Selasa, 22 Agustus 2017

EMPAT (4) ALASAN INJIL HARUS DIBERITAKAN



Kata “Injil” dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan dari kata Yunani “Euanggelizo”.[1] Istilah “Euanggelizo” dalam konteks Yunani bersumber dari istilah kemiliteran. Dua arti yang semula dari kata “Euanggelizo” adalah: (1). Upah yang diberikan kepada pembawa berita kemenangan dari medan perang. (2). Berita kemenangan, yang juga disebut kabar baik. Berdasarkan gagasan ini, istilah “Euanggelizo” atau kabar baik, kemudian dipakai oleh orang Kristen untuk menjelaskan berita tentang Yesus Kristus, yang disebut “Injil” atau “kabar baik” tentang Yesus Kristus.[2] Dalam Kekristenan, istilah “Euanggelizo” digunakan untuk pengertian “berita” yang dikaitkan langsung dengan pengorbanan atau karya Yesus Kristus yang menyelamatkan.[3] Misalnya Rasul Paulus menulis tentang Injil:

“Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” (1 Kor 15:1-8).


Jadi “Injil” adalah: Kabar baik tentang karya Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Injil meliputi kelahiran Yesus untuk menebus manusia dari kutuk dosa; Kematian Yesus karena dosa-dosa manusia; Kebangkitan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia hidup dan Ia adalah pemegang segala kuasa; Kenaikan Yesus ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi manusia yang diselamatkan-Ny, serta kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat tebusan-Nya  supaya tinggal bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan.


Dalam Alkitab, Injil disebut sebagai: Ajaran yang sesuai dengan ibadah (1 Tim 6:3); Berita pendamaian ( 2 Kor 5:19);  Ajaran yang sehat (2 Tim 1:13);  Perkataan Kristus (Kol 3:16); Firman Allah ( 1 Tes 2:13); Firman iman (Rom 10:8); Firman kasih karunia (Kis 14:3; 20:32); Firman kebenaran (Ef 1:13; Yak 1:18);  juga Firman kehidupan (Fil 2:16). Injil bersifat Mulia (2 Kor 4:4); dan juga Kekal (1 Pet 1:25; Wahy 14:6). Injil merupakan kabar kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk 2:10; 11; 31; 32); Kabar Keselamatan (Kis 13:26); Pengetahuan tentang kemuliaan Allah (2 Kor 4:4; 6); dan Kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rom 1:16; 1 Kor 1:18; 1 Tes 1:5). Injil berfungsi untuk membawa sejahtera (Luk 2:10; 14; Ef 6:15); memberi pengharapan (Kol 1:23); Membuat orang percaya bersatu (Fil 1:5); dan menyelamatkan orang berdosa (Rom 1:16; 1 Kor 1:18).


Prinsip fundamental dalam Amanat Agung Yesus Kristus adalah: Injil harus diberitakan. Yesus berkata: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil....” (Mark 16:15). Istilah Yunani yang digunakan untuk kata “Beritakanlah Injil” dalam ayat tersebut, adalah “Kerusate”, dalam bentuk aorist imperative, yang berarti: Memberitakan Injil adalah pekerjaan yang terus menerus dilakukan dan tidak boleh berhenti.[4] 

Secara teknis, pengertian memberitakan Injil atau penginjilan, dapat dilihat dalam penggunaan kata-kata Yunani dalam Perjanjian Baru. Antara lain adalah:


Pertama; “Euanggelizo”.
Pada dasarnya kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru, untuk menjelaskan “berita Kristen” atau “Berita tentang Kristus”. Kemudian dari kata “Euanggelizi” muncul istilah-istilah dalam bahasa Inggris, seperti “Evanggel”; “Evanggeli”; “Evanggelist”; “Evanggelization”; “Evanggelical” dan “Evanggelistic”, yang mengandung arti kegiatan menyampaikan berita kesukaan.[5]

Jadi “Euanggelizo” tidak saja berarti “Injil” tetapi juga berarti mengabarkan Injil atau memberitakan kabar baik.

Fokus utama yang ditekankan dalam istilah “Euanggelizo” adalah, tugas atau pekerjaan mengabarkan Injil,[6]  dan sama sekali tanpa penekanan untuk percaya dalam bentuk apapun.[7] Artinya, “Euanggelizo” menunjuk kepada pemberitaan Injil atau kabar baik tentang Yesus Kristus, tanpa memaksakan kehendak terhadap orang untuk mempercayai berita tersebut.

Misalnya ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil, Ia berpesan: “Apabil seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengarkan perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu..”(Mat 10:14).

Jadi tidak ada unsur pemaksaan atau rayuan dan iming-iming dengan cara apa pun untuk seseorang menerima Injil yang diberitakan. Jika ia tidak mau mendengar dan menerima, ya sudah, tinggalkanlah!

