala” (Lukas 13:32). Jadi tegoran itu mengeras, saat kecintaan akan dosa tidak melunak. Semakin orang berdosa itu tidak melunak, kita diminta untuk semakin mempertegas tegoran itu dan bukan sebaliknya tegoran kita melemah. 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, amarah yang bukan dosa, adalah amarah yang ditujukan kepada sasaran yang tepat, yaitu terhadap dosa, yakni orang berdosa, terlebih-lebih yang degil hati dalam dosanya. Oleh sebab itu, supaya amarah Anda dapat menjadi amarah yang kudus, maka arahkan amarah itu pada sasaran yang tepat yaitu pada dosa, kejahatan, kemunafikan, ketidakadilan dan hal-hal negatif lainnya, bukan pada hal-hal yang hanya bersifat kekeliruan atau keterbasatan manusiawi.



3.   Alasan dari kemarahan

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam “alasan kemarahan” yaitu alasan Eksternal dan alasan Internal. Misalnya, saya marah terhadap si A, karena ia berbuat dosa dan tak mau bertobat. Ini adalah alasan Eksternal. Sedangkan alasan Internal ialah: “Mengapa saya marah pada si A karena degil hati dalam dosanya? Apa yang menjadi dasar pijakkan kemarahan saya terhadap si A yang degil dalam dosanya?” Nah, suatu amarah dapat menjadi dosa atau bukan dosa, dilihat dari alasan Internalnya. Mengapa seseorang menjadi marah, atau apa yang menjadi dasar pijakan seseorang menjadi marah. 

Sebagian orang biasanya marah karena iri hati terhadap orang lain. Mereka merasakkan kesesakan di dalam dada ini, karena melihat orang lain, --apalagi orang fasik--, memiliki hidup yang lebih makmur dari mereka. Hal ini menjadi alasan internal mereka untuk memasang muka marah dan hati geram. Tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa amarah yang didasari atas rasa ketik-puasan, menjadi tidak kudus atau tidak layak dan menjadi dosa bagi Anda. 

Itulah sebabnya Alkitab menasihati: “Jangan menjadi marah  karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik.” (Ams 24:19). “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang.” (Maz  37:1). “Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. (Maz 37:7).


Tidak perlu marah karena orang lain lebih berhasil secara duniawi dari Anda, sebab itu bukanlah amarah yang layak. Amarah yang kudus atau tidak berdosa, haruslah amarah yang berpijak pada alasan kasih atau mengasihi. Jadi mengapa kita marah pada orang yang berdosa dan degil hati dalam dosanya? Karena kita mengasihi. Kasih itu membuat kita tidak sudi, sehingga kita marah.

Misalnya, Yesus memarahi Petrus karena Petrus berusaha menghalangi Yesus untuk tidak menderita penyaliban.  Alkitab berkata: “Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mark 8:33). 

Di sini jelas bahwa secara Eksternal, Yesus marah kepada Petrus karena Petrus menghalang-halangi rencana Allah dalam kehidupan Mesias. Tetapi Alasan Internal atau dasar pijakkan Kristus marah demikian, karena Ia mengasihi Petrus. Demikian juga dengan orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat. Secara Eksternal, memang Juruselamat itu marah karena ahli Taurat dan orang Farisi degil hati dan tak mau berbalik dari kesalahan mereka. Tetapi Alasan Internalnya adalah, karena Kristus begitu mengasihi mereka. Persis seperti yang Allah katakan: “Barangsiapa Ku-kasihi, Ia kutegor dan Kuhajar” (Why 3:19). Dan penulis Ibrani memberitahu kita bahwa: “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:6).
Jadi amarah yang kudus atau bukan dosa, adalah amarah yang beralasan Internal, karena mengasihi bukan karena iri hati atau ketidak-puasan.


4.   Tujuan Kemarahan

Hal lain yang menentukan berdosa tidaknya suatu amarah adalah tujuan kemarahan tersebut. Untuk apa Anda marah pada seseorang? Sebagian orang marah, dengan tujuan supaya orang takut kepada mereka. Lainnya lagi marah dengan tujuan, untuk menunjukkan bahwa mereka bukan orang lemah. Tetapi sasaran-sasaran yang demikian, menjadikan amarah menjadi tidak layak atau tidak kudus. 

Amarah yang layak atau kudus, harus didasari pada tujuan untuk mendidik atau memberi peringatan atau pelajaran, demi sesuatu yang baik bagi orang tersebut. Misalnya Yesus memarahi orang-orang yang berjual-beli dalam Bait Allah. Jelas di sana bahwa, Yesus menunjukkan kemarahan-Nya yang begitu rupa, dengan tujuan, utuk memberi pelajaran kepada mereka bahwa, Rumah Tuhan adalah Rumah Doa, bukan Pasar, apalagi dijadikan tempat berjual-beli yang di dalamnya ada tipu-menipu dan berbagai kecurangan lainnya karena kepentingan bisnis. Sehingga di puncak kemarahan-Nya, Yesus membuka mulut dan berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat Rumah Bapak-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:16).  Markus menyebutnya: “Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun.!” (Mark 11:17). Persis seperti yang dikatakan Alkitab: “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibr 12:10).
Jadi amarah yang kudus adalah amarah yang bertujuan untuk memberi didikan, peringatan atau pelajaran, demi suatu kebaikan bagi diri orang tersebut.