Kedua; “Keruso”, yang berarti berkhotbah atau memproklamasikan.
Kata “Keruso”, adalah kata yang sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan pekerjaan atau kegiatan berkhotbah, yang dihubungkan dengan pelayanan Yohanes pembaptis, Tuhan Yesus dan penginjil-penginjil lainnya dalam gereja mula-mula. Arti dasar “Keruso” ialah, melakukan tugas seorang “kerux” yaitu, seorang utusan resmi dari raja, yang dipercayakan tugas secara formal dan berkunjung dari suatu desa ke desa lain, untuk menyampaikan dekrit dari sang raja.[8]

Jadi dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil atau penginjilan, maka tugas penginjilan adalah tugas formal yang dipercayakan Tuhan kepada umat-Nya yang telah ditebus, untuk menyampaikan berita sukacita kepada umat manusia lainnya. Dr. Yakub Tomatala menegaskan bahwa: “Istilah “Keruso”, menjelaskan tentang kegiatan atau pekerjaan mengkhotbahkan Injil, yang bersifat wajib dan penting, serta harus dilakukan”.[9] Artinya, orang Kriten yang telah ditebus, ditugaskan sepenuhnya untuk memberitakan Injil secara terus-menerus, tanpa alasan apa pun untuk menolak tanggungjawab tersebut.


Ketiga; “Didasko”, yang berarti mengajar.
Istilah Didasko, sering disebut dalam hubungan dengan pengertian memproklamirkan, menubuatkan, dan menasihati, yang berkaitan erat dengan menyampaikan berita.[10] Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan Yesus Kristus. Ia memproklamasikan, menasihati, atau menyampaikan berita dengan cara mengajarkan (Mat 10:7-15; Luk 10:4-12).  Dengan kata lain, memberitakan Injil juga mengandung unsur mengajar. Ini menuntut kejelasan dalam menguraikan atau menjabarkan Injil, ketepatan metode atau pendekatakan, yang digunakan untuk menyampaikan Injil secara benar dan tepat. Oleh sebab itu, seorang penginjil pertama-tama harus memahami ajaran Injil atau “tahu kebenaran”, sehingga ia dapat menjelaskannya kepada orang berdosa. Yesus menegaskan hal ini dengan cara membuka pikiran para murid, agar mereka mengerti kitab suci, sebelum mereka diutus untuk pergi dan memberitakan Injil. Lukas mencatat: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Luk 24:45). Jadi oleh karena penginjilan termasuk mengajarkan Injil, maka murid Kristus dituntut untuk harus tahu kebenaran Injil.


Keempat; “Martureo”, yang berarti bersaksi.
Kata ini banyak dipakai dalam pelayanan gereja mula-mula yang berkaitan dengan pemberitaan Injil. Martureo berarti, menyampaikan kesaksian berdasarkan keyakinan atas dasar apa yang dilihat dan dialami. Dari kata tersebut, muncul istilah “Martyr”, yaitu orang yang menyampaikan kesaksian dengan resiko kematina.[11] Jadi martureo, menunjuk kepada tugas kesaksian yang dilakukan dengan resiko mati atau hidup (Yoh 15:26-27; Kis 1:8; 2:32; 10:39; 22:15; 26: 6, dan 1 Kor 11:26; 15:1-4). 


Di sini, memberitakan Injil, berarti berani berperan sebagai saksi atas apa yang dialami dan diketahui tentang Yesus Kristus, dalam segala keadaan atau situasi. Artinya murid Kristus harus mempunyai pendirian yang teguh dalam prinsip kebenaran di dalam Injil, sehingga dalam keadaan apa pun, bahkan keadaan terancam nyawa, ia tetap tidak berbelok dan mengkompromikan kebenaran Injil yang diyakininya. Stefanus, Petrus, Paulus, Yohanes, dan para pemberita Injil di abad ini, telah mencontohkan demikian. Mereka “rela mati” demi kebenaran Injil yang mereka yakini dan saksikan kepada orang-orang berdosa.


Jadi penginjilan menuntut keberanian untuk berpendirian teguh dalam kebenaran, bahkan dalam keadaan terancam nyawa.

Nah, dari istilah-istilah itu, tersimpul bahwa memberitakan Injil atau penginjilan adalah menyaksikan kabar baik tentang karya Yesus Kristus yang menyelamatkan, berdasarkan apa yang dilihat dan dialami, dengan cara mengkhotbahkan atau mengajarkan kepada orang berdosa tanpa takut pada ancaman apapun.

Ada pandangan tertentu yang berkata: “Supaya orang berdosa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak perlu berbicara mengenai Injil, yang perlu adalah menyatakan kasih kepada mereka dengan berbuat baik dan menunjukkan kehidupan yang saleh.” Anggapan ini cukup familiar dalam kekristenan. Tetapi baik-baiklah memperhatikan bahwa: Memang mengasihi dan menunjukkan hidup yang saleh adalah hal penting, namun hal itu tak bisa menggantikan pemberitaan Injil secara lisan atau verbal. Yang menjadi nomor satu adalah Injil harus diberitakan dengan kata-kata, diuraikan, dijelaskan dan ajarkan kepada orang berdosa.


Mengapa Harus Memberitakan Injil?


Alasan utama Injil harus diberitakan dengan kata-kata, adalah:


Pertama: Supaya karya Kristus untuk menyelamatkan manusia melalui kasih karunia Allah, didengar oleh setiap orang berdosa, sehingga tidak ada seorangpun yang akhirnya binasa karena tidak mendengar, selain dari pada mereka yang memang degil hati dan menolak keselamatan di dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis:
"Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:13-15).


Artinya, keselamatan di dalam dan melalui Yesus Kristus, telah menjadi keselamatan yang terbuka bagi semua orang. Tetapi berita Injil tersebut, harus diceritakan, diuraikan, dijelaskan dan diajarkan kepada orang berdosa, sehingga telinga mereka dapat mendengarnya.

Oleh sebab itu, setiap orang yang telah ditebus oleh Kristus, harus memberitakan Injil keselamatan serta pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus, agar setiap telinga dapat mendengar dan siapa saja yang mau, biarlah ia datang kepada Kristus dan beroleh pengampunan serta keselamatan.


Kedua: Karena Injil merupakan suatu rahasia yang perlu dibukakan, dibeberkan atau dinyatakan kepada umat manusia yang berdosa, sehingga mereka dapat mengetahui dan memahaminya.

Alkitab dipenuhi dengan pernyataan bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, yang dipercayakan kepada orang-orang yang telah ditebus, untuk dibuka atau dinyatakan kepada dunia yang berdosa.

Misalnya Paulus menulis:
“Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25-28).
                                       
“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu  aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah , yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Ef  3:2-7).

“Bagi Dia, yang berkuasa  menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia,  yang didiamkan berabad-abad lamanya.” (Rom 6:25).

“Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu  untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.” (Kol  4:3).

“Juga untuk aku,  supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” (Ef 6:19).

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia  Allah.” (1 Kor  4:1.

Dari ayat-ayat tersebut, terlihat jelas bahwa Injil merupakan suatu rahasia Allah, dalam arti, tidak semua umat manusia mengetahuinya dan tidak semua orang dapat memahaminya. Namun “Rahasia” itu dipercayakan oleh Allah kepada umat tebusan Allah, yaitu orang yang sudah percaya dan diselamatkan.

Oleh karena itu, setiap orang yang telah ditebus, bertugas untuk pergi dan memberitakan “rahasia” tersebut kepada orang berdosa, agar merekapun mengetahuinya, bahwa ada keselamatan di dalam satu nama, yaitu Yesus Kristus dan oleh-Nya manusia yang berdosa dapat beroleh pengampunan atas dosa-dosanya dan menerima hidup yang kekal.

Ketiga: Karena dalam hikmat dunia, manusia tidak mengenal Allah. Oleh sebab itu, Injil yang merupakan hikmat Allah, harus diberitakan dalam arti diuraikan dan disampaikan kepada manusia, sehingga dengan mendengarkan Injil, pikirannya dapat dibukakan dan ia mengenal Allah.

Paulus menulis bahwa: “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. (1 Kor 1:21).

Jadi melalui pemberitaan Injil - yang diuraikan dan dijelaskan dengan kata-kata-, maka orang berdosa yang pikirannya dibutakan oleh ilah zaman sehingga tidak mengenal Allah, dapat mengenal Allah dan diselamatkan.


Keempat: Karena iman yang menyelamatkan orang berdosa, timbul dari pendengaran akan Injil, dan bukan timbul dari perbuatan kasih dan contoh hidup yang saleh.

Paulus berkata: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.” (Rom 10:17). Artinya, dengan mendengar Injil, yaitu Firman yang keluar dari mulut Kristus sendiri, yang dijelaskan melalui kata-kata oleh penginjil, maka orang berdosa dapat beroleh iman sejati dan dengan demikian ia dapat diselamatkan.


 ***
Jadi, selain berbuat baik kepada orang berdosa dan menunjukkan hidup yang saleh, Injil tetap harus disampaikan secara verbal. Alasannya adalah: Sebab orang berdosa perlu mendengar Injil, sehingga timbul Iman; perlu mengetahui Injil yang merupakan rahasia; dan perlu mendengarkan Injil sehingga pikirannya yang dibutakkan oleh ilah zaman, dibukakan melalui Injil yang adalah hikmat Allah.

 ***
Terimakasih, kiranya menjadi berkat bagi saudara dan saya.
Oleh: Ps. Ayub Melkior




[1] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20

[2] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 20-21

[3] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[4] Dr. Marulak Pasaribu, Eksposisi Injil Sinoptik, Malang: Gandum Mas, 2005, hal. 338

[5] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[6] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[7] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24

[8] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 24-25

[9] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 21

[10] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 2, Malang: Gandum Mas, 1998, hal. 22

[11] Dr. Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2002, hal. 25

Sabtu, 22 April 2017

"4 ALASAN LOGIS MENGAPA HARUS PERCAYA PADA TUHAN"

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, 
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” 
Amsal 3:5


Ayat ini memberitahu bahwa, dalam menjalani kehidupan ini, kita dilarang untuk mengandalkan pengertian kita, yakni keahlian, pengetahuan dan perkiraan-perkiraan akal kita sendiri. Walaupun kita mempunyai pengetahuan yang banyak, baik, tinggi dan benar, namun kita diminta untuk tidak mempercayainya sedemikian rupa, seolah-olah dengan pengetahuan itu, kita mampu menyokong diri kita sendiri dan mampu menyelesaikan semua tugas, tanpa bantuan lain.  ”Jangan!” katanya. Melainkan kita harus menaruh kepercayaan kepada satu pribadi, yaitu Tuhan. Meskipun mata kita tak pernah melihat wajah dan rupa-Nya, namun kita diminta untuk  yakin dan berserah diri kepada Dia, dalam segala urusan-urusan hidup kita.