5.   Durasi Kemarahan

Poin lain yang menentukan berdosa-tidaknya suatu amarah, adalah durasi kemarahan tersebut. Durasi meliputi dua hal, yaitu “Start” dan “Ending” atau “Awal” dan “Akhir”. Berapa sering Anda mulai marah? Dan sampai kapan Anda marah?

Pertama; “Start”. Sebagian orang terlalu cepat untuk marah. Pagi-pagi sudah marah, begitu makan siang marah lagi, setelah margrib marah lagi, sementara tidur malam marah lagi. Walaupun marahnya memiliki alasan yang tepat, namun kemarahan yang lekas-lekas dilakukan atau sering-sering dilakukan, tidaklah bijaksana. Sehingga Alkitab berkata: “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” (Ams 14:29);  “Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika  itu juga.”. (Ams 12: 16). 


Mungkin Anda berkata: Mengapa tidak bijaksana jika cepat marah? Alasannya adalah, sebab amarah yang sering-sering dilakukan, dapat menetap di dalam hati Anda dan menjadikan Anda terlatih dalam hal marah, sehingga Anda menjadi “Pemarah” dan karena itu Anda berdosa. Alkitab berkata: “Janganlah lekas-lekas marah  dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh” (Pkh 7:9). 

Jadi ditinjau dari awalannya, adalah bijaksana jika amarah itu tidak selekas mungkin dilakukan, tetapi jarang atau melalui proses pertimbangan-pertimbangan.

Kedua; "Ending" atau Akhir. Amarah yang kudus atau layak, adalah amarah yang tidak menetap di dalam dada. Dalam arti, tidak bertahan lama, cepat berlalu dan mudah sirna. Efesus 4:26, menasihati kita: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa:  janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”


Baik-baiklah memperhatikan titik dua, yang digunakan dalam ayat tersebut. Titik dua diletakkan setelah kalimat “Jangan kamu berbuat dosa”. Artinya, yang dimaksud dengan berbuat dosa dalam kemarahan, ialah membiarkan amarah itu tinggal tetap di dalam hati, atau berlarut-larut di dalam batin. Alkitab berkata: “Orang-orang yang fasik hatinya  menyimpan kemarahan.” (Ayub 36:13). Dengan lain kata, amarah yang dibiarkan lama di dalam hati, menjadi amarah yang berdosa, tidak layak atau tidak kudus. Sebaliknya amarah yang kudus adalah amarah yang tidak tersimpan dalam hati, cepat berlalu dan mudah sirnah.


Lihat saja amarah Kristus di Bait Allah. Yesus pada hari itu sangat marah, tetapi amarah-Nya tidak menetap, melainkan cepat berlalu. Alkitab mencatat bahwa sesudah kemarahan tersebut, malam itu Yesus meninggalkan mereka dan pergi ke Luar kota untuk bermalam di sana. Matius mencatat: “Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.” (Mat 21:17).  Tetapi di ayat selanjutnya dikatakan: “Pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya ke kota.” Dan Lukas menambahkan apa yang dilakukan Yesus di Kota bahwa: “Tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah” (Luk 19:47). Di sini, jelas bahwa Juruselamat itu marah, tetapi Ia tidak mengijinkan kemarahan itu menjadi dosa, dengan membiarkan kemarahan tersebut berlarut-larut, melainkan cepat berlalu dan mudah sirna. 


Jadi amarah Anda dapat menjadi amarah yang tidak berdosa, apabila amarah tersebut lambat dimulai tetapi cepat diakhiri.



 Kesimpulan

Jadi marah dan dosa, adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Suatu amarah bisa menjadi dosa tetapi bisa juga tidak berdosa. Hal ini sepenuhnya bergantung kepada 5 hal yang dikaitkan dengan amarah tersebut.

1.    Sifat kemarahan dalam diri seseorang. Hanya marah saja, atau Pemarah?
 
2.    Sasaran atau objek kemarahan. Marah terhadap orang yang hanya keliru atau terhadap orang yang berbuat dosa?
3.    Alasan kemarahan. Marah karena tidak puas atau marah karena mengasihi?
 
4.  Tujuan kemarahan. Marah supaya terlihat tidak lemah atau marah untuk memberi didikan yang baik?
5.  Durasi kemarahan. Cepat menjadi marah dan lama berlalunya, atau Lambat menjadi marah tetapi cepat berlalunya?

Dengan senantiasa mengingat kelima hal tersebut, maka kita dapat bertindak bijaksana dalam mengelola perasaan amarah yang kita miliki.


Kiranya bermanfaat bagi Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati.


Oleh: 
Ps. Ayub Melkior