Kita tahu bahwa Tuhan ingin kita percaya kepada Dia dan jangan mendalkan pengertian kita sendiri, tetapi seringkali kita gagal, karena kita merasa tidak menemukan alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Seseorang akan berkata dalam hatinya: “Ah...tidak penting untuk percaya kepada Tuhan.” Lainnya lagi akan berkata: “Percaya sih percaya, tapi faktanya apa?” Dan beberapa lagi akan berkata: “Biasanya percaya pun tidak terjadi apa-apa kok.” Yang saya maksud adalah, sepertinya kita mempunyai alasan-alasan kuat, yang mengagalkan kita untuk percaya kepada Tuhan. Faktor mendasar dari hal ini adalah, karena kita tidak mengetahui alasan yang benar, mengapa kita seharusnya percaya kepada Tuhan dan tidak mengandalkan pengetahuan kita sendiri.

Saya sadar betul, bahwa apabila kita menemukan alasan yang benar untuk percaya kepada Tuhan, hal itu bisa menundukkan rasio atau akal kita dan mampu mendorong keyakinan kita timbul ke atas, sehingga kita bisa yakin dan berserah diri kepada Tuhan dan bukan lagi bersandar kepada pengetahuan, keahlian, dan pertimbangan kita sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah: Lalu apa alasan yang benar, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan? Alkitab menunjukkan 4 (Empat) Alasan, mengapa kita harus percaya kepada Tuhan dan jangan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita.

Pertama; Karena ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara irasional (Melampaui akal kita  atau tak pernah tersebit di dalam Indra-indra kita).

Alkitab katakan: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). 

Akal atau pengertian kita hanya mampu menghasilkan sesuatu sejauh informasi yang kita peroleh; itu pun jikalau memang digunakan dengan efektif. Sementara itu, Allah menyediakan hal-hal baik yang tidak pernah terlihat sebelumnya oleh mata kita, tak pernah terdengar oleh telinga kita, dan tak pernah timbul di dalam keinginan. 

Sahabat saya Ps. Jimmy Gideon, pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikiran saya, untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi hari ini, saya diwisuda sebagai Sarjana Teologi.” Ibu Rachminati Kusumaningrum, seorang rekan saya yang dulunya non Kristen, pernah mengatakan: “Di luar nalar saya, untuk menjadi seorang Kristen dan orang yang diselamatkan Tuhan Yesus, apa lagi menjadi seorang pelayan Tuhan.” Pdt. Ir. Niko pernah mengatakan: “Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menggembalakan jutaan umat Tuhan.” Beliau bahkan menciptakan puji-pujian kepada Tuhan, yang kita kenal dengan lirik: “Siapakah Aku Ini Tuhan”. Demikian juga, orang-orang Kristen lainnya mengalami hal yang sama. 

Sudah sering terjadi bahwa ada hal-hal baik yang disediakan Allah bagi kita, melampaui –pengertian-pengertian kita. Dia dapat memberi kepada Anda suatu hal baik yang belum pernah terlihat sebelumnya oleh mata Anda, tak pernah terbesit dalam pikiran Anda, tak pernah timbul di dalam keinginan Anda, bahkan tak pernah terdengar di telinga Anda. Oleh sebab itu, jangan andalkan pengertian kita, melainkan percaya pada Allah, sebab dari total umur hidup Anda, ada hal-hal ajaib yang disediakan Allah bagi Anda dan itu benar-benar melampaui pengertian Anda.


Kedua; Karena Dia-lah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan.
Kita bisa memperhitungkan sesuatu dengan akal kita, mendoakannya dan menghasilkan yang baik, tetapi Tuhan dapat melakukan kepada kita lebih besar dan lebih banyak dari itu. 
Alkitab berkata: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Ef 3:20).

Lihat saja, kisah Maria dan Marta. Mereka meminta kesembuhan bagi Lazarus, saudaranya, tetapi Yesus menjawab doa mereka dengan memberikan kebangkitan dari kemaatian. Mereka ingin Lazarus jangan lagi merasakan kesakitan di atas pembaringan, tetapi Yesus bahkan memberikan kehidupan dari dalam kuburan. (lht. Yoh 11:1-44).  

Demikian juga, hari ini ada sejumlah orang Kristen yang mengalami perbuatan Tuhan yang melebihi doa, cita-cita, bahkan upaya terbaik mereka. Seorang pemuda Kristen bercerita dalam kesaksiannya bahwa ia meminta dalam doa, agar Tuhan memberikan pasangan hidup yang mengasihi dia apa adanya, tetapi Tuhan bahkan memberikan kepadanya Istri pengasih yang juga cantik dan bijaksana. 

Tuhan bisa memberikan kepada Anda berkat yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat Anda hasilkan dengan analisa terbaik Anda; usaha sungguh-sungguh; bahkan Dia bisa menjawab doa Anda dengan perkara yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dapat kita sebutkan dengan lidah kita di dalam doa.

 Karena itu, percaya pada Tuhan dan jangan andalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan Anda yang tidak seberapa itu, sebab dalam hidup Anda, Allah menyediakan kasih karunia bagi Anda, yang sewaktu-waktu Ia dapat melakukan kepada Anda melampaui pikiran bahkan doa Anda. Ada satu hari, dimana Dia akan memberi Anda perkara yang lebih besar dari yang dapat Anda harapkan dan doakan.


Ketiga; Karena Tuhan yang paling tahu apa yang akan terjadi kelak, sedangkan kita tidak tahu.

Meskipun kita terus belajar dan bersekolah, namun keahlian, pengatahuan dan pengalaman-pengalaman kita, tidak sanggup memperjelas semua yang akan terjadi di hari mendatang. 
Yakobus 4:13-14 berkata: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata hari ini atau besok kami 
berangkat ke kota anu, di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

 
Konteks ayat ini adalah nasihat Yakobus, untuk mencela para pedagang di perantauan (lht. Yak 1:1), sebab orang-orang ini sangat yakin pada keahlian dan perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka berbuat seakan-akan mereka sudah tahu segala sesuatu, sehingga merasa tidak perlu melibatkan atau mengandalkan Tuhan Allah dalam tindakan-tindakan hidup mereka. Keyakinan mereka ini, dinyatakan dalam Lima (5) hal, yang disebutkan dalam ayat 13.

a. Dengan keahlian dan perkiraannya, mereka yakin sekali saat mengambil langkah awal di 
    dalam hidupnya untuk melakukan sesuatu  (‘hari ini atau besok’)
b. Mereka yakin sekali akan tujuannya (‘ke kota anu’)
c. Mereka yakin sekali akan lamanya tinggal di sana (‘1 tahun’)
d. Mereka yakin sekali akan apa yang akan dikerjakannya di sana (‘berdagang’)
e. Mereka yakin sekali akan kesuksesan atau keberhasilannya nanti (‘akan mendapat 
    untung’).

Tetapi Yakobus mencela dan menasihati mereka : Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang hanya sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “JikaTuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak 4:13-14).  

Maksud Yakobus : “Seharusnya kamu menaruh percaya kepada Tuhan dan bukan percaya pada keahlian dan perkiraan kamu sendiri. Sebab kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Lihat! Kamu berpikir kamu tahu apa yang akan terjadi selama 1 tahun di kota anu, tetapi bahkan hari besok saja, kamu tidak tahu. Kamu berpikir kamu tahu bahwa kamu akan hidup lama, selama 1 tahun dan berdagang untuk mendapat untung. Tetapi hidupmu ternyata hanya seperti uap, yang hanya sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Bisa jadi, hari ini juga kamu sudah dipanggil Tuhan.”

Kita adalah manusia yang terbatas. Baik dari pengalaman, maupun perhitungan logika, kita tidak tahu tentang apa yang akan terjadi dengan kita di kemudian hari. Keahlian dan perkiraan kita, tidak sanggup memperjelas bagaimana dan apa yang akan terjadi di masa depan kita kelak. Siapa sih, yang tahu persis di masa mendatang ia akan menjadi seperti A atau B? Dan siapa gerangan yang tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya besok pagi? Kecuali Tuhan, tak ada seorang pun yang tahu! 

Dia-lah yang paling tahu rancangan-rancangan apa dan bagaimana tentang kita untuk hari besok. Dia berfiman: “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera  dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Allah yang paling mengetahui bagaimana jadinya kita di hari depan. Oleh sebab itu, percayai Dia dan jangan andalkan pengertian kita yang terbatas itu, sebab dari total hal baik yang akan terjadi bagi Anda kelak, ada satu hal baik dan besar, yang Allah pikirkan untuk Anda, yang tak pernah bisa Anda hitung dengan akal. 

Keempat; Karena apa yang tidak mungkin bagi kita, mungkin bagi Allah
 
Hal-hal yang kita perkirakan tidak mungkin terjadi, hal itu bisa dibuat oleh Allah sehingga terjadi. Sebab bagi Allah, tak ada yang mustahil. Lihat saja yang dialami oleh Maria dan Elizabeth. Maria adalah seorang gadis yang masih perawan, dan bagi akal manusia, mustahil bila ia bisa mengandung seorang bayi tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki. Sebaliknya, Elizabeth adalah seorang yang sudah berkeluarga, tetapi faktanya ia mandul. Oleh karena itu, bagi akal manusia tidak mungkin ia bisa mengandung dan mempunyai anak.
Tetapi Allah mengutus Malaikat Gabriel kepada Maria dan berkata: Jangan takut Maria. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Demikian juga Elizabet, sanak mu yang mandul itu. Ia pun mengandung seorang anak dan inilah bulan keenam bagi kandungannya. 

Tetapi dengan perkiraannya, Maria menatap Malaikat itu dan berkata: bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Aku ini masih perawan. Lalu Malaikat Gabriel memberitahu alasan mengapa hal itu bisa terjadi, katanya: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Luk 1:37).
Kita harus percaya kepada Tuhan dan bukan bersandar pada perkiraan-perkiraan kita sendiri, karena apa yang kita pikir tidak mungkin, Tuhan dapat membuatnya terjadi. Di dalam kasih karunia Allah, ada satu hal besar di antara sejumlah hal baik yang Anda perkirakan itu tidak mungkin terjadi, akan dibuat oleh Allah untuk terjadi dalam hidup Anda. 


Kesimpulan
Jadi kita harus percaya kepada Allah dan bukan mengandalkan keahlian dan perkiraan-perkiraan kita sendiri, sebab ada 4 alasan logis:
1.    Ada hal-hal baik yang Allah sediakan bagi kita secara I rasional, yaitu tak pernah terbesit di dalam indra-indra kita.
2.   Karena Tuhan sanggup melakukan dan memberikan kepada kita perkara yang lebih besar dari yang dapat kita cita-citakan dan sebutkan dalam doa.
3.    Karena Tuhanlah yang paling tahu apa yang terjadi bagi kita kelak, sedangkan pikiran kita tidak tahu.
4.    Karena apa yang kita perkirakan dengan akal kita bahwa itu tidak mungkin, Tuhan dapat membuat itu terjadi.

Kiranya bisa menjadi berkat bagi Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Oleh: Ayub Melkior, S. Th

Jumat, 10 Juni 2016

"TIGA HAL YANG MENJADIKAN DOA ANDA BERKUASA"


Berdoa adalah sarana yang Allah sediakan bagi kita untuk berbicara dengan Dia. Melalui doa kita menyampaikan permohonan kita kepada Allah dan mengharapkan Dia dan belas kasihan-Nya untuk memberikan apa yang kita minta dari Dia.

Jika saya bertanya pada Anda: "Apakah semua doa kita tidak dijawab oleh Tuhan?" Tentu jawabannya adalah: Tidak! Sebab banyak orang telah menerima jawaban doa dari Tuhan

"Kalau begitu, apakah semua doa kita dijawab oleh Tuhan?" Jawabannya juga adalah: Tidak! Sebab ada juga banyak doa yang tidak dikabulkan Tuhan (lht Yak 4:3).

Kebenaran tentang doa adalah bahwa tidak semua doa kita dijawab oleh Tuhan. Hanya doa yang berkuasa, itulah yang dijawab oleh Tuhan. Oleh sebab itu, adalah perlu untuk kita memahami bagaimana kita berdoa dan doa kita memiliki kuasa, dalam arti dapat dikabulkan oleh Tuhan.


Kitab Suci memberitahu kita bahwa: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16).

Dari penggalan kebenaran ini, kita menemukan Tiga (3) hal yang menjadikan doa kita berkuasa atau dijawab Tuhan.


Pertama; Berdoa dan Bukan Melapor.

Yakobus menyebut hal yang bila dengan yakin didoakan, maka akan sangat besar kuasanya adalah: Doa, dan bukan laporan. Ada beda nyata antara berdoa kepada Allah dan melapor kepada Allah.  Melapor adalah memberitahu Allah tentang segala sesuatu yang terjadi dengan kita dan yang kita perlukan,  dari apa yang dapat kita ingat. 

Pendoa bertipe pelapor, hanya berbicara kepada Allah tanpa melibatkan kehendaknya. Ia memberitahu Allah tentang sesuatu supaya Allah mau, Allah ingin  dan Allah rindu untuk memberikannya, tetapi ia sendiri tidak “merindukan” apa yang ia minta. Pendoa seperti ini, hanya menginformasikan saja kepada Allah, tanpa betul-betul menghendaki, menginginkan dan merindukan apa yang ia minta melalui mulutnya kepada Allah. 

Misalnya ia berdoa meminta kesembuhan bagi tetantangga yang sedang sakit. Hatinya tidak benar-benar merindukan agar tetangganya sembuh dan sehat. Ia hanya melapor saja kepada Allah bahwa orang itu sakit dan meminta tolong agar Allah mau menyembuhkan, tetapi ia sendiri tidak betul-betul merindukan agar orang itu sembuh. Bahkan kadang-kadang, pikirannya pun tidak dilibatkan dalam berdoa. Mulutnya bicara lain, pikirannya memikirkan hal lain. Ia bisa saja berkata: “Berilah kesembuhan kepada ibuku.” Namun pikirannya berpikir tentang jemuran di tali, kambing di kandang, Ayam di dapur dan lainnya. Ini bukanlah doa!

Berdoa adalah berbicara kepada Allah dari diri Anda, yaitu tubuh, jiwa dan roh Anda.  Setiap kata yang Anda utarakan kepada Allah, harus berasal dari: 1). Roh atau batin Anda, dan 2). Disadari oleh jiwa, yaitu pikiran, perasaan serta kehendak Anda, serta 3). Didukung oleh sikap tubuh Anda. Paulus berkata: “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku.” (1 Kor 14:15). Demikian juga, Alkitab telah mengatur bahwa berdoa haruslah disertai dengan sikap tubuh tertentu.  Misalnya: 

1). Menadahkan tangan. Alkitab katakan: “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci , tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Tim 2:8).

2). Berlutut. Firman Tuhan berkata: Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut  dan berdoa, kata-Nya..” (Luk 22:41). “Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar,  lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah. " Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.” (Kis 9:40).

3). Merebahkan badan ke tanah atau Sujud. Alkitab berkata: “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya....” (Mat 26:39).

Memang, hal-hal ini bukanlah suatu hal yang statis, tetapi juga penting dalam doa. Anda tidak harus menggunakan ketiganya secara serentak dalam berdoa, tetapi Anda bisa memilih salah satu dan menggunakannya, ketimbang berdoa dengan tidak beraturan sama sekali. 

Misalnya Anda membuka tangan, atau berlutut sambil mengatupkan jari-jari Anda, atau sujud  ke bawah sambil mengulurkan kedua tangan.  Elia begitu. Alkitab katakan: “Elia naik ke puncak gunung karmel, lalu ia membukuk ke tanah dengan mukanya di antara kedua lututnya.” (1 Raj 18:42). Kemudian Yakobus memuji Elia, katanya: ”Elia adalah manusia biasa sama seperti kita dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa supaya hujan jangan turun dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.” (Yak 5:17-18).  

Jadi selain melibatkan roh dan jiwa, juga harus ada sikap tubuh dalam berdoa, karena Musa, Elia, Yesus, Para murid, bahkan Paulus, semuanya berdoa dengan suatu sikap tubuh dan Doa mereka disebut sebagai “Doa yang sungguh-sungguh”. 

Saat Anda berkata-kata kepada Allah dari dalam roh atau batin Anda, seraya disadari oleh pikiran, dihayati oleh perasaan dan dirindukan oleh kehendak Anda, serta didukung oleh sikap tubuh Anda, maka perkataan Anda adalah sebuah doa sungguh-sungguh yang mengandung kuasa, seperti doa-doa Elia dan para hamba Tuhan lainnya.


Kedua; Menjadi Orang Benar.

Hal kedua yang menjadikan doa Anda berkuasa adalah, menjadi orang benar. Yakobus berkata: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16).

Hidup saleh, yaitu berpikir yang kudus, melihat yang baik, mengucapkan yang benar, berhati tulus, adalah keunggulan yang membuat doa Anda didengar oleh Tuhan yang Kudus. Alkitab berkata: "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong." (Maz 34:16). Memang, kita semua dilihat dan didengar oleh Tuhan, tetapi orang yang memilih berbuat yang benar “diperhatikan” oleh Tuhan. Doanya akan dikabulkan dan masalahnya akan ditangani oleh Allah. 

Lihat saja, Yesus dalam hidupnya sebagai manusia, Ia sama seperti kita, kecuali satu hal, yaitu Ia tidak pernah berbuat dosa.  Dan oleh karena kesalehan-Nya, doa-doa-Nya yang dipanjatkan kepada Bapa di sorga, dikabulkan oleh Bapa di Sorga. Alkitab katakan: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya  Ia telah didengarkan.” (Ibr 5:7). Kesalehan hidup membuat doa Anda besar kuasanya.  

Persoalan seringkali kita tidak didengarkan oleh Allah adalah, karena mulut kita bicara kotor, dolak-dalik, berbohong dan suka melukai perasaan orang lain. Pikiran kita erotis, najis, jahat dan hati kita menyimpan kepahitan, sakit hati, dendam dan niat jahat terhadap orang lain. Yesaya menyebutnya “Dosa dan Kejahatan”, dan memberitahu kita bahwa "itulah" yang menghalangi doa kita kepada Tuhan. Nabi itu berkata:

“Sesungguhnya, tangan  TUHAN tidak kurang panjang  untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu  dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar,  ialah segala dosamu.” (Yes 59:1-2).
 
Hal-hal jahat yang diam-diam Anda buat di dalam kamar tertutup dan diam-diam Anda pikirkan tanpa ketahuan orang lain, mereka hidup seperti arwah dan menjadi perintang atas doa-doa Anda. 

Karena itu supaya doa Anda besar kuasanya, jadilah orang yang saleh dan hiduplah sebagai orang benar. Jangan bicara kotor dengan mulut Anda, tetapi ucapkalah kata-kata yang baik dan benar. Jangan berpikiran erotis dan negatif dalam pikiran Anda, tetapi sebaliknya pikirkanlah yang kudus, yang baik, yang suci, yang murni dan yang positif.  Jangan menyimpan kepahitan, amarah, sakit hati di dalam hati Anda, tetapi sebaliknya, koleksilah di dalam hati Anda janji-janji Allah, nasihat-nasihat yang membangun iman  dan biarkan itu bersesak-sesakkan di hati Anda.

Robek saja poster-poster telanjang yang tertempel di kamar dan buang ke sampah; hapus foto-foto erotis dari HP ataupun komputer Anda dan bersihkan semuanya dari pikiran Anda. Tahan kuat-kuat bibir mulut Anda supaya jangan berbohong atau mengucapkan kata-kata yang jorok. Kepahitan dan berbagai sakit hati yang Anda lem di hati Anda, buka semuanya dan ganti dengan maaf dan sukacita. 


Dengan membersihkan diri Anda dari kejahatan di dalam hati dan dari berbagai dosa dalam perbuatan, Anda menjadi orang yang saleh dan doa Anda akan sangat besar kuasanya. Dia akan mendengarkan Anda dan pasti segera menolong Anda. Kitab suci menjamin bahwa: “TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” (Ams 15:29).



Ketiga; Berdoa Dengan Yakin.

Pada saat Anda berdoa, janganlah hanya bersuara, tetapi setiap kata-kata yang Anda utarakan dalam doa, ucapkanlah semuanya itu dengan keyakinan yang kuat. Ini bukan ngotot dengan tenaga, tetapi mempercayai sungguhan bahwa apa yang Anda ucapkan dalam doa adalah benar dan layak serta pasti diterima oleh Allah. 

Mungkin Anda berkata: “Dari mana kita tahu apa yang kita ucapkan dalam doa adalah benar dan layak dan pasti diterima oleh Allah?" Tahunya dari Tiga alasan utama:

Pertama; Karena apa yang Anda minta, memang dijanjikan oleh Allah. Bacalah Alkitab dan lihat apa saja yang dijanjikan oleh Allah, kemudian mintalah hal-hal itu dalam doa Anda. Misalnya kecukupan makanan dan minuman setiap hari. Hal itu dijanjikan oleh Tuhan bagi kita, jadi mintalah! Saat Anda mengatakan: “Bapa di Sorga, berikanlah kecukupan makanan dan minuman bagi kami sekeluarga pada hari ini”, jangan ragu-ragu lagi, tetapi ucapkanlah itu dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti memberikannya bagi Anda.

Jangan meminta apa yang Tuhan tidak janjikan. Misalnya, meminta agar Suami orang lain dibuat Tuhan menjadi Suami Anda. Itu ngawur.  Allah tidak menjanjikan yang demikian.

Kedua; Karena apa yang Anda minta tidak bertentangan dengan sifat-sifat Allah.  Mintalah hal-hal yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Misalnya, Anda berdoa: “Ya Tuhan, kasihanilah ibuku yang sedang sakit perut dan berikalah kesembuhan baginya.” Nah, Kasih adalah sifat Allah, jadi mintalah demikian! 

Jangan meminta yang tidak sesuai dengan sifat Allah. Misalnya: “Tuhan kutukilah Arnol karena ia telah mengkhianatiku dengan berselingkuh di belakangku.” Itu tidak benar! Sebab Allah tidak mempunyai sifat jahat seperti itu.

Ketiga; Karena apa yang Anda minta memang masih berada dalam kasih karunia Allah. Artinya begini: Anda meminta hal-hal yang memang  sedang disediakan atau akan disediakan oleh Allah; dan bukan yang sudah disediakan atau sudah dilakukan oleh Allah. Misalnya, Anda meminta: “Tuhan buatlah Matahari terbit besok pagi.” Itu tidak perlu! Karena hal itu telah disediakan atau diadakan oleh Allah. Mintalah hal-hal yang sedang disediakan atau yang akan disediakan oleh Allah.

Wawasan Anda dalam memahami  layak-tidaknya kata-kata doa Anda, sepenuhnya terletak di dalam pengenalan Anda terhadap Firman Tuhan dan pengenalan Anda terhadap Allah. Semakin Anda rajin membaca Alkitab, semakin Anda berhikmat untuk membedakan manakah yang dikehendaki Allah untuk Anda doakan dan mana yang tak layak Anda sebutkan dalam doa. Ini menentukkan seberapa kuat keyakinan Anda. Jika Anda samar-samar mengenai apa yang Anda katakan dalam doa, antara apakah itu layak atau tidak, maka keyakinan Anda pun ikut melemah. Iman selalu timbul dari Firman Allah.

Tetapi apabila Anda cukup peka untuk tahu bahwa apa yang Anda doakan adalah layak dan benar, maka keyakinan Anda besar dan dengan demikian Anda telah berdoa dengan iman. Ini menjadikan doa Anda sangat berkhasiat. Yesus berkata: “Apa saja yang kamu minta   dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22); “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mark 11:24). Jadi berdoalah dengan iman atau keyakinan, maka doa Anda besar kuasanya.



Kesimpulan

Jadi doa yang berkuasa dapat dimiliki oleh setiap orang Kristen. Asalkan: 1).  Berdoa sungguh-sungguh, yaitu bukan hanya melapor, tetapi betul-betul berbicara kepada Allah dari dalam roh atau batin Anda, sambil didukung oleh sikap tubuh. 2). Hidup sebagai orang benar, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang najis dan berdosa. 3).  Berdoa dengan yakin, yaitu percaya sungguhan bahwa apa yang diucapkan dalam doa adalah benar dan layak serta pasti diterima oleh Allah. 

Dengan menerapkan ketiga hal ini, maka doa kita menjadi doa yang didengar dan dikabulkan oleh Allah. Amin...!


Kiranya bermanfaat untuk Anda dan juga saya. Tuhan Yesus memberkati.


Oleh:
Ps.  Ayub Melkior